Rendahkan Sayapmu

Cek rek. Update status dakwah dibilangin ah sok bener lu. Upload foto liburan dikatain ah dasar tukang pamer, dan begitu pun seterusnya. Disadari atau tidak, kita sering mengomentari yang dilakukan seseorang sebagai sesuatu hal negatif. Menjustifikasi dia sombonglah, suka pamerlah menampakkan kehebatan dirilah atau juga biasanya dituduh ria.

Kita terlalu sering mengomentari apa yang dilakukan orang lain tanpa pernah menilai kadar diri kita sendiri, sudah benarkah cara pandang kita terhadap mereka?. Jika dapat diibaratkan apa yang kita lakukan itu seperti sedang berada di dalam sebuah rumah, lalu ketika kita melihat pemandangan nan indah di luar sana melalui kaca jendela rumah. Kita lupa bahwasannya kaca jendela rumah kita tersebut penuh debu, noda dan sangat kotor, sehingga pemandangan nan indah tadi menjadi terlihat jelek di mata kita sembari kita mencela serta memakinya, padahal yang terjadi sebenarnya adalah kaca jendela rumah kita sangat kotor yang kemudian membuat pemandangan indah di luar sana menjadi terlihat jelek.

Suatu penyakit hati yang bernama sombong ini patutlah diwaspadai dan dihindari. Karena Allah SWT. tidak menyukai sifat tercela tersebut sebagaimana diungkapkannya dalam QS. Al-Isra ayat 37, “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan berlagak sombong, karena sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan dapat menembus bumi dan engkau tidak akan sekali-sekali sampai setinggi gunung”. pun di dalam sebuah hadis Rasulullah SAW pernah bersabda “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya seberat biji sawi”. (HR.Muslim)

Bentuk kesombongan lain yang juga sering kita jumpai adalah ketika duduk di majelis ilmu. Seperti kita tahu bahwa duduk di majelis ilmu itu merupakan bagian dari ibadah, namun ibadah itu sering dikotori oleh sifat kita yang sombong terhadap Ilmu dengan pilih-pilih guru atau ustad, atau bersikap abai terhadap ilmu yang sudah diketahui.

Terdapat juga bentuk kesombongan lain yang kadang tidak kira sadari yaitu merasa tawadhu‘ Syeikh Ibnu ‘Atha’illah menasihati kita dalam salah satu butir hikmahnya bahwa Al-Mutawadhi‘ atau orang yang tawadhu itu bukanlah seseorang yang tawadhu’ namun merasa dirinya lebih dari apa yang ia perbuat, akan tetapi orang tawadhu’ itu adalah yang meski ia tawadhu‘ tapi merasa dirinya kurang dengan apa yang telah ia perbuat.

Selaras dengan hal itu, Hasan Al-Bashri juga pernah berkata “Tahukah kalian apa itu tawadhu’? tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia daripadamu. kita pun sering mendengar ilmu padi yang pernah diajarkan oleh ustad dan guru kita kala masing sekolah dahulu bahwa padi itu kian berisi, semakin merunduk.

Ya Allah, sucikanlah hatiku dari setiap akhlak yang tidak membuat-Mu ridha. Ya Allah sucikanlah hatiku dari kebencian, sifat iri, dengki dan sombong. Ya Allah sucikanlah hatiku dari setiap kejelekkan, dari setiap gangguan, dan dari setiap penyakit.