Ironi Keadilan di Negeri Kapitalis

Semua manusia cinta keadilan dan benci kezaliman, itu fitrah. Secara fitrah pula, manusia akan cenderung berpihak pada pelaku keadilan dan bersimpati pada pelaku yang terzalimi. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hawa nafsu dan bujuk rayu setan, hingga sepanjang sejarah manusia kita selalu menyaksikan ragam kezaliman dan eksisnya orang-orang zalim. 

Seperti kasus penyidik senior KPK pak Novel Baswedan yang masih ramai diperbincangkan. Sebab, tuntutan 1 tahun penjara yang diajukan Jaksa Penuntut Umum pada terdakwa penyerang air keras dianggap terlalu ringan dengan dalih kejaksaan yang menyebut kedua terdakwa tidak sengaja menyiramkan air keras ke wajah pak Novel. Tak hanya itu, tim kuasa hukum meminta majelis Hakim membebaskan pelaku karena menilai tuntutan Jaksa terlalu berat. Alhasil kritik menghujam dari berbagai pihak, salah satunya komika Bintang Emon yang meluapkan kekesalannya dengan bahasa menggelitik lewat video berdurasi 1 menit 43 detik.

Namun buntut video Bintang Emon yang vocal menyenggol kebijakan, ia kemudian mendapat fitnah menggunakan narkoba dari akun anonim di linimasa twitter. Semakin besar bersuara, semakin besar pula ancaman. Tak salah mungkin apabila berasumsi demikian. Ketika yang dizalimi dan yang membela kezaliman memang semakin dihantui kejadian-kejadian nyeleneh. Lihat saja kelanjutan kasus pak Novel yang terus dipelintir, pengacara terdakwa yang tiba-tiba jadi spesialis mata menyebut bahwa kerusakan mata beliau bukan karena air keras, tapi salah penanganan. 

Awalnya penulis beranggapan bahwa cukuplah vonis setahun menjadi bukti ketidakadilan. Tidak usah lagi dibumbui drama dan teror ala loser. Ditambah pongahnya pemangku kebijakan meminta pelaku bebas, membuat sebagian orang niat pindah Negara saking absurdnya penanganan kasus tersebut. Bahkan pak Novel sendiri ragu bahwa keduanya adalah pelaku yang sebenarnya. Hukum yang adil dalam sistem demokrasi hanya menjadi pasal berdebu. Sebab nyatanya, kasus pak Novel dan sederet kasus sebelumnya juga menyandang notabene hukum yang tumpul ke kawan tajam ke lawan. Seperti pelajar pencuri sandal jepit yang dihukumi 5 tahun penjara atau kasus pasutri pencuri setandang pisang yang dijatuhi hukuman 7 tahun penjara.

Apa kabar dengan koruptor? misalnya, contoh kasus penyiraman air keras, yang sama seperti pak Novel. Pertama, penyiraman terhadap terduga selingkuhan suami dihukumi 3,5 tahun, kasus penyiraman terhadap suami dihukumi 8 tahun, kasus penyiraman terhadap istri dan mertua yang juga 8 tahun dan kasus 2 polisi yang menyiram tanpa motif sekarang minta dibebaskan. Contoh kasus di atas yang cukup membuat geleng-geleng kepala sehingga wajar jika akal sehat meronta mempertanyakan keadilan.

Berbeda ketika Islam menjadi standar, mewujudkan keadilan menjadi bagian dari misi Islam dan kaum Muslim. Islam memberikan serangkaian panduan dan petunjuk serta sistem untuk mewujudkan keadilan itu di tengah-tengah manusia. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempat seharusnya, dan kita sama-sama tahu bahwa Allah adalah zat yang Maha adil sekaligus yang mengetahui keadaan hakiki. Karena itu standar keadilan hakiki harus bersumber dari Allah SWT. Secara lebih khusus, Islam mensyariatkan agar keadilan diwujudkan dalam dunia peradilan dan pengadilan suatu perkara. Islam memberikan panduan yang jika dipenuhi dalam penyelesaian suatu perkara maka vonis yang lebih dekat pada keadilan hakiki akan bisa diwujudkan.

Tentu perkara itu hendaknya diwujudkan menurut hukum syariat yang telah Allah turunkan. Sebab hukum Allah SWT adalah hukum yang paling baik. Tidak ada yang lebih baik dari hukum-Nya. Namun keadilan dalam memutuskan perkara, apapun bentuknya dan siapapun yang terlibat akan terwujud saat syariat Islam diterapkan secara kaffah. Di sisi lain, penerapan Syariat Islam yang kaffah bisa membangun suasana keimanan dan melingkupi seluruh masyarakat.

Dengan itu semua orang yang terlibat dalam perkara, baik yang menuntut dan yang dituntut serta yang membantu keduanya termasuk pengacara, tidak terlepas dari suasana keimanan dan rasa takut pada Allah SWT. Sehingga motivasi dalam berperkara bukan yang penting menang meski dengan segala cara. Akan tetapi semuanya karena mendamba terwujudnya keadilan. Karena itu siapapun yang merindukan terwujudnya keadilan, hendaknya saling bahu-membahu memperjuangkan penerapan Syariat Islam secara kaffah. Wallahu a’lam.