Merengkuh Mahkota

Di setiap rembulan
ia menuntut canggaan atas dirinya
di saat kirana candra menerpa pipinya
Masa itu jua ia kobarkan tekadnya

Mengempik mahkota-mahkota
Yang kala bahari begitu ia dambakan
Sampai musim demi musim
Menjelmakan kelampauannya
Patik . . . .
Patik . . . .
Patik . . . .
Gumamnya di setiap purnama
menenggelamkan hajatnya

Apatah daya insan berbudi itu
Intuisi-intuisi telah marak membuatnya
dibuai oleh tipu muslihat dari abad
ke abad Memang tiada hentinya

Namun tekadnya begitu statis
Tekadnya telah membengkak
Sehingga ditelan masa
Tetap tiada henti ia senantiasa
Membuatnya mekar meski telah
sekian kala melayu

Mahkota-mahkota itu akan segera
direngkuhnya agar ia dapat menonjolkan
Seuntai bibirnya yang dulunya kaku
kemudian melentur

Mahkota-mahkota ia rengkuh
semata betapa demi ia
Lamun bakal dwi insan
“Bismillah” Tukasnya!