Senja Di Dalam Kereta

Pijakan rel satu demi satu terlewati
Panas, peluh dan kecewa jadi satu
Matahari mendayu-dayu di atas kepala
Bayang-bayang fatamorgana menari-nari di pelupuk mata
Dan hati menangis
Di dalam kepala yang menunduk semua terangkum
Kehidupan seperti kereta babaranjang tak berujung
Meliuk-liuk di sepanjang kenangan
Bisakah kita mengembalikan daun yang jatuh?
Ranting saja rela melepaskannya
Jika ia tak menunduk, di atas awan sedang menari-nari
Bergerak sesuai dengan titah-Nya
Mengumpulkan kondensasi panas lalu menjadi air
Dan gelap, mungkin itu air peluh yang meluruh
Bersama rintikan tangis di dalam hati
Di antara rerimbunan pohon, ia pun berhenti
Duduk lalu menuliskan sebuah mimpi kedepannya
Disimpannya di bawah batu jejakan rel
Sebagai nota kesepakatannya dengan Tuhan
Sungguh, ini sangat memilukan
Kereta datang dengan berwarna putih terang
Klaksonnya mengagetkan anak-anak bermain layangan lalu berlari
Ia bahkan jalan perlahan di tengah jejakan rel
Dan melambaikan tangan kepada kehidupan
Esoknya ia kembali dan tak menemukan kertas mimpinya lagi
Mungkin sudah dibawa kereta ke ujung matahari yang mulai layu
Sekarang dia mendekat ke kaca di dalam kereta
Dan melihat dunia luar yang begitu mempesona
Satu bulir air matapun jatuh tak sengaja
Mengingat keputusan-Nya yang begitu indah