Doktrin Iman dan Istiqomah

Suatu hari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu datang menemui Rasulullah dan bertanya perkara Islam

“ Rasulullah beritahu dong, suatu perkataan yang tidak akan aku tanyakan pada orang lain selain engkau, Rasulullah menjawab: Nah, gini kamu cukup katakan “Aku beriman Kepada Allah Azza wa Jalla , kemudian Istiqomahlah”

Perkara iman dan istiqomah dalam Islam tidak arif jika dimaknai secara parsial yaitu hanya menarik dari sisi spiritualnya saja apalagi hanya limited sampai lisan, sebab Islam dan seluruh rangkaian ajarannya bersifat holistik yaitu mencakup seluruh aspek kehidupan baik spiritual, sosial, intelektual dan kultural. Ia bermakna bahwa dalam seluruh aspek itu nilai-nilai keimanan dan keistiqomahan harus selalu mengiringinya.

Misal dalam aspek intelektual, syukurlah untuk perkara ini sudah banyak yang menyadari betapa tertinggal jauhnya umat. Boleh jadi karena kita kurang beriman dan istiqomah menjalankannya. Padahal seharusnya doktrin yang pertama kali diimani adalah doktrin intelektualitas, sebagaimana wahyu yang pertama disampaikan kepada Rasulullah mengandung instrumen itu (QS. Al-‘Alaq;1-5)

Kelatahan menyikapi ini kerap kali menimbulkan kekhawatiran bahwa bergumul dengan ilmu pengetahuan akan menjauhkan dari agama, padahal berilmu adalah instruksi agama. Lalu bagaimana mungkin hal itu menjauhkan diri dari agama sedangkan ianya satu kesatuan yang saling menyokong. Iqra! Bi ismi rabbik.

Namun, keimanan terhadap intelektualitas tidak hanya sampai pada pergumulan dengan ilmu pengetahuan secara personal. Ianya harus diikuti dengan sikap konsisten (istiqomah). Tentu yang menjadi prioritas adalah konsisten dalam keimanan transendental, lalu diikuti dengan konsisten terhadap aspek  yang meliputi intelektualitas itu, produktivitas. Agar hasil dari pergumulannya meluaskan radius mashlahat ke ranah sosial yang akan mendukung konstruk kultural.

Produktivitas intelektual harus dipastikan tetap berjalan, sebab ia salah satu pondasi kemajuan dan syarat sebuah peradaban.  Meminjam istilah Michel Foucalt, knowledge is power. Siapa yang menguasai ilmu pengetahuan ia akan menguasai peradaban. Bukankah kemajuan peradaban Amerika Serikat adalah buah dari penghargaan Yahudi terhadap tradisi ilmu pengetahuan (buku, teks) sebagaimana yang dilaporkan Thomas Showell dalam Ethnic America.  

Kemajuan dan desain peradaban yang berhasil diraih tidak lagi dilekatkan pada perkara agama apa dan siapa. Namun itu bergantung pada kadar keimanan intelektualitas dan keistiqomahan di jalan produktivitas. Siapapun akan berkesempatan, dan semestinya umat Islam harus mengambil peluang menangkap kesempatan itu lebih awal sebab doktrin iman dan istiqomah telah disampaikan lebih awal pula kepadanya melalui Muhammad SAW..

Produktif membidani lahirnya gagasan kemajuan harus diintensifkan, memaksimalkan ikhtiar secara aktif mendulang karya-karya intelektual, memastikan tradisi intelektual Islam selalu hidup seminimal-minimalnya untuk pribadi sejatinya adalah amanah. Sejatinya tradisi intelektual islam adalah tradisi yang menghargai teks, nostalgia sejarah ini mesti selalu diingati untuk memantik tumbuh suburnya kembali tradisi itu. Doktrin keimanan dan keistiqomahan yang disampaikan Rasulullah harus selalu dilihat secara holistik bilkhusus pada aspek intelktualitas sebagai doktrin keimanan pertama yang sampai kepada Muhammad (Qs. Al-‘Alaq:1-5).