Pembunuh Berdarah Dingin

Di sebuah ruang waktu terlampau jauh maju di abad paling modern, di suatu ujung ruang dan waktu terjebak dalam dimensi yang tak mampu dijangkau oleh manusia terdapat sebuah kota yang memiliki peradaban tinggi bernama Trakea, di sudut kota yang paling terpencil yang tak pernah disentuh oleh manusia terdapat gua berukuran sedang dengan air terjun sebagai pintunya.

Gua itu dikenal dengan nama blumea lacera of the die yang berarti tanaman dari kematian, gua itu dihuni oleh the killer. Pembunuh berdarah dingin bukan kisah tentang manusia yang membunuh sesamanya secara berantai tapi kisah ini tentang blumea lacera si hutan lebat di sudut kota itu.

Bermula dari seorang prajurit tentara bertubuh besar bernama cula kulitnya berwarna hitam dengan sebuah tanduk di tengah kepalanya, tentara itu selalu berkelana ke dalam hutan maut tersebut. Si Cula sangat penasaran dengan misteri pembunuhan berantai di dalam hutan itu. Dia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumah dan kawanannya hanya untuk menyelidiki misteri hutan maut.

Saat dia menjejakkan kakinya ke dalam hutan dia menemukan jejak kaki, dia mendekati jejak itu mencoba menerka milik siapa jejak kaki tersebut. Akhirnya ia berhasil mengetahui asal usul jejak yang ia temukan ternyata jejak itu milik sii perah polisi loreng yang memiliki banyak belang dikulitnya.

Dia terus mengikuti jejak kaki tersebut lalu ia dibuat terkejut dengan pemandangan yang menyapa matanya. Cula melihat si perah terbaring tak berdaya di atas rumput dengan darah di sekujur tubuhnya. Namun anehnya saat cula memeriksa tubuh si perah dia tidak menemukan luka apapun di tubuhnya. Ternyata kematian yang misterius tersebut terjadi sebab tanaman blumea lacera yang telah diberi racun.