Jalan Liku Menuju Tuhan

Hidup di keluarga yang serba ada membuatku terbiasa bermewah-mewah, tak pernah memusingkan esok hari harus makan apa? Besok ada uang atau tidak? Aku tak pernah memikirkan itu semua. Seorang remaja yang cuek akan keadaan sekitar bahkan terhadap keluarganya sendiri. Besar di keluarga yang pemahaman agamanya kurang hanya tahu perihal salat, zakat dsb. Satu hal yang kusyukuri adalah lahir di keluarga ini, mama adalah sosok wanita tangguh yang imannya jauh lebih baik dari kami anak-anak dan suaminya.

Hari itu, masih terekam dalam ingatan saat mama menelfon lalu mengabarkan bahwa rumah yang kami tempati, rumah penuh kenangan itu, rumah tempat kami dibesarkan sudah di ual dan kami harus segera pergi meninggalkan rumah itu. Rasanya sangat menyesakkan, namun apa boleh buat? Marah pun rasanya purcuma. Tetes-tetes air itu mulai mengalir, sembari menenteng tas melangkah menjauh dari rumah kenangan.

Bukankah dalam dunia bisnis adalah hal biasa jika mengalami kebangkrutan? Keluarga ku sedang berada di fase itu. Utang ayah di bank ada, di beberapa orang pun ada dan itu bukan jumlah yang sedikit, dari hasil penjualan rumah itu pun kami membayar utang sedikit demi sedikit dan meminta kelonggaran waktu untuk melunasi. Harta yang satu-satunya tersisa adalah mobil pick up ayah, yang masa angsurannya masih lama.

Kami pergi merantau dengan bermodalkan sisa uang hasil jual rumah dan mobil pick up mengontrak di salah satu rumah kenalan, kami pun mulai merintis usaha dari nol namun ujian dari-Nya masih tak jua berhenti. Hampir setahun kami usaha namun semua hasil yang kami dapatkan nyatanya habis untuk pembayaran mobil, dan usaha pun tak kunjung membaik, ayah tak lagi bekerja. Setahun itu pula mobil ayah harus kami ikhlaskan di ambil keluarga untuk dilanjutkan pembayarannya.

Demikianlah Allah selalu menguji dengan sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya. Dalam perjalanan itu kami mulai memperbaiki diri, mendekat kepada-Nya, segala sesuatu yang disukai oleh-Nya kami lakukan. Saya pernah dengan ceramah salah seorang ustad di media sosial dia mengatakan, berdoa dan bersabarlah atas segala ujian-Nya karena bisa jadi Allah akan memberikan yang lebih baik dari apa yang diambil-Nya dari kita.

Bertahun-tahun kami pindah dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya, siapa yang tak lelah? Sempat terbersit dalam hati ingin menyerah, ingin marah pada-Nya namun berkali-kali kupikirkan,memang apa gunanya marah-marah? Semua masalah akan selesai kalau marah-marah? Nggak kan?. Aku pun masih ingat saat itu, kami hanya memiliki uang untuk beli telur 2 butir dan itu untuk makan 5 orang. Cukup? Alhamdulillah itu cukup untuk kami karena setidaknya kami masih bisa makan.

Saya juga teringat teman yang bercerita tentang kehidupannya yang mewah namun jauh dari kata tenang dan bahagia, sering marah-marah entah karena apa, merasa ada yang kurang namun dia tidak tahu apa. Saat itu pun saya dibuat sadar, bahwa Allah mungkin mengambil harta kami namun tidak menyentuh ketenangan, kebahagiaan dan kesabaran yang kami miliki.

Dalam perjalanan hidup ini, kami menjumpai banyak makhluk Allah yang nyatanya lebih sulit dari kami, menjumpai makhluk yang kebaikannya tak akan kami jumpai di tempat lain, sehebat itu Allah mempertemukan kami. Saat ini, satu kesyukuran karena kami diberi ujian itu, ujian yang menyakitkan namun memberi kekuatan. Diberi masalah satu persatu dibalas kesabaran yang tiada batas oleh-Nya.

Kami pun bersimpuh bersujud pada-Nya, berserah diri memohon pertolongan dan petunjuk dikala Masalah datang silih berganti. Karena hakikatnya manusia butuh Allah, dan terkadang Allah memberi ujian supaya kita kembali mengingat-Nya. Bahagia itu bukan perihal harta yang berlimpah, namun cukup dengan mendekat kepada Allah maka akan dilimpahkan nikmat yang tiada batas dari-Nya.