Fresh Ijtihadi: Pondasi Intelektual dan Kecakapan Kaum Muda

 “Dalam setiap zaman pemuda adalah pilar kebangkitan, dalam setiap firqah pemuda adalah pengibar panjinya”. Begitu kata Hasan Albanna dalam menggambarkan apresiasi dan harapan terhadap potensi kaum muda pada masanya, sekarang dan di masa mendatang. Bil khusus terhadap kaum muda muslim yang telah mendeklarasikan diri percaya terhadap pesan Tuhan yang sampai pada Muhammad. Melihat dan menerima pesan itu tentunya bukan hanya dimaknai sebagai aspek religiusitas dan media komunikasi dengan Tuhan akan tetapi memandangnya secara universal dengan mengikutkan rasio agar menampakkan pesan-pesan tersirat yang sulit dicerna oleh mata telanjang tanpa kaca mata akal.

Menyertakan akal sebagai elaborasi dari pemahaman dogmatis agama dan kehausan rasio akan melahirkan khazanah ilmu pengetahuan yang selalu relevan dengan perkembangan zaman dan dapat menanggalkan kejumudan berpikir yang kerap kali mengungkung. Lahir pemikiran-pemikiran yang inklusif dan terbuka, bebas tak terbatas hingga pemikiran itu sendiri yang menemukan keterbatasan jawabannya. Kondisi seperti inilah yang telah mewarnai corak berpikir para cendikiawan muslim di abad pertengahan. Menggabungkan kesarjanaan Timur dan Barat sebagai suatu varian khazanah keilmuan yang sekaligus membuktikan bahwa universalitas islam telah menghantarkannya pada abad kejayaan.  

Tentu romantisme kejayaan masa lalu tersebut tidak meninggalkan kegembiraan yang abadi tanpa adanya ritme Fresh Ijtihadi yaitu senantiasa aktif melakukan pembaharuan pemikiran yang relevan dengan zaman, menghidupkan daya nalar dan sensitivitas sosial setiap saat serta produktif dalam melahirkan inovasi baik berupa produk pemikiran ataupun produk gerakan. Ritme Fresh Ijtihadi inilah yang mesti dijaga oleh kaum muda sebagai pondasi intelektual dan kecakapan merespon segala bentuk tantangan zaman. Karena kaum muda secara otomatis menjadi tumpuan harapan untuk merealisasikan Islam yang sebenar-benarnya di masa mendatang. Yaitu Islam yang senantiasa terbuka terhadap segala corak ilmu pengetahuan, mengapresiasi kebudayaan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari agama yang tentunya sesuai dengan nilai-nilai dasar syariat Islam yang telah mencapai finalisasi aturannya, dan produktif melahirkan kontribusi moril dan materil terhadap sesama manusia. Dengan demikian posisi Islam akan lebih diterima secara global dan lebih menampakkan kemashalahatan kepada semua kalangan yang mungkin itulah yang dimaksud dengan Islam Rahmatan Lil ‘alamin, bahwa Islam adalah rahmat/anugrah/hadiah bagi seluruh yang ada di alam ini.


Kedepannya dan bahkan hari ini,  Fresh Ijtihadi kaum muda dapat termanifestasi menjadi dua pisau kritik tajam. Yaitu kritik terhadap kejumudan tradisi berpikir masa lalu dan kritik terhadap kondisi perkembangan masa sekarang. Segala penyelesaian dinamika keberislaman dan kondisi sosial politik hari ini tidak serta merta dicocologikan dengan apa yang terjadi di masa lalu. Hal itu karena iklim sosiokultural dan atmosfir berpikir antara dua generasi di dua zaman yang berbeda tersebut, juga berbeda. Setiap generasi mempunyai karakter untuk mengelola zaman di mana ia berada.


Pembacaan mendalam terhadap perkembangan dinamika di masa sekarang akan melahirkan sensitivitas kemanusiaan yang tinggi. Kemapanan intelektual dan kecapakan menentukan gerakan berdasarkan hasil analisa masa lalu dan masa yang berlangsung hari ini. Hal itu akan menanggalkan kebiasaan membangun masa depan dari masa lalu yang berubah menjadi sebuah habitus baru yaitu membangun perabadan masa depan dari hari ini. Dengan tetap menjaga ritme Fresh Ijtihadi, hal itu akan menjadi benteng terhadap finalisasi mental dan intelektual di kalangan kaum muda. Tentunya finalisasi tersebut tidak diperbolehkan dalam agama Islam karena dapat menyebabkan keterkungkungan pemikiran atau pembatasan terhadap daya nalar manusia yang kontradiktif dengan penafsiran Qs.Al-‘alaq ayat 1