Hukum Adalah Akal & Intelektual yang Bernafsu

Ada begitu banyak tubuh-tubuh yang berhiaskan jas yang rapi. Ada begitu banyak manusia yang menutupi kepala-kepala berhiaskan teori-teori. Setiap kepala menginginkan kebebasan,  dan kebebasan adalah ruang yang menjadikan manusia merdeka. Namun, tidak semua kebebasan manusia menuntun pada kebenaran yang hakiki. Dalam keadaan seperti inilah manusia ditundukkan oleh potensi akal atau nafsu.

Manusia berkembang dan bertumbuh lebih dekat dengan dunia, begitu pula sesuatu  yang diciptakannya. Gedung mewah yang menantang langit, rumah-rumah yang menutup atap mesjid. Mobil, motor, sepeda, teknologi dan segala macam kemajuan yang diciptakan oleh manusia. Pengalaman dalam kehidupan, dari manusia jahat yang membutuhkan makan di depan warung menunggu sisa-sisa makanan, sampai manusia baik yang membutuhkan kekuasaan di depan istana para penguasa menunggu agar keinginan yang berlebihan dapat terpenuhi.

Dewasa ini, demokrasi menjadi komedi. Akan selalu ada bahaya bahwa orang yang memegang kekuasaan akan berubah menjadi buruk, sehingga sistem terbaik akan turun  menjadi yang terburuk. Bukan suatu kesalahan jika para orang baik menunggu diberi kekuasaan untuk mensejahterahkan rakyat, namun ketika ambisi melibihi potensi dalam ruang tersebut maka segala yang diselimuti oleh naluri-naluri kebinatangan mereka merombak dalam kekuasaan.

Kadang manusia seperti hewan-hewan aneh yang berada didalam lautan, beranak, berkelahi, memangsa dan kemudian mati, demi kekuasaan. Satu-satunya yang menjadi perlindungan terhadap orang yang semacam itu yang dikuasai oleh hasratnya sendiri bagi dia adalah menerima aturan hukum; yaitu hukum yang diberlakukan secara benar. Inilah yang harusnya berwenang bukan orangnya.  Untuk mengadili mereka yang tertutupi oleh ambisi dan hasrat akan kekuasaan.

Hakikat hukum adalah melindungi setiap manusia, melindungi manusia dari kerakusan para penguasa yang dapat disebabkan oleh hasrat dan nafsu yang berbahaya bagi demokrasi. Kenyataan bahwa indikasi hasrat yang cukup jelas dapat dikatakan bahwa ketika manusia menguasai seseorang, memenuhi kita, membuat kita bergembira. Bisakah orang membayangan ungkapan-ungkapan yang sama ini dengan menggunakan konteks hasrat akan seks? Hasrat mengekspresikan diri dalam belaian seperti pikiran diungkapkan melalui bahasa. Seperti itulah hasrat manusia akan kekuasaan. Nafsu yang membuat manusia terikat dan berada dalam bahaya dunia ini.

Kita memiliki kesadaran akan keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan di masa-masa muda teori di kepala kita. Namun, tatkala ia semakin tua ada banyak perkataan yang mulia yang disampaikan si tua kepada anak muda untuk menjadi penerus bangsa yang penurut. Kita terbentuk pada suatu angan akan kebebasan, iming-iming kebebasan itu terbentuk dari pendidikan sampai ke lembaga kampus sendiri. Kebebasan yang hanya terjadi pada dikte-dikte yang diperintahkan oleh mereka yang lebih dulu menduduki dunia itu. Namun, hakikat kebebasan sebetulnya adalah kebebasan berpikir dan menyalurkannya melalui tindakan. Bukannya patuh terhadap segala aturan itu disebut sebagai pembangkan dan mengikuti segala aturan disebut kebebasan yang dilatarbelakangi oleh rasa kemerdekaan. Namun melawan kebodohan yang dipelihara baik oleh penganutnya.

Hukum dibuat menjadi akal yang sangat bernafsu. Memilah-milah kepada siapa yang hendak di buat menjadi kaku dan lemah. Dan tunduk kepada mereka yang memiliki kekuasaan. Semacam mastrubasi yang eksis, merasakan kepercayaan, pekerjaan; ketakutan dan kebebasan untuk bertindak. Pada saat orgasme; dua kompenen ini bertentangan kepada manusia yang melakukan masturbasi, dialah sang penjahat yang memperkosa sekaligus sang (alat) itu membiarkan dirinya diperkosa, kata jean paul sastre. Seperti hukum yang dijadikan alat oleh kekuasaan untuk suatu pemenuhan hasrat jahatnya.

            hukum akan mengadili manusia-manusia yang bangga akan kejahatannya. Dan manusia yang lain akan sibuk menuntut negara untuk  menegakkan hukum itu. Namun, adakalanya, saya bertanya pada diri yang sudah lama tertanam pada kepercayaan bangsa yang merdeka terhadap penjajahan. Memperteruhkan nyawa, berkorban demi  bangsa, namun sudahkah kita peroleh kemerdekaan itu dalam diri kita? Jika sebagian tubuh kita yang ada di timur sana menjadi yatim piatu terhadap negaranya sendiri. Ketika meminta keadilan ditegakkan, ia seakan menjadi suatu ancaman negara yang ketika keadilan ia dapatkan maka negara akan hancur.

            sangatlah menggelikan mati demi sebuah kekuasaan, tetapi sangat beralasan mati demi demokrasi. Setidaknnya itu menjadi suatu alasan mengapa kita terus menuntut agar keadilan itu eksis dalam hidup setiap warganegara. Nampak bahwa inilah rezim yang berkuasa di negaraku; cukup adil, tetapi kapan saja saya mencari bukti-bukti, aku mengamati bahwa mereka semua bergantung pada bukti yang diberikan orang lain. Saya  telah membaca pada buku pelajaran pkn hingga masuk ke jenjang yang lebih tinggi, didepan pintu-pintu gerbang pemerintahan negara, jelas bahwa negara Indonesia sebagai sebuah republik. Ketika sekolah saya rajin membaca undang-undang dasar, hukum-hukum tata negara,  dan peraturan-peraturan hukum; tetapi para sejarawan telah lama mengetahui bahwa kajian tentang hukum-hukum tertulis bukan merupakan sebuah diskripsi tentang cara di mana berbagai institusi sebenarnya beroperasi. Sudah sangat mesti bagi negara hukum yang melindungi demokrasi tidak bisa acuh terhadap keberlangsungan demokrasi itu sendiri.

            Betrand Russel pernah mengatakan bahwa manusia adalah produk dari sebab-sebab yang tidak memiliki batas akhir, bahwa asal-usulnya, pertumbuhannya, perkembangannya, harapan dan ketakutannya, cinta dan keyakinannya, tiada lain kecuali hasil dari gabungan yang kebetulan dari atom atom; bahwa tidak ada perang, tidak ada heroisme, tidak ada intensitas pemikiran dan perasaan, yang bisa menahan manusia dari kuburan; bahwa semua hasil kerja ber abad-abad, semua pengabdian, semua inspirasi, semua cahaya terang kecerdasan manusia, ditakdirkan musnah dalam kematian besar sistem matahari, dan semua prestasi manusia akan terkubur dalam pusaran alam semesta.

Manusia dibekali kekuatan pemikiran dan pengetahuan tentang sesuatu yang baik dan benar. Semua menyaksikan perjalanan hidup yang gila dan mengerikan ini, bahwa semua memperebutkan, dengan cara apapun, bagian yang kita lupa bahwa sesuatu yang singkat menghampiri hidup yaitu kematian yang tak dapat kita tolak.

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]