Hari Raya Pandemi

Kuni melirik dari balik tirai merah kecoklatan yang lembab dan berbau menyengat di tengah cipratan hujan yang berlangsung sejak malam bisu hingga sore tua ini di rumah barunya, mengiringi pandemi yang kian menjadi-jadi. Sebelum hari itu mengakhiri masa lajangnya, Kuni dan Ota tiada henti saling melayangkan suara padu yang ringkik dan mencekik.

“Coba saja kamu tidak pergi ke negeri di mana cita-cita itu disematkan, tak akan ada pandemi selarut ini, sudah tiga bulan sejak terakhir kali aku bertemu bapakku yang sedang menguli panggul di pasar raya Kalimantan dan harus pula melewati ramadhan dan lebaran tanpanya”. Kuni berkesah ringkik.

“Kalian juga sama bodohnya, kotor dan tidak terawat. Tidur di emperan sungai Mahakam dengan baju yang hanya diganti setiap kali menemukan tempat pembuangan baru yang kebetulan ada baju bekasnya”. Ota membalas judes.

Keduanya berada di persilangan tempat yang teramat jauh. Kalimantan dan Semarang. Mereka memang kerap kali saling berbalas cuitan tanpa kenal waktu dan kondisi, saling menyalahkan. Keluh Ota tersasar di setiap lini masa beranda mayantara. Sedangkan kesah Kuni abadi di hamparan angkasa. Tidak pernah ada pertemuan di antara mereka, bahkan itu lewat niat hati saja. Mereka hanya saling akrab mengenali lewat pandang pikir yang saling menjauhkan wajah. 

Pasar raya Kalimantan April 2020 teramat ramai. Berbagai jenis dagangan dan suguhan non materil memenuh sesaki jalan-jalan lorong dekat pasar yang dialihgunakan untuk menghamparkan jualannya. Kedai-kedai kopi yang becek dan asam dipenuhi suara serak dan raungan garang para kuli panggul dan tukang bentor serta para sopir angkot yang mendesah paksa menyeduh kopinya yang pekat dan panas dengan peralihan nikmat goyangan mulutnya mengunyah pisang goreng sambal terasi sebagai pengisi perut di hari yang muda. Mereka keasyikan dengan kebiasaan semacam itu tanpa menghiraukan pandemi.

Sudah masuk bulan kedua setelah Yuri meneruskan himbauan pemerintah untuk tidak banyak beraktivitas di luar rumah dan mengikuti semua protokol anti virus. Suara jawir sedikit berat dan santai setiap harinya menyeruak dari balik layar kaca, tak terkecuali televisi di kedai kopi itu, di sana juga ada bapak Kuni. Yuri dan kekawannya tidak henti-henti menghimbau untuk masyarakat bekerja dari rumah dan tidak bepergian, namun tidak juga merata bantuan yang dijanjikan. Seperti menyuruh para kaum emperan dan gubuk tua menanak tanah dan bebatuan, menyayur bunga daun jati dengan semur rendang dari dagingnya sendiri.

Bagi para pro Pemerintah mereka akan selalu mendapatkan bagian yang sama bahkan ketika tidak menonton televisi sekalipun. “Gejala dari virus ini adalah batuk, demam, merasa lemas, kurang nafsu makan, sesak napas. Jangan keluar rumah, diharapkan semua masyarakat Indonesia diharapkan untuk work from home, study from home untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Kami dari pihak pemerintah sudah menyiapkan anggaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat”. Begitu kiranya bunyi seruan orang-orang berbatik di televisi.

“ Enak saja mereka asal suruh begitu. Mau makan apa anak istri kita, tidak sedikit pun minyak goreng atau beras yang sampai di depan pintu rumah” Bantah salah seorang sopir bentor. 

Di hari yang remaja di akhir Mei. Pasar raya Kalimantan benar-benar penuh sesak dengan lautan kepentingan manusia. Suara-suara raungan dari setiap sisi dan sudut jualan menggema di langit layaknya ribuan lebah yang sedang berkumpul membuat sarang atau kawanan harimau yang memburu seekor badak. Suara-suara itu tidak tersaring sama sekali. Dua pertiga pengunjung tidak memakai masker dan terus meraung. Bau-bau mulut yang berbhineka itu memenuhi udara yang lembap dan amis di Pasar raya.

“Corona bukanlah tandingan kita. Kita adalah cucu-cucu dari leluhur yang sakti mandraguna”. Celotehan salah seorang penjual ikan. “Ya, memang benar, untuk apa membeli masker. Lebih baik uangnya kita pakai untuk membeli beras”. Sahut pembeli ikan.

“Virus ini hanya berusaha memecah-belah umat. Kita seharusnya lebih takut kepada Tuhan, sebab virus ini juga ciptaan Tuhan”. Ucap salah seorang pengunjung yang lain.

Bapak Kuni, seorang yang tidak berpendidikan semakin larut saja dalam pikiran-pikiran orang lain. Kebimbangan antara pulang menemui anak istrinya dan mencoba peruntungan baru atau terus melanjutkan pencarian nafkah di tempat yang orang-orangnya tak berpikir panjang kini mulai menemukan pemenangnya. Bapak Kuni masih terus saja melanjutkan kerjanya sebagai kuli panggul pasar raya dengan jam kerja pagi hingga malam.

Setibanya di indekos murah sewaannya, setiap malam ia mandi terlebih dahulu lalu mencari makan sembari menyisihkan sedikit upah hariannya untuk ia kirim ke istrinya lewat mobil angkutan yang tiap sekali seminggu melintasi emperan sungai Mahakam. Keesokan harinya setelah berbulan-bulan dengan gaya hidup yang tidak sehat bapak Kuni merasa kelelahan dan sakit. Di saat yang hampir bersamaan setelahnya ia mendengar kabar angin anaknya sedang sakit. Sebulan tidak bekerja dan tidak punya ongkos pulang serta tidak berdaya lagi mengirimkan uang ke istrinya membuat keadaan keluargnya semakin tidak baik saja.

Bapak Kuni benar-benar diselimuti kerinduan dan kecemasan. Ia dilarikan ke rumah sakit dengan gejala batuk, demam, dan sesak napas. Kuni merasakan rindu yang sama dengan bapaknya. Setiap hari setelah hari itu, Kuni selalu melirik dari balik tirai merah kecoklatan yang lembap dan berbau menyengat di tengah cipratan hujan musim pandemi. Setiap hari ibunya dengan rasa bersalah menitipkan setangkai bunga di dekat papan nama ayahnya.