Nyiru

“Saya punya impian di depan mata. Saya melihatnya jelas. Saya akan melawan semua yang menghalangiku,” kata perempuan yang memprioritaskan karirnya dibandingkan dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri.

“Saya tidak menghalangimu, tapi meminta waktu untuk bersamamu?”

“Bersama? Kita tak perlu bersama, jika harapan kita tak sama,”

Pertengkaran yang menjadi titik balik dari segalanya. Ibuku yang sebelumnya berfokus pada karier, dan kini hanya berteman nyiru dan beras. Dua benda yang tak bisa dipisahkan dari ibuku. Tiap membayangkan wajahnya, butiran beras serupa bulir air mata ikut tergambar. Bundarnya nyiru serupa lingkaran kisah yang tak kunjung usai. Nyiru dan beraslah yang dapat mendengar kisah kesetiaan dan perpisahaan, tentang suka dan duka, juga tentang hati dan hari. Ya… tentang hari-hari yang selalu makan hati.

Suatu waktu, aku mengintip ke pintu belakang rumah. Lelah perjalanan dari kampung menuju kota masih saja terasa. Ibuku sudah ada di pintu belakang, memegang nyiru, menggerakkan kedua tangannya, sambil bercerita kepada beras.

“Andai saja, anak gadisku tidak datang semalam. Mungkin saja engkau tak kumasak hari ini. Aku takut, dirimu lagi-lagi menjadi bubur, dan enggan berubah menjadi nasi,” katanya sambil membelai beras. “Engkau tahu, aku sama sekali tak menginginkan nasib anak-anakku serupa bubur, lembek dan berair. Lembek terhadap pasangannya, lalu berair mata saat bersedih. Beras, kamu tahu kan? Saya adalah perempuan yang teguh dan tak berair mata,” sambungnya.

Begitulah yang kutangkap dari suaranya. Ibuku, bersama nyiru dan beras. Ibuku tak ingin tidurnya melewatkan ritual penenang jiwa yang dilakukan setiap sore menjelang malam. Sepetak tanah di belakang rumah tempat ibuku meratap dan menepi sunyi sendiri. Ia duduk menampi beras, sesekali menatap kearah barat menyaksikan matahari yang nyaris tandas.

Ibuku pernah berkata bahwa hal tersebut sangat ampuh menjadi penawar rasa rindu, matahari yang nyaris tandas adalah simbol hati yang sedang duka, jingga keunguan simbol rindunya telah melekat dalam ingatan, dan ketika cakrawala telah berganti warna ia mengisyaratkan bahwa rindunya telah tersampaikan. Seperti itulah ibuku menganalogikan perasaannya kepada seseorang yang dulu ia panggil sayang, kini telah hilang dan jadi kenangan hanya karena perkara dunia dan seisinya. Rutinitas yang dilakukan ibuku setiap sore sudah tertanam dihati, fikiran, dan bahkan raganya.

Sejak dulu ia berusaha mencapai nafsu akan kehidupan yang fana, meniru gaya dan warna rambut yang baru, pakaian kekinian, liburan. Berfoya-foya. Karena itulah, ucapan suci berubah menjadi umpatan serapah. Ayah dan ibuku berpisah saat usiaku 12 tahun. Tak pernah terlintas hari itu adalah pertengkaran terakhir ibu dan ayahku, aku masih duduk dibangku kelas VI SD. Harapan menjadi bintang kelas menjadi buyar bak cermin jatuh. Berkeping-keping.

Bagiku, itu menjadi langkah terbaik keduanya. Aku muak. Aku jenuh. Melihat dan mendengar pertengkaran yang tak ada jedanya. Meski dalam hatiku yang paling dalam, keduanya hadir pada hari pengumuman pelulusanku dan menyaksikan diriku dengan segala yang dapat dibanggakan dariku. Jika dilema adalah penyakit, maka aku mengidap stadium akhir.

Bagiku, itu menjadi langkah terbaik keduanya. Aku muak. Aku jenuh. Melihat dan mendengar pertengkaran yang tak ada jedanya. Meski dalam hatiku yang paling dalam, keduanya hadir pada hari pengumuman pelulusanku dan menyaksikan diriku dengan segala yang dapat dibanggakan dariku. Jika dilema adalah penyakit, maka aku mengidap stadium akhir.

Kadang aku berpikir, mengapa Tuhan mengujiku terlampau cepat, sementara ujian sekolah dasar pun belum. Aku belum cukup umur untuk ujian kedewasaan bersikap seperti ini, tapi apalah dayaku yang terlahir dan dibesarkan oleh seorang ibu yang selalu berfikir bahwa semuanya ada karena uang. Bagi ibuku uang adalah segalanya sementara bagiku uang adalah serigala. Bagi ibuku tanpa uang kita bukan siapa-siapa, tapi bagiku uang membuat kita tak bertegur sapa. Ibuku seperti dibutakan karena uang, sementara diriku dibutakan oleh sikapnya. Aku menjadi pendendam atas sikapnya. Dendam terhdapanya, tapi mendengar ucapannya kepada beras dan perhatiannya padaku. Aku menjadi paham maksud ibuku.

“Engkau tahu, aku sama sekali tak menginginkan nasib anak-anakku serupa bubur, lembek dan berair. Lembek terhadap pasangannya, lalu berair mata saat bersedih. Beras, kamu tahu kan? Saya adalah perempuan yang teguh dan tak berair mata,” kalimatnya akan terus kuingat. Dan, aku mesti tegar setegar dia.