Meniti Sel-Sel Peradaban

“Aku adalah bagian dari semua yang telah aku baca.”-Theordore Rosevelt, Presiden Amerika ke-26.Lagi dan lagi literasi kian dibumikan, rentetan anggapan menggeluti pikiran sepertinya beradu keras, kasihan Ensephalon, bernalar, memikirkan insan. Dengan segala argumen yang diutarakan, sebagian berpendapat bahwa literasi memang tak perlu basa basi tapi hanya perlu aksi. Seperti sedang dihantam semangat gerakan membumikan. Apa kabar jiwa-jiwa yang lemah? Masihkah kuat dengan gebrakan pergerakan? Terngiangkah dengan kutipan Mohammad Hatta “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas..” Literasi memang perlu aksi tapi kurang tepat jika kita sebut tidak perlu basa-basi, terbayangkah sebuah cerita tanpa prolog? Elokkah sebuah cerita ketika langsung epilog? Perumpamaannya seperti itu. Segala bentuk basa-basi notabenenya adalah bentuk aksi yang tidak nyata dan tak kasat mata yang dilakukan oleh para penggiat. Segala bentuk basa-basi tersebut dilakukan tak lain untuk mematahkan statement bahwa literasi, membaca, menulis dan semacamnya adalah kegiatan yang membosankan, “Mending nonton konten, mending stalker, ah mending kepoin dia” tak jarang rentetan kalimat tersebut sudah tak asing lagi di telinga kita. Mending visual, “katanya”. Segala embel-embel literasi, mulai dari definisi hingga manfaat dan keasyikan yang diperoleh harus dibumikan, beranjak dari kata kejenuhan hingga ketagihan. Literasi sangat penting , karena literasi sangat erat kaitannya dengan peradaban, setidaknya setiap manusia bisa bercengkrama dengan aroma buku-buku peradaban, bisa bersahabat dengan setiap aksara, setiap kata hingga cerita. olehnya setiap manusia bisa beranjak dari pola pikir negatif dan sadar akan pentingnya literasi. pentingnya membaca untuk membuat peka juga pembaca agar menulis untuk menuntun orang agar peka, ibaratnya literasi bagaikan sel-sel jiwa kehidupan, energi positif menuju peradaban, yang merupakan unit terkecil struktural dan fungsional kehidupan, tanpa rentetan struktur maka tidak dapat menjalankan fungsi dengan semestinya sehingga yang ada hanya kebiadaban. Literasi sangat penting, baik itu berupa basa-basi maupun aksi, meniti sel-sel peradaban sangat penting untuk kemajuan setiap insan dan kemajuan zaman.