Kutitip Rindu Untuk Mereka

Akan kuceritakan tentang Mereka

Bandung, 20 Desember 2019

Kupikir hari itu adalah hari mulia untukku di sepanjang 2019

Aku bersamanya, mereka

Mereka asing sejak kita bertemu pandang

Tapi sapa menyapu asing

Dan lebih dekat setelah sapa menyatukan kita

Aku, mereka menjadi kita di kota Bandung

Ribuan tanya ingin kutanyakan pada mereka

Tapi aku tak terlalu yakin, bisakah mereka menjawab

Ingin kubertanya pada negeri

Mengapa mereka seperti ini

Salah siapa? manusia? alam? aturan? atau salah mereka?

Ingin kumenjamin papan, pangan dan sandangnya

Tapi bagaimana bisa, aku siapa? hanya rakyat yang dipandang biasa

Berusaha kuciptakan lengkung bibir mereka

Walau tak satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, atau bahkan satu abad

Hanya satu waktu salat fardu, zuhur 

Halaman masjid raya Bandung jadi saksi kita bertemu, tersenyum, tertawa

Tak peduli ribuan orang menatap, yang aku tau ada bahagia bersama mereka

Berusaha juga kuciptakan suara riang dari mulut mereka

Teriak berebut makan lalu kita tertawa, bersama empat kotak nasi goreng, Walaupun aku tahu tak akan cukup untuk satu tahun

Setidaknya, untuk sekarang, 20 Desember 2019

Tak tahu kapan terakhir kali mereka tertawa dan menangis

Tak tahu kapan mereka lapar dan kenyang

Tak tahu di mana mereka tidur dan bangun

Hanya bisa kutanya pada Bandung

Sempat aku bertanya, di mana orang tua mereka

Meninggal dan perasaan salah berpihak padaku

Entah salah atau benar jawaban itu aku tak tahu

Yang aku tahu mereka adalah anak baik

Tapi beribu mata seakan tak melihat mereka

Berjuta otak seakan tak memikirkan mereka

Bermiliaran tangan seakan tak memberi mereka

Acuh, nampak begitu

Waktu yang mengatur kita untuk bertemu dan berpisah

Maaf, hanya bisa kutemani kalian sebentar

Aku tak ingin berpisah, tapi waktu memaksa

Ah sial, terlalu dalam sayangku pada mereka

Aku belum juga beranjak, sudah takut rindu

Dan ternyata benar, sekarang, Ramadan ini, ada rindu yang mendalam pada mereka, sangat dalam

Aku merasakan lapar seperti yang dirasakan mereka saat tak satu pun tangan yang memberi

Harapanku besar, aku, mereka, menjadi kita yang bertemu kembali

Kuberharap pada pengatur waktu agar kita diizinkan bersama

Kubilang tahan dan kuat sampai Tuhan memberi takdir baik untuk mereka

Di perpisahan itu, mereka menangis

Tangan kotornya menggenggam erat tanganku

Bisu, saat itu aku bisu

Harus berkata apa aku? hanya kukatakan, nanti kita pasti akan bertemu

Walau pun yang mengaturnya adalah waktu

Tapi aku percaya pada Tuhanku. Waktu adalah milik Tuhanku.

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]