Sepenggal Kisah Ujung Berpisah

Terdengar suara tawa kencang saat itu. Tawa yang juga akan beriring tangis pada akhirnya. Tawa yang takkan terulang di kemudian hari dan ternyata sesingkat ini 3 tahun berlalu. Tahun-tahun penuh rasa dan mengartikan makna ikatan tanpa darah sesungguhnya kini berakhir meski memang kenangan kita akan senantiasa terukir.

Rasanya tak pernah sesulit ini melangkahkan kaki ke sekolah. Senang, sedih, bangga, bingung, semua jadi satu. Semua terpadu dalam satu waktu. Mengingat beberapa percakapan kami di kelas tempo dulu dan kesedihan kala nanti semua terbersit lagi dalam ingatanku.

Fitri: “Cie, udah mau lulus”

Ayu: “Pit, Ayu malah sedih, nanti kita gak akan sama-sama lagi, kamu bakalan sibuk kuliah dan dengan kehidupan barumu”

Linda: (Menghela nafas) “ Semua akan baik-baik saja, kita akan tetap menjaga semua ini dengan baik kan?”

Kita semua saling melirik lalu melemparkan senyuman terbaik. Seakan semuanya memang akan baik saja, baik-baik saja.

Aku pergi menjauh dari mereka, hatiku hancur bahkan entah menjadi berapa kepingan tajam yang kemungkinan besar akan menusuk dan melukaiku dikemudian hari jika ku tak mengikhlaskan semuanya. Semua hadir di hari itu tampak rautan wajah yang gelisah dibalut kegembiraan yang tak terhindarkan. Lagi lagi aku hanya diam membisu, melempar guyonan seperti biasa lalu semua tertawa dan bahagia.

Terlihat adik adik kelas yang sangat rapi hari ini, mereka juga akan ikut melepas kepergian kami dan saling menitip pesan untuk beberapa kemajuan. Tak ada dari kami yang tak berat melalui ini semua dan tak ada yang bisa dengan mudah hilang begitu cepatnya. Setiap kata yang mereka ucapkan di hari itu menjadi sangat bermakna dan entah kenapa mendadak kuingin ulangi saja dulu saat kumulai semua ini yang tak terasa hari ini akan kuakhiri.

Aku juga menatapnya. Sosok yang ku kagumi dalam diamku, dalam obrolan kita sebenarnya tersirat pesan lain yang tak mungkin ku sampaikan bahkan sampai tiba hari perpisahan. Maaf, kupikir kata persahabatan jauh lebih berarti dibanding kata cinta yang mungkin hanya akan sementara dan membuat kekacauan menjadi nyata. Aku kembali dengan hafalan lagu kami yang akan kami persembahkan beberapa saat lagi, padahal lagu ini sering kami nyanyikan di dalam kelas dengan meja.

Sebagai drum dan vokalis terbanyak dengan 42 personil yang jika kami nyanyikan kelas tak lagi menjadi kelas, berubah menjadi tempat konser musik yang menyenangkan.

Tiba saatnya kami bernyanyi. Kenapa malah tangis yang berbunyi? Kenapa malah duka di raut wajah yang kami temui? Kenapa jabatan tangan ini semakin erat? Kenapa seakan kita tak akan pernah bernyanyi bersama lagi? Apa iya?

Aku seakan tertahan di ruang yang ramai dan tak ingin sekali kulihat menyepi. Dulu kataku ingin sekali segera lulus, ingin sekali segera dewasa. Ini saatnya, tak seharusnya kubuka dengan berduka.

Ayu: “jarak akan memisahkan, tidak dengan doa yang akan senantiasa ku panjatkan untuk kalian”

Dita: “Haha.. kita manusia-manusia heboh dan kuat ternyata bisa semelow ini ya”

Putri: “Ya iyalah kita kan menghayati apa itu arti berpisah”

Galih: “Emang sesusah itu ya kita ketemu kalo udah ga dalam satu ruangan? Ah mitos itu mah!”

Gelak tawa kembali tercipta, lalu kami yakin bahwa ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari masa depan yang masing masing kami impikan.