Keping Rindu

Kau tak akan pernah tahu tentang rerumputan yang menangisi embun di kala cahaya matahari belum lahir di perut langit. Menapikkan rindu yang merajai hati begitu sulit, hancur perlahan, berkeping-keping sebelum mencapai dunia katamu. Mulutmu hanya bisa menganga menyaksikan serpihan hati yang merindu melayang-layang di udara hanya karena ingin mencapaimu. Namun kau tak tampak, tertutupi oleh kabut. Hatiku pun menangis mencarimu di tengah kabut itu. Namun tak jua kutemukan raut wajahmu yang begitu hangat.

Aku terus berjalan. Tertatih. Menghitung langkah kaki. Meninggalkan jejak hati dan kata untukmu. Kelak akan kau baca sebelum angin berhembus menghapusnya seketika. Seperti raut kasihmu di hatiku akan terhapus oleh waktu sebelum kau membacanya. Seperti kelopak merah mawar yang mulai menjadi abu. Perlahan akan terkikis dan menghilang.

Tak ada lagi tetesan air mata untukmu. Telah habis ditelan duka. Sayup terdengar suaramu bernyanyi bersama ombak saat aku bercengkerama dengan laut kemarin. Lalu aku menengadah, adakah kau bersembunyi di balik lipatan awan. Mengintipku melalui celah-celahnya. Atau saat aku duduk di taman, adakah kau bersembunyi di balik dedaunan pohon-pohon ranum itu. Sambil melihatku mengeja huruf demi huruf tentang rindu untukmu. Ternyata, begitu sulit merangkainya menjadi kata tanpamu. Seperti itulah kerinduanku padamu, setiap hari.

Satu musim telah berlalu. Kabut itu belum jua beranjak. Tidak ada lagi airmata untuk menangisimu. Habis ditelan waktu. Dan kau masih saja bersembunyi di tengah kabut atau di balik dedaunan yang mengering. Seperti hatiku perlahan mulai mengering. Merindukan gerimis katamu. Padahal kau selalu bercerita kepadaku tentang rona wajah matahari menyaksikan kisah kita di bawah senja. Aku tertawa. Kau pun jua tertawa hingga bibirmu tak lagi merapat. Namun, sekarang aku hanya bisa tertawa dalam dukaku menantimu dibalik kabut.

Apa kau bisa membaca kerutan yang mulai muncul di wajahku. Ataukah aku sendiri yang tidak bisa melihat wajahku sendiri. Begitu berat menanggung namamu di hati hingga mulutku tidak bisa mengucapkannya. Entah berapa musim lagi aku hidup, hanya menantimu dari kabut itu. Ataukah ajalku telah tiba sebelum kau membaca kisahku di pasir yang aku singgahi kemarin. Cepatlah! Sebelum ia terhapus, aku akan sedih karenanya. Bahkan kadang aku tidak tahu lagi caranya menangis dan tertawa.