Hawa di Negeri To Balo

Barangkali manusia itu tercipta selayaknya menjadi misteri. Jauh ke dasar jiwa yang tunduk dengan duniawi membawa balutan luka tanpa disadari. Meramu segala hal yang membuatku terus memikirkan sosok gadis dengan keegoisannya membiarkanku menjadi pemuja dari kejauhan. Dua tahun yang lalu nama kita telah tertulis sebagai dua insan yang hidup karena asmara. Berjanji untuk bertemu setelah menuntaskan cita-cita. Namun pada akhirnya pertemuan itu tidak akan pernah terjadi. Kau telah menjadikan cinta sebagai tipu daya.

Di hadapan Tuhanku telah kuhapus segala bentuk yang menjadikanmu indah. Bodohnya aku pernah menghitung waktu sehingga aku tahu telah berapa lama aku menanti. Aku tidak beranjak sedikit pun. Bisa dikatakan tubuhku nyaris tidak bergerak. Kecuali jantung dan nadiku yang terkadang berdenyut. Sekadar memastikan apakah sosokmu telah muncul. Tapi biarkan kita berjalan pada jalur yang berbeda tanpa menjanjikan kepulangan. 

Terlepas dari segala hal yang membuatku teringat dengan kesakitan. Aku akan mengakrabkan hati ini dengan saudara-saudara tanpa ikatan darah. Mungkin inilah jalan yang mampu menenggelamkan segala luka. Hingga kita bahagia menghilangkan belenggu nurani yang suaranya makin lirih. Kuabdikan diri dipelosok desa terpencil dengan nama yang begitu asing di telingaku, Bulo-Bulo. Salah satu desa yang membuat hati ini bicara tanpa kata dan menjawab tanpa suara. Ternyata masih ada sekelompok orang yang berangkat dari latar belakang ketidaksamaan sehingga mereka mengasingkan diri dari kumpulan sosial.

Kelompok suku To Balo seolah terbenam di telan kesunyian pelosok tempat tinggal mereka. Inilah saatnya akan kuambil kiblat merasuki segala proses kehidupan dan menapakkan pijakan di suku To Balo. Aku mendiamkan diri mengeja lautan kata-kata yang berbaris pada setiap halaman kertas dengan kedua bola mata yang berbalut kacamata. Pemandangan di luar jendela begitu apik memamerkan segala suka cita dari keindahan alam yang tak berdosa. Terdengar hiruk-pikuk di luar. Banyak penumpang yang turun untuk meregangkan kekakuan akibat duduk terlalu lama. Entah apa yang menyebabkan mobil tersebut berhenti lama, mungkin ada pemeriksan atau terjadi kesalahan dengan mesinnya. Sebab, reruntuhan tebing dan jurang-jurang yang menganga di tepi jalan masih sering jadi ancaman, kondisi jalan yang sangat bertolak belakang dengan jalan-jalan di Ibukota.

Segalanya begitu rawan seperti kenangan. Rasa nyaman yang tak terhingga tercurah dari keluarga yang kutempati rumahnya untuk sementara. Ambo Asse’ dan Indo’ Besse merupakan keluarga yang hidup dalam suku To Balo, ada yang berbeda dari kulit mereka. Kulit dengan bercak putih seperti belang di sekujur tubuh dan wajahnya, inilah yang menandakan ciri dari suku To Balo. Mereka memiliki delapan orang anak dan satu lagi sedang mengeram dalam kandungan yang tidak lama akan keluar melihat keindahan dunia.

Tak lama bercengkerama dengan Ambo Asse’ dan Indo’ Besse datanglah sosok gadis dengan rambut hitam terurai memberikan suguhan ballo’ disertai lengkungan tipis di bibirnya tanpa efek memabukkan. Hawa, pemilik mata jelita dengan keelokaannya saat mematukkan pandangan pada dirinya. Dialah anak sulung dari keluarga yang akan kutempati rumahnya selama beberapa hari kedepan. Hari terus berganti kujalani semua yang menjadi tujuanku datang ke tempat ini. Tapi ada yang aneh terhadap diriku, selalu ada satu nama yang membentuk pendewaan oleh seorang pemuja rahasia. Bersama dengannya memberikan efek membahagiakan, meningkatkan kadar adrenalin dan mempercepat denyut jantung. Dialah sosok gadis ayu dengan hati sesuci salju. Kebaikan yang dia miliki membiarkan rasa ini datang menggerogoti tubuh yang bertahtakan namanya.

Pertikaian terus terjadi antara hati dan pikiranku. Apakah aku akan membuat luka baru setelah luka lama telah berangsur sembuh? Tempat mana lagi yang harus kusinggahi lalu memaksaku untuk kembali pergi? Beribu kerikil telah melukai kakiku, memaksaku untuk tetap berjalan dalam kehampaan yang luar biasa. Namun cinta bagai ilham yang menerobos dada dan bersemayam dalam jiwa. Dan kini asmara telah melilit seluruh nurani. Jika kubiarkan diriku merenung dalam kebisuan maka telah kusia-siakan tulang rusuk yang akan menjadi penyempurna imanku.

Kuberanikan membuka apa yang dulu tak ingin kusentuh lagi. Kudatangi Hawa yang tengah duduk di pinggir sungai lalu kudekatkan bibirku pada telinganya dan kubisikkan ungkapan bilamana cinta menginginkan dirinya sebagai pendampingku dan kumeminta izin untuk meletakkan kebahagiaan sedekat nadi pada kedua mata yang bertemu secara asing. Dirinya tiba-tiba menghindar dari tempatku berdiri.

“Kita tidak mungkin menodai aturan yang terikrar dalam suku ini. Lagi pula kita berbeda. Perbedaan kita sejauh matahari yang terlampau jauh untuk kita raih,” ungkapnya.

“Aku tidak tertarik siapa dirimu dan bagaimana kau diciptakan. Aku hanya ingin tahu apakah kau mau berdiri di tengah api bersamaku dan tak mundur selangkahpun.” Kiranya percakapan singkat itu mendatangkan kesia-siaan. Lagi dan lagi aku hanya mampu menjadi pemuja Hawa tanpa memilikinya. Sehari lagi aku akan meninggalkan tempat ini dan mengubur segala apa yang pernah menjadi harapan. Mentari siang menusuk desa Bulo-Bulo. Dihujani perih cuaca. Pohon-pohon cokelat yang berderet seperti barisan semut. Terdengar suara tangisan bayi di dalam rumah. Telah lahir anak ke sembilan dari pasangan Ambo’ Asse dan Indo Besse’.

Seharusnya ini merupakan kebahagiaan luar biasa yang dimiliki setiap keluarga. Namun berbeda dengan keluarga ini, dengan lahirnya anak kesembilan itu maka jumlah keluarga mereka cukup dengan sebelas. Tidak boleh ada angka sebelas dalam suku To Balo. Maka keluarga Ambo Asse’ dan Indo’ Besse harus merelakan satu anggota keluarganya untuk dibunuh. Entah apa yang terjadi di depan rumah sudah ramai didatangi penduduk desa.

Beberapa orang laki-laki terlihat menari di atas bara api yang masih menyala. Ternyata tarian ini dinamakan tari Sere’ Api yang menggambarkan ritual pengungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi. Namun, di tengah keramaian tersebut aku melihat Hawa yang diikat tangan dan kakinya. Hati terus bertanya mengapa Hawa ada disana? Ambo Asse mendatangiku dan mengatakan jika Hawa akan menjadi abu dan menikmati keindahan surga yang tergambar dalam kitab suci dan imajinasi.

Aku berlari mendatangi Hawa, air mata ini seraya aliran sungai yang tak pasti di mana letak ujungnya. Menciptakan segala kegelapan dan kesenduan hati. Hawa mendekatkan bibirnya ke telingaku dan mengatakan “Hari ini jiwa dan naluri kita akan kembali terluka. Namun, percayalah kepergianku ini adalah sementara. Jika kita berada pada takdir yang sama, maka kita akan bersatu di tempat Hawa dan Adam bertemu tanpa ada ikrar suku yang memisahkan dan tanpa menodai kesucian cinta.”Akupun mundur perlahan dari hadapan Hawa, datanglah seorang lelaki tua membawa kayu dan menyiraminya dengan minyak. Lalu dinyalakanlah api yang membakar seluruh tubuh Hawa. Sungguh hal yang tak pernah kubayangkan, nafasku sesak, badanku kaku, seakan seribu badik menghujam dan menggerogoti denyut kehidupan yang ada pada tubuhku.

Tak kuasa aku menyaksikan kehilangan seorang gadis yang bayangannya seolah telah melekat pasti di dalam jiwa dan ragaku. Kutinggalkan desa yang telah membuatku berkelana pada sebuah ujian. Langkah terasa berat setelah kejadian yang mengharuskanku kembali pada luka yang berbeda tetapi sama-sama merajamkan duri. Di kota yang penuh hitungan noktah kujadikan diriku sebagai pencari mustika keabadian.

Aku terdiam memaku mata pada jalan yang tiba-tiba di serang cahaya lampu kota dengan memunculkan sosok gadis dengan rambut terurai. Gadis itu berjalan menjauh dariku dan aku tersadar ternyata dirinya mirip dengan sosok gadis yang kucintai di desa Bulo-Bulo. Aku pun mengikutinya dan semakin langkahku mendekatinya ia semakin menjauh membuat daku hanya bisa berteriak menyebut namanya.“Hawaaa…”