Merakit Asa dalam Diri dengan Memanfaatkan Karunia Tuhan

Manusia ialah makhluk sosial yang diciptakan Tuhan dalam wujud sempurna, hal penting yang perlu diketahui ialah manusia merupakan makhluk yang berkembang. Manusia disebut juga sebagai mahluk adaptif karena ia dapat menyesuaikan diri di tempat ataupun situasi yang baru dijumpai. Perkembangan manusia bersifat sistematis, yang berarti perkembangan manusia bersifat berkelanjutan dan teratur (Papalia dkk, 2009).

Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan kepada sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian atau cita-cita yang berbuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, tetapi diyakini bahkan terkadang, dibatini dan dijadikan sugesti agar terwujud. Segala bentuk harapan akan sejalan pada perlakuan kita, artinya segala bentuk tindakan yang disengaja ataupun yang tidak disengaja akan menjadi dampak dalam harapan kita. itulah mengapa hadirnya kata-kata dari Andrea Hirata “Berpikirlah tiga langkah ke depan, sebelum langkah pertama kamu ambil.” Langkah pertama sangatlah berpengaruh dalam ketetapan akhir sehingga manajemennya harus jelas.

Dalam diri ini kita dianugerahi oleh Tuhan sebagai makhluk yang berakal, maka manfaatkanlah itu. Kebanyakan ahli syaraf memperkirakan kapasitas penyimpanan informasi pada otak manusia berkisar antara 10-100 terabyte. Angka ini diperoleh berdasarkan sebuah perhitungan terhadap neuron-neuron di dalam otak manusia, yang satu sama lainnya mampu terhubung membentuk koneksi sinapsis.
Ketika manusia dilahirkan, ia pasti dilahirkan secara suci tanpa dosa. Hal yang sama dengan pemikiran manusia ialah ketika masih bayi manusia belum mengenal apa-apa hanya saja manusia dikaruniai sebuah “rasa” ditandai hadirnya simbol tertawa (bahagia) atau menangis (sedih atau takut). Dalam sebuah penelitian dalam jurnal Psychological Science tahun 2015. Pada usia 18 tahun, kemampuan dan kinerja otak untuk memproses atau mengolah informasi akan mencapai puncaknya.

Banyak faktor yang terjadi dalam diri kita, seperti dialog kontradiksi dengan apa yang kita inginkan, dengan adanya kontradiksi tersebut manusia haruslah meluaskan segala bentuk yang ada pada diri; pemikiran, hati, pandangan, serta wawasan yang terkandung dalam indera (penglihatan) sehingga apa yang menjadi problem mudah teratasi dengan kepala dingin. Pemanfaatan segala jenis anggota tubuh pasti akan memiliki dampak yang otentik untuk keberlangsungan kita karenanya Tuhan mengkaruniakan segalanya yang ada di semesta ini.

Saya pribadi pernah mendengar sebuah kisah dari seorang pria, kisah itu dibawakan oleh dosen saya pada pertemuan pertama matakuliah filsafat ilmu, Beliau bercerita “Ada sebuah laki-laki yang putus cinta datang kepada Ibnu Sina yang merupakan bapak kedokteran dunia, dia bercerita tentang sebuah putus asa yang dialami karena gagal dalam menjalin sebuah hubungan kasih dengan seorang wanita, lalu Ibnu Sina mengajak pria tersebut ke dalam dapurnya untuk mengambil segenggam garam dan mencampurkannya pada segelas air, pria itupun bertanya “Buat apakah itu?” Ibnu Sina kemudian menyuruh pemuda itu meminumnya kemudian pemuda itu muntah, kemudian untuk yang kedua kalinya Ibnu Sina mengambil garam dan memasukannya ke dalam ember dan menyuruh pemuda itu meminumnya kemudian pemuda itu mengatakan “sedikit asin”.

Singkat cerita pemuda itu diajak oleh Ibnu Sina untuk ke halaman belakang rumahnya dan melakukan hal yang sama kali ini berbeda, sebab garam yang diambil dicampurkan ke dalam sumur yang cukup dalam dan menyuruh pemuda itu untuk mengaduknya lalu menyuruh meminumnya. Kemudian pria itu tidak merasakan sama sekali rasa asin seperti yang di awal dan kemudian termenung.

Hikmah yang terkandung ialah bagaimana cara kita menanggapi masalah yang datang. Jika hati kita hanya sebesar gelas maka kita akan merasakan seperti yang pemuda itu rasakan, jika hati kita sebesar ember tadi maka kita pasti akan merasakan asin (masalah) yang ada dan akan terseret di dalamnya, dan jika hati kita seluas sumur maka masalah itu tidaklah akan mempengaruhi diri kita. Saya harap pembaca dapat mengambil hikmahnya.

Itulah mengapa harapan itu penting jikalau harapan terputus maka kita harus membangunnya lagi dan mengandalkan anugerah Tuhan atas apa yang diberikan kepada kita.

Membaca adalah sebuah kejadian nyata dalam merakit harapan hidup, karena potensi yang dihasilkan mampu membuktikan bahwa manusia akan mencapai harapannya. Kenapa membaca itu perlu? Kita mengambil pembelajaran dari sebuah ayat yang pertama kali muncul di dunia, ayat yang menyerukan manusia untuk membaca atau memiliki literasi. Membaca bukanlah sekadar membaca tetapi bagaimana cara kita mengajarkan diri dan atau mengenalkan diri ini pada sebuah dunia, yaitu apa hakikatnya pengenalan kita sendiri terhadap diri secara nyata.

Dimulai dari niat kita mendapatkan sesuatu dengan ketulusan hati serta berharap kepada Yang Maha Kuasa, sehingga manusia dapat berorientasi lebih karena memiliki pendamping dalam merangkai harapan itu. Penggunaan memori otak yang lebih kurang kapasitasnya sampai pada angka 10-100 terabyte harus dimanfaatkan secara nyata karena potensi yang dihasilkan dari referensi yang ada akan berpengaruh dalam harapan yang akan kita capai. Tidak lupa pula manusia adalah makhluk sosial, pasti kita saling membutuhkan orang lain sebagai peranan dan potensinya dalam mencapai sesuatu. Maka dari itu hubungan (relasi) terhadap keberlangsungan dunia haruslah direalisasikan secara bertahap dengan menjalankan norma-norma agama ataupun pancasila sehingga terciptanya kedamaian dalam diri ataupun lingkungan.

Menginstruksikan pada diri agar tetap yakin adalah modal besar karena dengan keyakinan kita akan mencapai segala sesuatu yang kita inginkan, seseorang yang gagal sebenarnya mereka tidak gagal hanya saja mereka tidak merealisasikan rasa optimis yang berkaitan dengan waktu, peranan waktu sangat berpengaruh dalam mencapai harapan, namun tiada hal yang lebih besar dibandingkan peranan manusia, aksi langsung dan sisanya itulah baru kemudian menyandarkan diri pada sebuah kata, yaitu; sabar.

Semoga dapat mengambil hikmah saudara-saudara pembaca sekalian. Terima kasih.

*Penulis adalah aktivis lembaga Salaja Pustaka Institute. Mahasiswa Ilmu Perpustakaan, UIN Alauddin Makassar

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]
Deprecated: WP_Query disebut dengan argumen yang ditinggalkan sejak versi 3.1.0! caller_get_posts telah usang. Gunakan ignore_sticky_posts saja. in /home/udc10072020/public_html/kolongkata/wp-includes/functions.php on line 5061