Saveri

Kepada Saveri, aku berjanji akan memberimu kabar melalui Email. Apakah kau ingat? Setidaknya aku akan mencoba.

Bandung sudah satu pekan ini terus menerus diguyur hujan. Di sore hari awan mendung menyapa kami hendak menurunkan keberkahan. Manusia menyambutnya dengan gurat kesedihan. Karena ulah sang jahat yang menjadikan keberkahan itu sulit untuk disyukuri. Mereka masih sembarangan menebang pohon dan membuang sampah ke sungai. Masih belum ada kabar baik bahwa mereka telah bertobat.

Suasana hujan di sore hari selalu mampu membuat rindu semakin mencekik. Kenangan indah, petualangan-petualangan menyenangkan bersamamu dulu tak pernah basi mewarnai memori. Aku merindukanmu, tawa lepasmu, gigimu yang tak rapih, rambutmu yang botak di bagian depannya, badanmu yang tinggi kurus, kulitmu yang hitam, dan wajahmu yang manis.

Aku akan menceritakan petualanganku dua hari yang lalu. Tepat setahun setelah kepergianmu, aku, Julian, Arwan, Ken, Ruri, dan Shopi berencana untuk pergi melihat air terjun Siliwangi yang terletak di gunung puntang. Kamu mengenal semua sahabatku kan? Jadi aku takkan menjelaskan tentang mereka lagi. Anto yang mengetahui rute menuju air terjun mendadak tidak bisa ikut karena warung ibunya tak ada yang menjaga. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena Ken pernah sekali mengunjungi tempat itu, dia mengaku masih ingat rute menuju ke sana.

Perlu kutegaskan kami pergi bukan untuk triple date. Karena mereka adalah sahabatku yang paling berharga. Tak mungkin kami merusaknya dengan kisah cinta yang rumit. Selain itu, sejak kau benar-benar pergi tak ada yang bisa menggantikan posisimu dalam hidupku. Aku pun tak tahu, kelak apakah aku akan menemukan seseorang sepertimu. Sepertinya mustahil. Yang sepertimu hanya ada satu. Lantas, apakah aku akan melajang seumur hidupku?

Aku, Ruri dan Shopi menunggu Julian, Arwan, dan Ken yang tak kunjung tiba. Waktu sudah molor dua jam. Matahari sudah tepat berada di tengah-tengah.

“Duh sudah terlalu siang nih, nanti main airnya sebentar dong.” Shopi yang paling gelisah saat itu.

“Iya nih para cowo kemana yah?” Ruri ikut gelisah.

Berbeda dengan mereka yang gelisah uring-uringan aku malah tenggelam dalam Novel yang sedang kubaca. Ini novel favoritmu “The Puppeteer” karangan penulis yang juga favoritmu Jostein Gaarder. Akhir-akhir ini aku selalu membaca buku-buku favoritmu. Setidaknya itu akan sedikit mengobati rasa kesepianku dan aku merasa kamu ada di sampingku seperti dulu.

Pukul 12 lewat 5, mereka yang sejak tadi di nanti-nanti akhirnya tiba.

“Huuuuhhh dasar tukang ngaret. Udah jam berapa nih.” Shopi yang paling emosi.

“Duh maaf-maaf perutku mulas sekali. Semalam makan mie instan kepedasan.” Arwan berdalih sambil memegang perutnya.

“Perepeeeeetttt.. prooooottt”

“Duh siapa nih yang kentut bau banget.” Ruri yang sadar duluan dengan bau yang sangat menyengat.

“Hehe sorry ri.” Ken mengaku.

“Arwan yang sakit perut kenapa malah kamu yang kentut.” Shopi kesal namun ada sedikit gurat senyum di wajahnya.

“Sudahlah.. sudah makin siang nih. Yuk bergegas.” Aku berhasil melerai pertengkaran yang tidak penting.

Air terjun berada di atas gunung, sekitar 2 jam untuk sampai ke sana. Saat hendak akan menaiki gunung, seorang kakek tiba-tiba melerai kami. Menyarankan sebaiknya kami tidak melanjutkan perjalanan mendaki gunung. Kemarin hujan, jalanan akan sangat licin dan prediksi sore ini sepertinya hujan akan turun lagi. Tapi kami tak mendengar ucapan si kakek tersebut. Kami sudah menaiki sepeda motor sampai pantat pegal untuk sampai kesini.

Sudah dua jam berlalu kami terus mendaki. Sepanjang perjalanan aku menemukan banyak sekali sampah plastik. Kupunguti satu persatu sampah itu seperti yang selalu kamu ajarkan. Berbuat baiklah kepada alam meskipun hanya sedikit.

Kami mendapati beberapa track tak masuk akal untuk dilalui seperti belum pernah ada orang yang melewati jalan itu. Jalannya miring 45 derajat tanpa ada batu pijakan. Tepat disebelah kami adalah jurang. Jalanannya sangat licin, aku sempat terpeleset dan menyeret Julian ke samping ke arah jurang itu. Badan julian sudah setengahnya mengambang di atas jurang.

“Citra, sebagian badanku sudah melayang di atas jurang nih. Jika kau tak cepat naik, kau akan membunuhku.” Ucap julian.

“Ken, asli nih kita lewat sini jalannya kok aneh sih.” Aku benar-benar tak tahan lagi dan yakin 100% bahwa kami salah jalan.

“Hehe sebenarnya sejak satu jam yang lalu aku lupa tracknya cit.” Ken menjawab dengan ekspresi ketakutan. Takut dimarahi.

“Apa? Bukannya bilang dari tadi Ken, kita kan jadi tersesat begini.” Aku sangat kesal. Hari sudah sore, langit mendung, awan-awan hitam sudah siap menumpahkan hujan. Yang lain pun ikut kesal kepada Ken. Ken hanya nyengir.

Perjalanan berikutnya makin sulit lagi. Kami harus turun kebawah. Saat itu tanah licin dan tidak ada bebatuan. Kami turun sambil berpegangan erat pada ranting-ranting pohon yang rapuh. Jika kita terpeleset sedikit saja, bisa jatuh kedalam jurang. Turunan itu berkelok dan tepat saat belokan adalah jurang tanpa penghalang sedikitpun. Kakiku gemetaran, dan aku akhirnya terpeleset. Aku menjerit, sebagian kakiku sudang mengambang di atas jurang, untung saja Arwan cekatan memegang tanganku. Kami para wanita hampir mahu menangis. Kami takut hari semakin gelap dan kami tak tahu arah pulang. Kaki sudah sangat pegal melangkah.

Tiba-tiba Shopi dan Ken yang berjalan paling belakang terperosok kebawah. Mereka menjerit seperti menaiki perosotan lalu jatuh diantara semak-semak. Kami semua terkejut.

“Apakah kalian baik-baik saja.” Aku berteriak. Hening seketika.

“Woi cepat turun, kami menemukan sungai.” Akhirnya suara mereka terdengar. Syukurlah.

Perlahan kami turun. Jalannya sungguh tak mudah kami lalui. Itu sungguh bukan rute untuk pendaki gunung sekalipun. Terlalu curam. Selain itu, banyak sekali tanaman berduri. Tanganku bahkan berdarah tersayat durinya.

Memang benar, dibawah sana ada sungai. Kalau begini kami aman, kami tinggal mengikuti alur sungai dan pasti akan sampai dibawah. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4, kami sangat kelaparan dan memutuskan untuk membuka bekal di pinggir sungai.

Saveri, kukira hari itu kami akan benar-benar mati disana. Tentang Air terjun yang indah itu kami sudah melupakannya. Yang terpenting bisa pulang ke rumah dengan selamat.

Kami menyusuri sungai. Itu tetap saja tak mudah. Hujan deras beserta angin kencang menambah penderitaan kami. Kami takut air sungai tiba-tiba membesar. Dan ternyata itu benar-benar terjadi. Air besar datang seperti tsunami. Kami terseret cukup jauh. Untung saja tidak ada yang hilang diperjalanan hanya saja kepala Shopi sempat menghantam bebatuan, hingga pelipisnya berdarah. Ruri sempat mahu tenggelam karena kakinya kram kedinginan. Untung saja Julian berhasil menolongnya. Kami duduk sebentar diatas batu besar. Ruri menangis ketakutan. Shopi meringis menahan sakit dipelipisnya.

Penderitaan masih belum berakhir. Kami harus melalui batu yang mirip perosotan sepanjang 5 meter kebawah. Kami hanya perlu meluncur kebawah, namun air di depan batu tersebut sepertinya dalam. Arwan yang jago berenang mencoba duluan. Dugaan kami benar, airnya memang dalam. Arwan yang berbadan tinggipun kakiya tak menyentuh tanah. Untung saja dia bersedia menahan kami agar kami tidak langsung tercebur ke dalam air. kami menyusuri sungai sambil berpegangan satu sama lain.

Syukurlah tepat buku 6 sore kami sudah berada dibawah. Kami hanya perlu berjalan sedikit untuk sampai digerbang utama. Baju kami semua basah, lumpur dimana-mana. Seisi tasku pastilah juga basah semua. Termasuk novel favoritmu juga pasti basah kuyup. Kami langsung pergi ke warung membeli susu hangat untuk menghangatkan diri. Tertawa-tawa disana mengingat kejadian barusan yang sama-sama menjadi pengalaman pertama kami. Sungguh kacau

Begitulah kisahku dua hari kemarin Saveri. Maafkan aku karena baru memberimu kabar hari ini. Kehilanganmu sungguh berat kupikul. Aku akan terus mengirimkan Email kepadamu. Meski aku tidak tahu apakah Email ini akan sampai ke dimensimu.