Kehendak Pengawas dan Kehendak Allah

Pada saat pendaftaran peserta didik baru, aku sangat bingung untuk memilih sekolah yang baik untukku dan yang dapat menerimaku dengan nilai pas-pasan. Setelah beberapa kali shalat istikharah, aku merasa dituntun memilih satu sekolah paling bergengsi dengan akreditasi A di kabupatenku. Pada saat itu dua perasaan menggodaku: Yang pertama mendorongku untuk membatalkan niatku karena menurutku nilaiku yang sangat mustahil untukku diterima; dan yang lainnya semakin mendorongku untuk memilih sekolah tersebut. Seakan-akan malaikat kebajikan berkata padaku, “Apakah kamu akan membatalkan niatmu,  sementara kamu sudah di beri petunjuk oleh yang Kuasa? Bagaimana bisa kamu berpaling dari-Nya dan egois memilih nalurimu sendiri?

Akhirnya aku lebih cenderung pada perasaan yang terakhir ini. Setelah itu, akupun mendaftar di sekolah itu dan menunggu pengumumanku. Sambil menunggu pengumuman, aku rutin shalat malam untuk diberikan yang terbaik oleh Allah. Setelah 2 pekan menunggu, akhirnya pengumuman pun tiba. Namaku jelas tertera pada urutan ke 7 dari bawah. Aku langsung sujud syukur setelah mengetahui hal itu.


Kemudian aku ke calon sekolah baruku untuk mendaftar ulang, namun betapa terkejutnya aku saat panitia PPDB mengatakan bahwa aku tidak diterima di sekolah itu setelah adanya pengumuman ke dua. Hatiku hancur saat melihat map yang berisi data dataku di robek di depan mataku sendiri. Keluar dari gerbang sekolah, aku menangis bersama sahabatku yang senasib denganku. 


Aku mulai putus asa dan tak lagi rutin shalat malam. Lalu pada suatu waktu aku ber-doa, aku berada di antara dua perasaan : Yang pertama berkata kepadaku, “Apa gunanya ber-doa, sedang kamu sudah jelas jelas tidak diterima di sekolah itu.” Yang kedua berkata kepadaku, “Apakah kamu ragu dengan kekuasaan Allah untuk memenuhi keperluanmu, dan bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu?”


Maka aku kembali pada prinsip awal dan aku merasa tenang dengan perasaan yang baik ini. Aku berdoa lagi dengan penuh keyakinan bahwa urusanku ini akan berjalan dengan baik. Sepekan setelah kabar tidak diterimanya aku di sekolah itu, aku kembali ke sana untuk mendaftar gelombang ke 2 yang kuotanya khusus untuk calon siswa yang rumahnya masih satu kecamatan dengan sekolah itu, sedangkan aku sudah sangat jelas tidak akan di terima karena jarak antara rumahku dengan sekolah itu hampir 20 km. Aku setia menunggu giliran daftar dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 05.00 sore namun aku tidak mendapatkan giliran karena banyaknya peserta dan waktu yang sudah sangat sore.


Saat aku sudah sangat lelah dan hampir menyerah, aku diberi informasi oleh salah satu orang tua calon PDB bahwa sebenarnya  aku lulus di gelombang 1 pengumuman ke 3. Langsung saja aku menemui panitia yang masih ada di sana dan panitia pun menyuruhku pulang kemudian kembali besok pagi. Keesokan harinya aku datang lagi bersama sahabatku sesuai arahan dari panitia kemarin dan menyatakan aku dan sahabatku memang diterima di pengumuman ke 3 dan sudah didaftar ulangkan. 


Keyakinanku kepada Allah semakin bertambah. Perasaanku sangat senang dengan peristiwa yang di dalamnya berisi pelajaran-pelajaran berharga yang tidak pernah akan aku lupakan. Insya Allah 

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]