Dia dan Aku

Sore hari lalu lalang kendaraan yang bising, kejar berkejaran suara knalpot sepanjang jalan besar itu. Awan menguning jingga di awal senja yang datang lebih awal dari biasanya. Suara lagu menggalaukan suasana, begitu juga pikiranku semakin sesak memusingkan.

Aku mencoba mengambil pena di ujung meja, dengan perlahan jari ini mengalirkan kata dan tak tahu sampai kapan dia akan berhenti dan lupa.

Layar gawai kembali menunjukkanku sebuah pesan, ahhh ternyata bukan pesan. Hanya imajinasiku saja ternyata.

Aku sebenarnya sedih, bingung dan sedikit galau.

Ana: “Aku malas lihat kamu yang terlalu malas! kamu memang sama seperti sekelompok orang yang hanya pandai berbicara saja tapi tidak pernah mau komitmen. Aku malas dengan ocehanmu yang tidak pernah mendengarku, apa kamu senang memelihara sikap yang bahkan sebenarnya kamu sendiri tak suka?”. Teriakku lemah.

Kata-kata itu kini kembali menjalar di pikiranku, sebenarnya mengapa Aku harus teriak seperti itu. Masih kutuliskan keretakan pikiranku dalam selembar kertas ini, selembar kertas yang putih dan bersih dan tak tergores apa pun jua.

Bisakah Aku sebersih dan seputih kertas ini? kembali kuperbaiki dudukku yang sedari tadi kepala ini bersandar miring di meja, dengan kertas dan pena tepat di depan mata.

Kurapatkan kedua kaki ini dan sambil meluruskannya sejajar dengan lututku, Kuletakkan kedua telapak tangan pada letak belakang pinggangku dan sambil menekannya ke depan.

“Aahhh”, lirihku setelah suara remuk tulang-tulangku menstimulus rasa lega untuk seluruh tubuh.

Aku menoleh sebelah kiriku terlihat sebatang pohon besar dengan bunga-bunganya yang merah lebat begitu indah dipandang dan menyebarkan wangi harum semerbak juga begitu menyegarkan.

Yah itu sedap malam, ia mulai mengeluarkan pesonanya lebih awal di sore ini.
“Kamu dari mana saja, Ana? Aku mencarimu sejak tadi, dan sekarang pun gawaimu masih mati”.

“Ohh ya maaf, Aku ke sini karena tugasku”, jawabku.

“Kamu sedang memikirkan apa? Jangan sampai pikiranmu membuatmu lemah, Ana”.

“Iya Aku tahu, tapi kadang Aku berpikir kalau pikiranku seakan obat bagi gundah dan masalahku, kadang Aku juga percaya kalau menulis juga jadi curahan dan representasi untuk perasaanku”, ceritaku.

“Hahaaha, kamu benar sih. Tapi aku cenderung sedikit berpikir kalo ada masalah”.

“Yeeyy, sebenarnya itu bukan masalah tapi memang kamu yang malas berpikir”, jawabku sambil memukul-mukul halus pundaknya.

“Yaa nggak percaya ya? Orang yang sedikit berpikir justru tidak terlalu dirundung tekanan atau stres panjang dengan pikirannnya sendiri, Ana”, terangnya padaku.

“Kita belajar dari SD sampai ke perguruan tinggi itu salah satu tujuannya supaya kita pandai juga kritis berpikir dan menemukan problem solving dari masalah kita. Jadi nggak heran Albert Einstein bilang gini, education is not about looking at the facts but also keep questioning“.

“Aahh aku suka kamu karena kamu cerdas Ana!”.

“Kalau kamu suka Aku hanya karena kecerdasanku, bagiku itu setengah-setengah”, ujiku.

“Hendak mengujiku, ya?”, sambil mengerlingkan matanya padaku

“Aku sebenarnya terlalu mencintaimu, Ana. Tapi aku berpikir kalau itu kulakukan maka aku akan membuat Tuhan cemburu padaku”, tandasnya.

“Wahai para pencinta di lembah dalam sunyi. Langkahilah lembah duri itu dengan keyakinanmu. Percaya bahwa cinta akan membantumu. Jalannya akan berliku tapi cinta tak selalu mencengkeram ragamu. Lepaskan jubahmu dan rasakan cinta menembus dadamu yang hangat. Wahai pencinta yang semu, kuatkanlah keyakinanmu. Tapi jangan mati tak bernilai hanya karena cintamu. Matilah engkau bagai sebatang kayu kering yang jatuh di pinggir jalan. Kayu yang terbakar menjadi abu namun telah memberi kehangatan pada makhluk Tuhan Yang Esa”, syairku dan seketika kami berdua diam memangku kata.

“Aku nggak tahu mau bilang apa, Kata-katanya indah tapi keindahannya belum menjelaskan maksud syairmu. mau kuperdengarkan yang lebih indah?”.

“Ayo coba!”, pintaku setengah memelas

“Pohon Mangga, oh pohon Mangga. Bisakah engkau mendengarku? Aku izin duduk di akarmu yang besar. Tapi aku tahu besar dan keroposmu berarti kau akan mati! Apakah besar rasa cintaku padanya pertanda cintaku juga akan mati? Aku bukan sosok yang membeku. Aku bukan juga seorang keras membatu tapi yang kutahu cinta tak akan menjadikan aku semu”, ia tutup syairnya dengan nada dan sentuhan irama yang lembut di telingaku.

“Keren dan elegan. Tapi kok kamu hanya diam dan terpaku padaku?”.

“Itu bukan terpaku Ana, tapi tersihir karena…”, ia tidak melanjutkan kata-katanya.


“Karena apa coba?”. sergahku menagih kejelasan

“Semalam aku salah tidur jadi kepalaku terlalu malas untuk memandang di banyak arah”.

“Ahh, kamu pandai mengalihkan pembicaraan!”.

“Memangnya kamu percaya ya?”. Ia kemudian bertanya balik padaku sambil memandangiku lebih dekat.

“Haahhaa, kamu sibuk Aku perhatikan beberapa hari ini”,tebakku sambil memalingkan wajah untuk sedikit menjaga jarak dari wajahnya.

“Aku tidak sibuk, kamu kali yang sibuk jadi jarang bertemu aku kan?”, ia bertanya padaku sambil menekuk telapak tangan kanan pada dagunya dan memandangiku dengan kedua bola matanya yang hitam kecoklatan bah seekor rusa jantan yang sedikit sipit, alisnya hitam lurus bagai tertancam kuat. Bibirnya agak merah muda kecoklatan dan tipis, hidung bangilnya serta kedua sisi pipi yang sedikit gendut membuatku lebih nyaman ketika memandanginya.

Kurasakan detak jantungku dan aliran darah hangatku menyirami seluruh sisi badan ini, hanya saja kedua tanganku mendingin terutama bagian telapaknya, maka kurapatkan keduanya.

Dalam diam itu, ia kemudian melanjutkan kata-katanya
“Wahai engkau Sang Bidadari yang berbentuk manusia, dapatkah kau tunjukkan padaku danau indah yang sering engkau kunjungi?”.

“Kalo kamu mau pergi ke sana, kamu harus bisa jawab pertanyaanku!”, tantangku sambil kulemparkan pandanganku padanya

“Silahkan kamu bisa bertanya apa pun, Ahahahaa”. Ia menutup dengan tawanya.

“Kamu, umurmu berapa?”.

“Loh, kok kamu bertanya hal yang sudah kamu ketahui”.

Ia melanjutkan,
“Ya jelaslah aku adalah bagian jiwamu. Aku telah lama mengenalmu, aku kan 21 tahun”.

“Memangnya kita seumuran?”, tanyaku.

“Ya iya dong Ana, pikiranku yang bertumpuk membuatmu lupa hal kecil tentangku. kemarilah dan bersandarlah pada pundakku, jika kamu merasa terlalu berat menjalani hidup berbagilah padaku, jika kau ingin mencurahkan semua keluh kesahmu rengkuhlah aku. Aku akan selalu ada untukmu. Karena aku adalah sketsa hidupmu. Tak perlu terburu-buru mencintaiku”.

“Pandangilah aku, bicaralah pada hatiku, maka aku akan mendekapmu dan melindungimu. Ana”, ucapnya tak terdengar pun sedikit getar pada warna suaranya, seluruhnya begitu amat halus penuh tulus membisikiku.

Mendengar kata-katanya hatiku bergetar haru juga bercampur bahagia. Tak kusadari air mataku tumpah di pundaknya.

Ingin Aku menangis sepenuh keinginanku namun Aku tahu ‘Dia’ hanya sketsa imajinasi yang kupeluk dalam bayangan pikiranku.