Tangisan Petani di Pelosok Negeri

Matahari telah menyoroti bumi lumbung padi, cahayanya menimpa dedaunan melewati sisi celah di antaranya. Indahnya pemandangan menenangkan hati dan pikiran dikala carut marut memikirkan masalah keduniaan, pikiran yang tak terlepas dari kungkungan materi.

Di suatu negeri yang indah, yang banyak orang mengatakan sebagai percikan surga karena alamnya yang sangat indah, pantainya, lautnya, gunungnya, sawahnya yang hijau sejauh mata memandang dan sumber daya alam yang melimpah dengan budaya suku bangsanya yang beragam mewarnai bagaikan keindahan pelangi. Itulah Indonesia, Negeri yang kaya, Negeri yang subur tanahnya, bahkan ketika melempar biji-bijian di atas tanah lembab-lembab sedikit biji itu akan akan berkecambah dan akan tumbuh.

Seperti itu yang dikatakan Mentri pertanian Syahrul Yasin Limpo saat membawakan kuliah umum di fakultas pertanian sebuah perguruan tinggi di Sulawesi Selatan, bahkan dia menyarankan setelah memakan buah mangga atau buah yang memiliki biji untuk disimpan bijinya pada tanah-tanah yang agak berair. Dengan harapan biji ini nantinya akan tumbuh.  

Sungguh indah Negeriku, sungguh subur tanahku tetapi tidak seindah kisah cinta anak petani dengan anak pejabat yang notabenenya memiliki harta yang banyak sedang anak petani hanya memiliki sebuah motor butut yang didapat dari hasil jerih payah olah lahan di bawah terik matahari. Timbulnya rasa suka di antara mereka adalah sebuah keniscayaan, namun cinta itu tidak memandang siapa karena itu adalah fitrah setiap manusia.

Mencintai merupakan sebuah pekerjaan yang wajib dilakukan oleh setiap manusia sebab mencintai mampu mengindahkan sebuah tatanan sosial serta mengharmonikan peradaban. Tuhan menciptakan makhluknya dan mencitainya, orang tua mencintai anaknya, suami mencintai istrinya, sepasang kekasih saling mencintai satu sama lain, petani mencintai tanaman yang dirawatnya dengan penuh kasih sayang, diperhatikan sebaik mungkin, sungguh tiada akan terlepas dari cinta.

Abdul Ghani dalam tulisannya yang bertajuk Kesadaran Seremonial ke Kesadaran Kritis mengatakan seandainya seluruh cinta ini dibuang dari hati manusia maka punahlah peradaban semesta. Ketika cinta mampu memunahkan peradaban semesta secara rasa dan kerohanian di sisi lain membunuh petani secara halus adalah pembunuhan secara nyata terhadap kehidupan manusia yang didominasi oleh materi, karena apapun jabatan dan kedudukan manusia di dunia akan selalu membutuhkan makanan untuk hidup, itulah pengertian manusia dalam konsep Al-basyr, konsep manusia sebagai makhluk biologis (makhluk materi). Apakah hari ini petani kita telah layak dalam kehidupannya?

Jika menyingkap tabir pikiran dan melihat kondisi para petani kita akan dapati kata layak itu jauh dari kehidupan mereka apalagi ada data yang mengatakan tingkat kemiskinan di desa itu didominasi oleh kelompok petani. Sukino dalam salah satu tulisannya menegaskan bahwa kelemahan pertanian Indonesia terletak pada kondisi pasca panen di mana hasil pertanian dibeli dengan harga sangat murah, sarana dan prasarana yang kurang memadai, pemilikan tanah yang sempit, akses modal, tingkat pendidikan yang rendah, kurangnya penguasaan teknologi, tingkat keterampilan rendah dan sikap mental petani.

Pada saat ini perhatian terhadap kelemahan kondisi pertanian rasa-rasanya masih terabaikan, keadaan ini dapat diukur dari bantuan pertanian yang belum merata dan menyentuh ke pelosok Negeri. Lain halnya dengan pertanian di Negeri Jepang, Pemerintah sangat aktif memperhatikan kondisi pertaniannya sehingga bisa dilihat sendiri kemajuan pertanian di Negeri sakura tersebut.  

Indonesia sebagai Negara agraris, salah-satu bidang yang mampu memberikan sumbangsi besar bagi perekonomian Negara adalah bidang pertanian. Perlu kiranya diingat kembali bagaimana pada zaman Presiden Soeharto Indonesia pernah menjadi pengekspor beras walaupun kejayaan itu tidak bertahan lama.

Sampai di era sekarang ini pertanian sudah hampir luput dari perhatian. Apakah Pemerintah yang kurang mampu memanfaatkan SDA Negeri ini ataukah SDA petani kita yang kurang kreatif dan inovatif?. Semua itu tentu harus mampu berkorelasi satu sama lain, namun yang dibutuhkan saat ini adalah peran strategis Pemerintah dalam usahanya memperhatikan petani dengan memberikan subsidi, membekali ilmu dan penyuluhan yang rutin serta kebijakan pertanian yang bersahabat juga mendukung masa depan pertanian Indonesia.

Yang juga tak kalah pentingnya adalah pembelaan hak kepemilikan tanah para petani atas pengambilpaksaan pihak swasta yang hendak merubah lahan pertanian menjadi tambang atau perumahan elit, tampilnya Pemerintah adalah bukti masih adanya kadaulatan tanah di Negeri ini.