Hukum Compang-Camping Buah Kapitalisme

Sepandai-pandai tupai melompat, akan jatuh juga. Sepertinya pribahasa ini cocok untuk dua pelaku yang selama ini dicari-cari. Meski pelaku penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan bersembunyi bertahun-tahun, kini ditemukan dan telah diproses di persidangan.
Diketahui, pada 11 April 2017 subuh, Novel tiba-tiba disiram air keras oleh dua pria yang mengendarai sepeda motor. Saat itu Novel sedang berjalan menuju rumahnya setelah menjalankan shalat subuh di Masjid Jami al-Ihsan, Kelurahan Pegangsaan dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Di surat dakwaan disebutkan dua pelaku dijerat dengan Pasal 355 ayat 1 KUHP juncto Pasal 353 ayat 2 KUHP juncto Pasal 351 ayat 2 KUHP. Oleh karena perbuatan dilakukan bersama-sama maka jaksa menambahkan pasal penyertaan yaitu Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Pasal 355 ayat 1 KUHP Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Pasal 353 ayat 1 dan 2 KUHP, 1. Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun, 2. Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 351 ayat 1 dan 2 KUHP, 1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah, 2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Dari rangkaian pasal-pasal itu bila dilihat maka ancaman hukuman paling tinggi adalah 12 tahun penjara yaitu tercantum pada Pasal 355 ayat 1 KUHP. Pasal itu merupakan dakwaan primer yang disampaikan jaksa. Namun Jaksa menyebut dakwaan primer yang didakwakan dalam kasus ini yaitu Pasal 355 ayat 1 KUHP tidak terbukti. Oleh karena itu, jaksa hanya menuntut kedua terdakwa dengan dakwaan subsider yaitu Pasal 353 ayat 2 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Pada tanggal 11 Juni 2020 Jaksa telah menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa dengan hukuman pidana selama 1 tahun. Keringanan hukuman yang dijatuhkan dengan beberapa alasan. Pertama, yang bersangkutan mengakui terus terang di dalam persidangan. Kedua, yang bersangkutan meminta maaf dan menyesali perbuatannya dan di persidangan menyampaikan memohon maaf kepada keluarga Novel Baswedan. Ketiga, telah meminta maaf pada institusi kepolisian. Meski dengan adanya penuturan alasan oleh jaksa, tuntutan hukuman 1 tahun penjara sangat tidak adil. Novel selaku korban dalam peristiwa ini menilai tuntutan ringan tersebut menunjukkan buruknya penegakan hukum di Indonesia karena norma keadilan diabaikan selama jalannya persidangan.

“Saya melihat ini hal yang harus disikapi dengan marah, kenapa? Karena ketika keadilan diinjak-injak, norma keadilan diabaikan, ini tergambar bahwa betapa hukum di negara kita nampak sekali compang-camping,” Kompas.com, Jumat (12/6/2020). Memang sejak awal kasus ini tidak pernah diseriusi oleh para penegak hukum hingga berlalu bertahun-tahun. Sampai pelakunya ditemukan atau bisa saja bukan dia pelakunya, motif (kepentingan) apa sehingga ia berbuat demikian tapi entahlah penulis hanya menduga-duga.

Sungguh berbeda jika kasusnya adalah yang dianggap mengancam NKRI dan tidak sejalan dengan isi Pancasila padahal mereka hanya mendakwahkan syariat Islam. Bahkan sekalipun belum ada bukti, mereka sudah mendekam di balik jeruji. Jika tidak ada hukum yang bisa menyalahkan perbuatannya maka dibuatkan hukum baru. Ini bukan kasus yang pertama. Ketika ada jutaan suara yang berteriak “tegakkan keadilan” mereka para pengendali hukum hanya menganggap angin lalu. Maka betul jika ada yang mengatakan sistem hukum hari ini hanya untuk mereka yang tidak mau diatur oleh penguasa yang sedang mempertahankan kepentingan.

Padahal diketahui bahwa penglihatan korban telah hilang, maka harusnya ada hukuman yang setimpal dengannya. Islam adalah agama yang sempurna, lengkap dengan aturan-aturannya, sehingga setiap pelanggaran akan ada sangsinya. Hukum Islam adalah hukum yang tegas, memberikan jera kepada pelakunya dan juga menjaga kehormatan korban.

Allah berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman, qishash diwajibkan atasmu berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (QS. al-Baqarah: 178). Qishah adalah hukuman yang berbentuk pembalasan bagi pelaku kejahatan setara dengan perbuatannya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah; “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka d idalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya.” (al- Maidah: 45).

Jika hukum yang demikian adil adanya tidak menjadikan kita merasa lebih terjaga, lalu dengan hukum apalagi? sementara sangat jelas terlihat hukum yang diterapkan dalam sistem kapitalisme oleh mereka yang dianggap sebagai penegak hukum telah mencederai kehormatan umat. Tak ada yang bisa diharapkan dari sistem yang dilahirkan oleh akal manusia. Sebab manusia bermain dengan perasaannya sehingga tak mampu menjadikannya adil kecuali hukum yang diterapkannya adalah buatan Allah sang pemilik kebenaran.

Diterapkannya seluruh hukum-hukum Allah atau dengan kata lain berislam secara kaffah tidaklah mampu tercapai jika tidak dengan menggunakan sebuah sistem yang telah digunakan oleh Rasulullah, yaitu sistem khilafah. Maka hanya dengan khilafah umat akan diatur sesuai dengan fitrah dan tidak dengan kapitalisme atau pun sosialisme yang telah terbukti gagal mengatur umat. Wallahu a’lam.