Metamorfosis Januari

Perasaanku padamu ibarat Edelweiss yang tumbuh di puncak gunung. Di tengah kabut. Namun, kau menganggapnya seperti rumput liar yang tumbuh di padang ilalang, selalu saja terinjak oleh kaki manusia. Kau tahu, angin pun akan merintih berlalu di rumput liar itu. Senja akan begitu cepat berlalu hanya untuk menyembunyikan bulir-bulir air matanya karena rumput liar itu. Malam akan panjang untuk memberikan setetes demi setetes embun untuk rumput liar itu agar esoknya tetap bisa melihat matahari lahir.

Perasaan ini akan selalu ada seperti batu yang selalu saja diam. Aku akan menunggumu walau aku tahu menanti kehadiranmu di sisiku untuk mengeja huruf demi huruf tentang hati, bersamaku, sama halnya aku menunggu gerimis di musim kemarau. Kapan kau akan memalingkan wajahmu untuk menatap sejenak mataku yang berbicara karena aku tak lagi mempunyai mulut. Kapan kakimu itu melangkah menghampiri kakiku, mengajaknya melangkah bersama menelusuri jalan-jalan setapak kehidupa. Kapan tanganmu menggamit tanganku dan mendudukkan ragaku di altar kerinduan, lalu kau pun bernyanyi di hadapanku. Akan tetapi, kapan hatimu itu terbuka dan kau membawanya kepadaku dengan wajah, kaki, dan tanganmu itu.

Januari aku mengenalmu. Bulan itu pula aku lahir untuk melihatmu kali pertama. Dua januari telah aku lalui bersamamu. Mengeja huruf-huruf itu di bawah senja yang enggan berlalu dari kisah kita. Melangkah bersama di jalan-jalan setapak kehidupan. Melihat dua purnama di langit bersama ilalang dan kau lupa aku adalah rumput liar itu. Kita duduk di atas altar kerinduan dan saling menatap, saling bernyanyi, saling memaki, bersama-sama mengeluarkan airmata untuk malam, meresap ke dalam tanah dan membuat tanaman ikut bersedih mendengarkan irama kisah kita.

Tanganmu mencengkeram tanganku begitu lembut. Hangat tanganmu hingga merasuk ke dalam hatiku. Lalu kau mengajariku menghitung bintang dengan sepuluh jari yang aku miliki. Sepuluh januari pun tak akan selesai menghitung bintang itu. Kau pun mengatakan kepadaku, “Bintang di langit itu akan selalu ada, seperti aku selalu ada untukmu”. Bersama, kita menerawang langit dan menggapai purnama dengan sepuluh jari kita untuk membawanya ke sisi kita masing-masing hingga fajar baru lahir untukku. Dan aku baru tahu, semuanya hanya rekreasi ilusiku tentang kita.

Esok adalah genap tiga januari yang aku lalui. Ternyata, dua januari telah aku lalui bersama jiwa ilusiku. Dua januari lalu, aku adalah seekor ulat yang menggeliat di rumput liar. Lalu aku melihatmu berjalan penuh kedamaian menginjak rumput liar itu. Aku terus menggeliat mengikuti aroma tubuh dan jejakmu. Berharap wajah, tangan, dan hatimu berpaling menatapku.

Aku menikmatimu di segala ilusiku. Tetapi, aku hanyalah seekor ulat yang dahulu menggeliat. Sekarang terkurung di dalam tirai tipis yang menyesakkan. Hanya bisa bergerak di dalam alam pikiranku sendiri. Aku tahu, wajah, kaki, tangan, dan hatimu itu takkan mau berpaling melihat rumput liar. Esoknya, aku telah menjadi seekor kupu-kupu. Terbang dengan bebasnya mengitari ilalang.

Sejak itu pula aku tidak menginginkan wajah, kaki, tangan, dan hatimu lagi untuk menoleh kearahku. Aku membiarkan diriku terbang bebas, menari bersama udara, bernyanyi bersama angin. Ini bukan lagi ilusiku! Aku terbang. Bebas. Seringan kertas di udara. Aku terbang. Bebas. Tak ada lagi ilusi tentangmu karena aku telah menemukan diriku lahir kembali. Aku terbang. Bebas!