Nasionalisme, Masih adakah Jelmaan Cut Nyak Dhien?

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-75 tahun. Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tentunya atas kehendak Tuhan yang Maha Esa melalui perjuangan para pejuang dan Ulama, alhamdulillah udara Kemerdekaan masih dapat kita hirup hingga saat ini. Kembali menerawang perjuangan para Pahlawan kemerdekaan Indonesia kala itu, di mana harta dan jiwanya mereka sodorkan dengan ikhlas demi masa depan anak – anak bangsa di hari esok.

Tampaknya hari ini, tidak sedikit anak-anak bangsa  yang melupakan, bahkan tidak tahu sejarah bangsanya sendiri sehingga rasa nasionalisme semakin hari semakin menciut, khususnya di kalangan generasi muda hari ini. Di mana generasi muda pada umumnya lebih banyak dimabukkan oleh game online, K-Pop dan hal-hal lain yang tidak begitu urgen untuk masa depan bangsa Indonesia kedepannya.

Kenyataannya, Nasionalisme muda-mudi bangsa kita tereduksi oleh pengaruh globalisasi Industri yang memang tidak mudah untuk difilter baik buruknya.

Sikap Nasionalisme bangsa Amerika patut di contoh oleh Bangsa Indonesia, di mana Jiwa Nasionalisme bangsa Amerika sudah tidak patut untuk dipersoalkan.

Salah satu riset membuktikan bahwa nasionalisme muda mudi bangsa Indonesia hari ini dipertanyakan dengan mereduksinya rasa patriotisme tidak lain karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman kita terhadap sejarah kebangsaan sehingga belum kuat rasa cinta atau Nasionalisme kita terhadap negeri kita, Indonesia.

Untuk itu, melalui tulisam ini penulis akan memperkenalkan kembali sosok perempuan tangguh yang merupakan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah Cut Nyak Dhien ( Tjoe Nja’ Dhien). Tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh (Perang Aceh). Cut Nyak Dhien merupakan pemimpin perang dari kalangan perempuan, yang gagah berani dengan kobaran Fi sabilillah berada di baris depan untuk melawan penjajah Belanda yang biasa disebut oleh orang Aceh Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). 

Tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Rudolf Kohler yang kemudian langsung menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Kemudian Cut Nyak Dhien berteriak dengan lantang “Lihatlah kalian (orang-orang Aceh)! Tempat Ibadah kita dirusak! Mereka telah merusak nama Allah!  Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita dijadikan budak belanda?” begitulah ucapan Cut Nyak Dhien untuk menyadarkan dan membangkitkan semangat juang rakyat demi terus melawan Kaphe Ulanda.

Setelah ditinggal suaminya yang gugur dalam perang sebagai pemimpin perang Aceh kala itu, kemarahan Cut Nyak Dhien semakin berdegap. Tidak lama setelah itu Cut Nyak Dhien dipersunting oleh Teuku Umar yang juga merupakan Pahlawan Nasional Indonesia. Ketika dipersunting, awalnya Cut Nyak Dhien menolak lantaran ia hanya akan menerima lamaran Teuku Umar jika Teuku Umar membiarkannya tetap ikut berperang melawan penjajah, akhirnya lamaran Teuku Umar diterima, Teuku Umar menyetujui permintaan Cut Nyak Dhien. Cut Gambang adalah anak hasil dari pernikahan Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar.

Tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam perang. Cut Nyak Dhien Berkata, “Demi Allah! Polim masih hidup! Bait hidup! Imam Longbata hidup! Sultan Daud hidup! Tuanku Hasyim hidup! Menantuku, Teuku Majet di Tiro masih hidup! Anakku Cut Gambang masih hidup! Ulama Tanah Abee hidup! Pang La’ot hidup! Kita semua masih hidup! Belum ada yang kalah! Umar memang telah Syahid! Marilah kita meneruskan pekerjaannya! Untuk Agama! Untuk kemerdekaan bangsa kita! Untuk Aceh! Allahu Akbar!”.

Kemudian Cut Gambang menangis karena kematian Ayahnya. Cut Nyak Dhien menampar anaknya sebelum memeluknya dan berkata, “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata kepada orang yang sudah syahid” lalu bergegas memeluk anaknya dengan penuh kasih. Setelah kepergian suaminya, Cut Nyak Dhien masih terus berjuang memimpin perlawanan melawan Kaphe Ulanda  di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. “Selama aku masih hidup, kita masih memiliki kekuatan, perang gerilya ini akan kita teruskan! Demi Allah!” seru Cut Nyak Dhien , sekali lagi kepada Pang Laot”. (Madelon H. Szekely-Lulofs, Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh, 2010).

Pasukan kecil itu masih terus berjuang melawan penjajah hingga tiba masa kehancurannya pada tahun 1901. Saat itu Cut Nyak Dhien sudah semakin tua, penglihatannya mulai rabun, ditambah lagi beliau terkena penyakit encok. Pasukannya semakin berkurang dan mereka sulit mendapatkan makanan. Pada Akhirnya Belanda berhasil menyergap tempat pengungsian Cut Nyak Dhien dan segera menangkapnya. Saat Penglihatannya rabun, Cut Nyak Dhien masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Namun karena kalah jumlah dan sudah semakin lemah, pasukan Belanda berhasil menangkap tangannya. Cut Nyak Dhien yang disergap kemudian dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di rumah sakit.

Dilansir dalam bombastic.com, Dalam masa tawanan pun Cut Nyak Dhien tidak menghentikan usahanya untuk terus berjuang. Ia tetap menjalin hubungan dengan para gerilyawan yang belum menyerah. Karena takut akan munculnya gerilyawan-gerilyawan lainnya, Belanda akhirnya membuang Cut Nyak Dhien ke Sumedang.

Luar biasa kegigihan, keberanian yang sangat kokoh dimiliki oleh perempuan tangguh dari tanah rencong yakni Cut Nyak Dhien. Penulis sengaja mengulas kembali perjuangan Cut Nyak Dhien, karena sosok perempuan tangguh itu yang patut diteladani oleh Perempuan-perempuan hari ini. Dalam buku Kosmologi Perempuan, yang ditulis oleh A.M. Safwan, “Perempuan adalah kader penggerak yang aktif karena mereka memiliki dorongan dari dalam dirinya yaitu cinta dan kasih sayang … Perempuan memancarkan cinta dari dalam rumah jiwanya (hati).”

Betapa pentingnya peran perempuan untuk generasi bangsa, karena setiap lahirnya anak-anak bangsa, perempuan lah yang merupakan madrasah pertama bagi mereka, apa saja yang bisa dipetik perempuan dalam perjuangan Pahlawan Cut Nyak Dhien? Beliau adalah sosok yang pantang menyerah, memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa, ikhlas berjuang demi kemerdekaan, sosok perempuan shalihah yang tidak pernah lepas dari tasbihnya, dan sosok yang tegas juga tangkas.

Jika hari ini hak hak kesetaraan laki-laki dan perempuan masih dipertanyakan, ditambah menyoal emansipasi wanita. Coba kita kembali ke masa lalu di mana Cut Nyak Dhien secara tidak langsung telah membuktikan kesetaraan Perempuan dan Laki-laki, beserta emansipasi wanita. Perjuangan Cut Nyak Dhien bukan kepalang, tanpa beliau harus berkoar-koar untuk menuntut keseteraan.

Perempuan Indonesia hari ini, tentu masih dapat menjelma menjadi sosok Cut Nyak Dhien. Meski hari ini bukan perang fisik yang terjadi, melainkan maraknya perang pemikiran yang mengakibatkan tidak sedikit konfrontasi yang terjadi di masyarakat. Perempuan hari ini dapat membuka ruang-ruang belajar, diskusi dan ruang bermanfaat lainnya untuk memajukan pemikiran-pemikiran perempuan yang sebelumnya masih banyak yang kolot dan jumud. Cut Nyak Dhien secara tidak langsung menghimbau kepada perempuan hari ini, bahwa tanggung jawab perempuan tidak hanya berorientasi di sumur, dapur, dan kasur. Tetapi jauh daripada itu perempuan memiliki tanggung jawab besar sebagai pendidik anak-anak bangsa.

Mirisnya hari ini, perempuan hanya diidentikkan dengan fashion, make up dan skincare. Masih terhitung jari perempuan-perempuan bangsa ini yang benar – benar berkiprah di bidang sosial semata-mata  niatnya untuk masa depan bangsa. Perempuan semestinya tidak hanya merawat tubuh dan rupanya tetapi juga harus merawat dan mempercantik akalnya. Stigma Perempuan itu kaum lemah juga masih melekat kuat pada perempuan, sebenarnya hal ini mampu dihilangkan. Hanya saja memang hari ini Perempuan-perempuan sendirilah yang membuat dirinya dicap lemah. Lantaran sikapnya yang statis di mana selalu bergantung hidup kepada  laki-laki, hidupnya semata-mata didedikasikan untuk laki-laki dan lain sebagainya. Wahai perempuan bangkitlah! Bangsa kita sedang tidak baik-baik saja!