The Wings of Death

Aku sebenarnya terlalu malas untuk mendengar pertengkaran orang tuaku, setiap hari bahkan hal yang sepele sekalipun selalu diperdebatkan. Aku merasa kasihan terhadap ayahku. Walaupun selalu dibentak, dimaki, dan direndahkan oleh ibuku, ayah hanya menjawab, “Jangan dibesar-besarkan, nanti didengar anak-anak”. Jawabnya dengan nada halus, “Kamu itu kalau jadi ayah, nggak usah nyalahin aku!” Jawab ibuku dengan suaranya yang lantang, “Sudah-sudah, suaramu dipelankan, nggak baik kalau didengar anak kita”. Ayah masih menjawab dengan nada halus. Yah benar, hanya ayahku yang memperhatikan kami. Oh yaa, sebelumnya namaku Dinda, aku seorang mahasiswi pada salah satu perguruan tinggi negeri. masa kuliahku tinggal beberapa bulan lagi aku akan selesai. Adikku bernama Dista, Dista memiliki sifat lugu, cerdik, dan menggemaskan. Ia selalu bertanya kepadaku tentang apa saja, termasuk masalah orang tuaku. “Kak, kenapa ibu kok belum pulang?” Dengan suaranya yang manja sambil menarik-narik lengan bajuku.“Iya dek, ibu pasti pulang kok. Cuman ibu sibuk aja sekarang, jadi pulangnya telat”. Jawabku lembut.“Terus kenapa hanya ayah yang selalu pulang cepat, kok ibu nggak?” Tanya Dista penasaran.“Iya dek, kan bapak nggak terlalu sibuk. Tapi, ibu mungkin banyak pekerjaannya di Kantor”. Jawabku sambil membelai rambut adikku yang panjang.“Ohh, jadi gitu. Tapi, Dista mau ibu bawa hadiah nanti”. Jawabnya lugu.Dista adalah adik perempuan yang sangat imut buatku. Walaupun, orang tua kami selalu bertengkar, Dista tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Memang dia masih kecil, umurnya masuk lima tahun pada bulan Januari kemarin. Betapa berkecukupan hidupku, ayahku seorang pengusaha rental mobil dan ibuku seorang direktur perusahaan besar swasta, sehingga kebutuhan kami selalu terpenuhi. Terlepas dari semua itu, kebahagiaan kami terpenuhi dalam kelimpahan fisik. Namun, terasa hampa tanpa kasih sayang yang lebih dari seorang ibu. Ibuku terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan kurang memperhatikanku, khususnya Dista adikku.Waktu berjalan begitu cepat bagiku, hari berganti hari dan bulan berganti bulan tanpa peduli desiran perasaan dan jiwaku, tak terasa sekarang aku telah lulus dengan predikat Cumlaude dan satu hal lagi yang menambah kebahagiaanku yaitu aku mendapatkan beasiswa S2 untuk melanjutkan studiku pada Harvard University (USA), cita-cita yang dulu aku dambakan kini telah menjemputku. Aku sangat bangga dapat memberikan kebahagiaan kecil bagi orang tuaku. Walaupun, sebenarnya aku tak ingin berpisah dengan Dista adikku, ibuku, dan khususnya ayahku. Akan tetapi, karena demi masa depanku mereka merelakanku. Pada suatu pagi di hari keberangkatanku suara itu terasa begitu lembut di telingaku.“Din, Din bangun nak, kamu bisa terlambat nanti”. Suara ayah membangunkanku untuk sarapan.“lya yah, aku turun sebentar lagi”. Jawabku parau sambil merenggangkan tanganku.“Ayah dan ibu tunggu di meja makan”. Ayah membalas dengan nadanya yang lembut.Setelah mandi, menyikat gigi, dan memakai pakaianku dengan mantap, tak lupa pula koper dan barang-barangku yang lain paspor, buku, visa, dan sebagainya telah terkemas dengan dibantu oleh ayahku. Akupun bergegas menuju meja makan. Setelah hampir sampai di meja makan, dengan cepat ayah menarik kursi untukku sambil tersenyum lembut kemudian berkata:“Kemarilah Dinda, biar ayah siapkan sarapan untukmu”.“Iya yah!” Jawabku mengikuti nada lembut ayahku.“Din, ibu pagi ini punya rapat penting. Jadi, ibu nggak bisa mengantar kamu, terus biar ayah nanti yang mengantarmu”. Ibuku membuka pembicaraannya.“Ohh iya bu, nggak apa”. Jawabku. Walaupun aku sedih dengan hal itu.Selesai sarapan, aku kembali memastikan jika semua barang-barangku tak terlupa, pun walau sudah jauh-jauh hari kusiapkan untuk keberangkatanku. Dengan semangat dan kesigapan ayahku yang sedang mengangkat barang-barangku membuatku merasa sangat bangga serta terharu, ingin sekali kumenangis melihat sosok yang begitu penyabar dan penuh dengan kasih sayang.Setibanya di Bandara Salahuddin, ketika ku injakkan dan melangkahkan kakiku, aku merasa kaki ini begitu berat dan terpaku ke bumi. Hati ini merasa begitu berat untuk meninggalkan Dista, ibu, dan ayahku. Tapi, ku teguhkan hati dan percaya bahwa firasatku ini hanyalah rasa berat untuk meninggalkan mereka yang kucintai.“Din, ayah mau bilang kalau di sana. Jangan lupa untuk shalat, makan teratur, dan belajar yang rajin. lnsya Allah ayah dan ibumu. Walaupun, ibumu nggak sempat mengantarmu, akan selalu berdo’a untuk masa depanmu, Nak”. Ayah menasihatiku.“lya Yah, Dinda akan selalu ingat nasihat-nasihat ayah dan ibu!”. Pungkasku dengan semangat.Ku cium dan salami kedua tangan ayah, kemudian ku balikkan badan. Namun, terasa kaki ini kembali terpaku ke bumi, ku menaiki tangga pesawat seraya melambaikan tangan kepada ayah yang seorang diri berdiri di bawah sana. Kemudian, kucoba menarik napas dengan perlahan dan duduk dengan tenang. Setelah 10 menit menunggu pesawat lepas landas, gawaiku berdering tetiba, ku angkat, dan seketika tiba-tiba seluruh tubuhku lemas dan serasa tidak percaya dengan apa yang kudengar baru saja, nafasku tersengal sesak. Aku turun dan berlari keluar sambil menangis tersedu-sedu, sekencang-kencangnya, hatiku rubuh. Ayahku kecelakaan dan telah meninggalkanku serta keluargaku untuk selama-lamanya.Setelah kepergian ayah, aku selalu mengurung diri di kamar. Menangis dan mengingat kembali masa yang pernah ada dengan ayah. Beberapa hari melihat keadaanku, ibu mendekati dan mulai perhatian kepadaku dan Dista.“Din, sebenarnya ada sesuatu yang ibu ingin sampaikan. Ayahmu dulu adalah seorang yang baik hati dan sangat mencintai ibu. Suatu hari ibu pulang kerja waktu larut malam, dan seorang preman memperkosa ibu, kemudian ibu mengandung kamu, dan orang yang mau menikahi ibu adalah ayahmu”. Ibu menangis tersedu-sedu dan menyesali setiap sikap yang ia lakukan pada ayah. Air mataku berlinang di pelukan ibu. Hatiku remuk, jiwaku sekarat tanpa sosok ayah di sampingku.

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]