Nefa

Belum terasa jauh kaki menuju pelataran Masjid di suasana sore itu, namun aku masih mengingat mengapa bisa ia datang tiba-tiba walau semua tidak terjadi tanpa proses panjang. Dia yang kukenal bukanlah seorang pangeran atau orang berkuasa penuh nafsu, juga bukan kaum tertentu di luar sana.

Diriku menjalani kesendirian setelah dilepas bagai susutan pengawasan ombak terhadap bibir pantai. Tergoda hati sang ombak untuk kembali mengunjungi pinggir pantai, tanah kelahiran-tanah asal. Belum lagi rasa rindu ini datang setelah aku harus menghadapi kekejaman dan kelaliman binatang buas dalam penampilan menawan dan melelapkan. Tiga generasi telah dia lewati menurut perhitunganku, tapi sebenarnya ia adalah beberapa abad lamanya beraga sukma.

Tiga tahun lamanya pula aku mengenalnya, tapi sebenarnya dia benar-benar hampir hilang dari tangkapan ingatanku yang mungkin tak kusadari telah lupa. Akankah semua ingatan ini atau semua yang aku katakan pada diriku saat ini adalah fatamorgana semata? Pertanyaan masih di ambang pikiran dan aku masih berat untuk memecahkannya, seberapa beratkah ini semua padahal ini hanya tentang mengingat sebuah nama. Bukan nama saja sesunguhnya. Akan tetapi, dia adalah entitas yang sungguh sempurna. Dia dan dia, mengapa begitu lekat dirinya ketika aku kembali merenunginya. Mengapa sekujur tubuhku akan meleleh panas bagai lilin yang menerangi gelap gulita jika suara kepakkan sayapnya saja terngiang bagai pecahan sebuah gelas kaca. Dia mungkin sesekali luput dari cengkeraman ingatan namun tak bisa dengan sempurna meninggalkan pikiran diriku saat ini sebagai manusia.


Tiga dibagi tiga pikiranku selalu memaksa mempertanyakannya, sebetulnya siapakah dia? Tiga untuk tiga hasil sebenarnya tetap sama; satu semata. Lupa kembali walau ingat sebenarnya dia. Dia adalah siapa? Dan mengapa?. Pernah kemarin aku membaca sebuah koran agak familiar di ibukota, terbaca sekilas bahwa penduduk negeri ini telah sangat kaya, hingga senang dalam kehidupannya. Mereka melupakan lagi bagaimana dahulu mereka pernah sengsara, ketiadaan makanan untuk dimakan atau hanya sekadar mengingat selembar baju lusuh yang pernah mereka pakai sudah hampir terlupa oleh mereka. Dengan kenikmatan dunia itulah, mereka dalam mayoritasnya telah lupa akan duka dan juga tak sadar telah meniru perilaku Iblis atau entah mereka telah berperilaku sebagai manusia seutuhnya.


Perlahan bergerak sekelompok awan abu-abu mendekati senyuman dia yang terlihat oleh mataku, kemudian mereka berbicara layaknya sekawan yang sudah sangat lama mengenal suka duka. Tiga dibagi tiga awan itu terlihat menjelma bagai suasana ingin menumpahkan air mata, sedih yang terlihat dari ujung awan jika kita memaknainya sedih pula. Dia adalah sebuah peti dalam kegembiraanku. Peti yang selalu mengisyaratkan bahagia tapi juga hilang atau hampa, dia hingga kini tak ku tahu seberapa dekat atau jika jauh ia telah melangkah menuju pengembaraannya. Pengembaraan yang panjang tapi sungguh aku ingin bertemu dia. Dia adalah sketsa dalam realita utuh sang bidadari atau bidadara surga, dia mencintaiku sebagaimana aku lebih mencintainya. 


Deretan koloni pohon sentigi yang mengelilingi bibir pantai memanjang tumbuh setinggi tiga hingga tiga puluh sentimeter sepanjang pelupuk mata, sangat indah dalam keasingan dan keliarannya di tengah hamparan alam. Hidup sekelilingnya kepiting bakau dan sekelompok udang windu di dalam lubang-lubang, mereka menikmati kenyamanan berhabitat di bawah sejuk dan lebat tumbuhan bakau menjulang sangat hijau muda. Aku duduk menikmati pemandangan ini sambil membaca do’a kepada Allah swt, tentang cinta dan kebahagiaan yang telah tercipta, betapa tak bersyukur makhluk dunia terhadap apa yang telah terhampar tinggal menunggu usaha setiap dari ciptaan-Nya.

Tiga jam aku duduk menikmati tapi tak ada seorang pun pernah mengganggu perjumpaanku bersama alam, tiga pula perasaan yang saat ini terbawa; bahagia, tentram, dan perasaan lepas. Tiga-tiganya tetap sedikit berbeda walau bagiku itu sangat terasa sama. Dia adalah inspirasiku dan juga kekuatanku memandang dunia hingga dapat memimpin dunia. Saat ini, aku tak tahu siapa yang harus aku ceritakan apa yang sedang dialami dan akan menjadi perasaanku sampai suatu saat nanti akan tetap ada. Kecuali diri ini sendiri yang akan membuktikannya.

Pernah sesekali ia menyampaikan fatwanya terhadap diriku,“Sampai kapanpun kamu hanya akan menjadi manusia dan tidak pernah menjadi sosok sepertiku jikalau kamu terus bercengkerama bersama manusia”. Ia tegas mengarahkan pandangan matanya kepadaku.

“Aku juga manusia jika dipandang dari arah manapun, kamu tak perlu menyampaikan itu jika aku sudah sangat paham tentang hal itu”. Jawabku datar sambil memalingkan wajahku ke arah hamparan lepas laut biru.

“Aku hanya melihat kamu begitu senang mendekati dan menjalani hidup, padahal hatimu telah sangat terluka oleh mereka”. Ia menoleh juga ikut memandang ke arah yang sama dengan yang aku lakukan.

“Hahaa, kamu memang pandai menemukan luka. Tapi pernahkah kamu berpikir mengapa akan ada ritmenya hidup di mana kita akan selalu mengalami luka juga duka?”. Aku menawarkan pertanyaan ke arahnya sambil memasukan tangan kananku di dalam kantong celana.

“Kamu kan sudah tahu jawabannya apa. Mengapa harus bertanya hal ini padaku, Ifa?”. Ia sedikit bingung sambil menoleh padaku dengan mengangkat alis kanan, kemudian mencoba menerka apa yang ada dalam pandangan mataku.

“Luka sungguh surat cinta Tuhan untuk hamba-Nya. Karena hanya level mereka yang sadar siapa dirinya sebagai hamba yang paham surat-surat dari Tuhan. Bahagia, duka, juga derita esensinya sama, bentuk atau aksidennya saja berbeda. Kebahagiaan sejak dahulu sama saja, kegembiraan dan kasih sayang tidak pernah berbeda-kepedihan dan duka itu sama saja, dan darah juga tak berbeda. Nah, itulah tugas kita untuk menyadarkan mereka, hingga kita berdua bisa melihat mereka dapat hidup sebagaimana Tuhan pencipta menginginkan semua itu harus terwujud; jika keridhoan barang mahal, maka usaha pendalaman diri adalah juga barang mahal!”. Jawabku dengan suara keras, hingga setiap huruf menghantam gempuran angin laut yang membuat semua kata-kataku masuk seluruh menuju telinga dia

.“Kamu itu sudah terlalu paham, Ifa. Manusia yang engkau maksudkan itu tidak lebih dari sekelompok kawanan serigala berbulu domba terhadap sesama mereka. Mereka hanya berinteraksi atau mengetahui sosial mereka sebagai bentuk kepentingan semata. Mereka hanya terus memakai baju ego identitas sampai mereka mati menemui Tuhannya!”. Ia tegas melantunkan kata demi kata sangat jelas di telingaku sampai hal tersebut membuatku sedikit tertunduk menyadari makna tiap kata dari ujaran hatinya.

Bagai tak memberi kesempatanku untuk berbicara menanggapinya, ia menutup dengan kata“Sehebat apapun kamu membenci, jengkel atau mencintai mereka, jika hati mereka belum membuka dan benar-benar menyadari apa yang ingin kita sampaikan maka kita hanya akan berada di depan sebuah tembok; berbisik tak mampu didengar, berteriak tak mampu membuat tembok itu bergerak!”. Suasana kemudian sunyi membisu, membuat kami saling menatap tajam dengan empat mata. Seolah hempasan angin laut tak tertangkap lagi oleh telinga.

 “Tapi walau seperti itu, kita tahu bahwa mereka tercipta membawa dua kemungkinan kan? Apakah kamu tak tahu jika mereka bisa saja menerima atau patuh dengan kebaikan. Jadi, kita tak bisa melihat mereka sebagai bangsa yang tak dapat berubah!”. Tegasku memegang pundaknya, hingga suara hempasan gelombang dan hembusan angin mulai terdengar lagi dengan saksama.

“Ifa, silahkan pandang lagi mereka. Apakah mereka sedang menjalani hidup dengan kesungguhan dan kemurniaan? Mereka menghormati pemimpin mereka hanya karena identitas semata bahwa kedudukan orang di depannya adalah seorang pemimpin, bukan sebagai kemurniaan penghormatan yang sesungguhnya. Pemimpin mereka hanya melihat masyarakatnya sebagai hanya sekumpulan daging yang bisa diberi atau memberi kepentingan bagi mereka yang memimpin. Mereka mengikuti petunjuk gurunya hanya karena kedudukan seseorang itu sebagai guru. Jika seandainya dia yang sedang dihormati adalah bukan gurunya, pasti dia tidak akan menghormatinya. Hal tersebut juga terjadi kepada siapa saja di antara mereka. Hubungan mereka hanya sebatas identitas yang selalu mereka kenakan di setiap tatap muka dan di setiap kehidupan mereka”. 

“Kamu memang benar jika itu adalah realita. Justru itu, kita harus membangun realita di dalam pikiran juga hati setiap dari mereka hingga selanjutnya semua terwujudkan dalam realita sosial. Aku memang selalu tersakiti oleh baju duri yang manusia kenakan setiap kali aku mendekati dan bercengkerama bersama. Namun duri dari ego identitas itu harus kita bantu lepaskan dari tubuh-tubuh dan setiap jiwa, yaitu mereka yang telah menjadi pribadi palsu dalam menjalani kehidupan mereka selama ini”. Aku menjawab.

Kemudian melanjutkan“Sekali lagi aku mengaku memang sakit dan terluka, tapi silahkan engkau lihat! Sesungguhnya bukan hanya aku saja yang terluka. Manusia itu dalam mayoritasnya telah terhunus juga oleh sesama mereka sendiri, mati satu lebih baik daripada mati banyak”. Jawabku mengimbangi pertanyaan tinggi darinya.

“Kita ini hanya makhluk yang sedikit dari yang banyak. Kita melihat kebiadaban dan kerakusan mereka, mereka tak pernah ingin mendengar suara-suara yang engkau sampaikan kepadaku ini”. Dia menjawab selanjutnya langsung duduk di atas batu karang bundar berwarna hitam di samping kanannya.

“Sudahlah, aku begitu memahami dari setiap kita. Aku juga tahu setiap dari mereka, aku akan mencoba menerbangkan suaraku walau jika hanya bagai jatuhnya rintik-rintik hujan. Datangnya membawa do’a dan perginya menuai harap dari Tuhan”. Aku menutup kedua mataku sambil mengikuti terpaan angin yang seakan biru diikuti oleh hempasan gelombang yang begitu sangat setuju dengan mimpiku dan merestui apa yang akan aku lakukan demi alam dan sekitarnya. 

Sesekali dia mengepak-ngepakkan kedua sayapnya dalam duduk, kemudian sesekali melepas napas panjang pertanda ia mengikuti keputusanku. Kepiting beserta pepohonan bakau hijau di depan kami begitu tunduk malu karena perdebatan dari awal yang kami suarakan hingga tak disadari mereka telah berani lagi menggerak-gerakkan tubuh-tubuh eloknya sebagai hasil intuisi mereka bahwa semua akan berjalan dan berubah seperti apa yang mereka dan aku inginkan.

Sebuah lampu rumah telah mulai dinyalakan oleh manusia di ujung desa pantai sana, pertanda Subuh mulai datang. Lantunan azan mulai menggema dan teriakan lengkingan Iblis-syaitan mulai terdengar dari seluruh arah mata angin. Telah mengetahui waktu, dia memegang lengan kananku sambil berkata“Aku pamit dahulu dari hadapanmu, Ifa. Aku sangat yakin dari mimpimu itu, dan aku juga lebih yakin dari bukti yang telah selaras dengan semua perkataanmu kepadaku dari awal. Ingat, aku selalu berada di belakangmu, jangan takut! Semoga Allah pemilik arasy mempertemukan kita di lain waktu. Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh”. Tutupnya seketika terbang dengan melebihi kecepatan cahaya. 

Dia telah hilang ketika aku masih berpikir bahwa dia belum hilang di hadapanku. Begitu cepat hingga tak mampu mataku menerka apakah ia hilang atau terbang bersama kedua lebar sayapnya. Aku kemudian juga memutuskan untuk pergi dengan kedua sayapku yang dari tadi sudah mengajakku untuk meninggalkan tempat ini. Aku mengepakkan sayapku sekali. 

“Ifa, bangun Nak. Azan Subuh sudah berkumandang, ayo kita salat berjamaah bersama Ayah”. Kudengar suara Ibu menyapaku seraya memegang dan menyapu hangat keningku dan membuatku terbangun.“Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, makasih Ma sudah bangunkan Ifa”. Ucapku sambil memeluk hangat tubuh dan mengecup kedua tangan penuh sayang kasih Ibu. Aku kemudian berdo’a dalam hati karena Allah swt. masih memberikan nikmat hidup kepadaku dan keluargaku. Kami menemui Tuhan dalam takbiratul ihram dan undur diri dari mihrab-Nya dengan mengakhirkan salam.

Semua edisi pengalamanku hari ini kembali kutuliskan dalam sebuah tulisan esai dan bentuk sastra dengan tujuan menyadarkan segenap manusia dari sifat palsu, dan hubungan yang juga palsu yang selalu mengenakan baju ego identitas serta tidak berhubungan satu sama lain dengan memakai baju ego subjek sebagai bentuk hubungan satu sama lain yang benar-benar murni tanpa pamrih.

Tarian tulisanku yang bersayap harapan telah rampung bersamaan waktu muncul jingganya senja di ufuk barat itu. Jikalau senja saja selalu muncul di waktu yang sama demi menyuguhkan manfaat dan nikmat indah bagi manusia maka aku demikian juga akan selalu menuliskan semua mimpiku bersama sifat jamuan sang jingga.