Sajadah hijau

Sajadah hijau

Jalanan ramai, riuh, bising

Cahaya lampunya menantang matahari senja

Sebuah klise yang mengesankan

Oh, pekerja harus pulang ke peraduan

Satu peluh jatuh bersama ribuan rintikan hujan

Sedikit berlari, ia tersengal

Belum terlambat

Di ujung rerimbunan bambu, panggilan mendayu-dayu

Menantang jiwa-jiwa untuk menyembah Tuhannya

Ruh-ruh yang takut pulang seperti buih lautan

Di rumah pengaduan itu

Sesosok pemuda yang kusam berkeringat

Telah berseri dibasuh air mengalir

Lalu menghamparkan pandangan

Pada sajadah hijau yang terbentang

Di dalam penghinaan diri dari kubangan maksiat

Ia terkesan dengan warna alam itu

Ah, sesaat ia ingat dunia sesaat ia ingat tempat kembali

Warna daun bambu itu mengalihkan harapannya

Ia sadar, ia harus fokus pada buku loh Mahfuz

Yang telah dituliskan

Ia menyimpan secercah harapan

Hidup sekarang, besok, dan kemudian

Sesenggukan ia kembali