Negeri Kaya

Bukan lautan hanya kolam susu kail dan jala cukup menghidupimu… ” kurang lebih begitulah senandung cinta dari cuplikan lirik lagu Kolam Susu yang populer dibawakan oleh Koes Ploes. Pesan yang disampaikan melalui lagu itupun sangat jelas mengenai kekayaan sumber daya alam di bumi nusantara ini.

Memang benar adanya bahwa di negri ini dianugrahi kekayaan alam yang berlimpah. Kekayaan alam ini lah juga yang menarik bangsa bangsa menguasai kekayaan alam tersebut.

Sebut saja Portugis yang pertama tiba di Malaka pada tahun 1509 yang berkuasa hingga tahun 1602. Kemudian, Belanda yang berkeinginan membentuk VOC yang menguasai rempah-rempahan Indonesia pada tahun 1602 hingga 3,5 abad lamanya menduduki bumi nusantara. Setelah itu muncul Jepang menggantikan Belanda, pendudukannya ditandai perjanjian Kalijati pada tanggal 8 Maret 1942. Masa pendudukannya berusia 3,5 tahun.

Setelah pendudukan Jepang berakhir seiring kekalahan Jepang oleh sekutu pada Perang Dunia II. Hal ini terjadi karena dijatuhkannya bom di Hiroshima dan Nagasaki oleh tentara sekutu.

Bumi Nusantara akhirnya dapat menjalankan sistem pemerintahannya sendiri. Pada tanggal 17 Agustus 1945 dideklarasikanlah berdirinya Negara Indonesia. Yang dalam amanat konstitusinya ingin menghapuskan penjajahan di seluruh dunia karena merasa tidak sesuai dengan prikemanusiaan (UUD 1945 Alinea pertama).

Setelah mengandung dan dianggap telah memikul anti kolonialisme sesuai dengan amanat konstitusi. Apakah penjajahan atau kolonialisme betul betul hilang?

Pertanyaan menjadi tabu dan akan mendapat jawaban yang relatif berdasarkan kelas dari pemberi jawabannya. Jika pertanyaan ini diajukan kepada bocah bocah ingusan yang selalu diracuni dengan hal hal doktrinal, maka jelas mereka akan bangga menjawab “penjajahan sudah tiada”. Namun, jika yang ditanya adalah kaum prototelar atau yang dalam bahasa Upton Sinclair blue collar maka akan menjawab dengan jawaban yang malu malu namun kita sudah pahami maksudnya.

Salah satu yang identik dengan negara adalah pajak.

Dalam pemikiran filsafat pajak. Pajak diibaratkan bentuk penindasan pemerintah terhadap rakyatnya, terutama mereka yang menjadi kaum kelas ekonomi ke bawah. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, hidup kita selalu dikelilingi pajak. Bahkan ketika kita matipun akan dikenai pajak.

Pajak memang menjadi persoalan yang problematik dalam kehidupan bernegara. Pajak, menjadikan kita berkontribusi mewujudkan hidup yang tertib seperti misalnya aspal yang tidak berlubang, obat obatan di rumah sakit, guru guru berpendidikan. Walaupun semuanya itu belum diratakan ataupun dirasakan di seluruh daerah khususnya daerah terpencil. Namun, kita dianggap berkontribusi buat negara.

Negara Indonesia dengan tegas mengatur dalam Pasal 23 ayat 2 UUD 1945 bahwa keuangan negara ditetapkan berdasarkan undang undang. Hal ini menjaminkan negara memaksakan pajak kepada warganya atau orang pribadi, atau badan lain yang bukan warganya, tetapi ada keterkaitan dengan warganya.

Indonesia, berdasarkan Undang Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang telah diubah oleh Undang Undang Nomor 10 Tahun 1994, menganut 2 asas sekaligus yaitu :

1. Asas domisili, artinya pajak dapat dikenakan atas penghasilan jika orang atau badan usaha berkedudukan di Indonesia

2. Asas sumber, artinya sumber penghasilan yang diterima akan dikenakan pajak jika diperoleh sumbernya dari Indonesia.

Berdasarkan teori teori tersebut seharusnya Indonesia dapat menjadi negara yang kaya dari segi ekonomi, bahkan diketahui penduduknya mencapai diatas 250 juta populasi, tertinggi ke 4 di dunia.

Namun, sayangnya fakta berkata lain. Berdasarkan survei World Data Lab per Desember 2019, Indonesia menjadi negara di ASEAN yang paling banyak warganya berada di bawah garis kemiskinan dengan angka 5,1% dari populasi, bukan tidak mungkin akan terus bertambah mengingat sekarang berada di masa pandemi korona.

Negara seharusnya dapat mengatur keuangan sebaik baiknya demi kepentingan rakyat.

Bukan sekedar memikirkan kepentingan pengusaha investor asing yang terus merajalela di dalam negri.

Saya tutup dengan 2 kisah dari Bayazid Busthami dan seorang pemuda.

Bayazid Busthami pernah ditanya “Kamu makan darimana? Kan miskin” 

Beliau menjawab “Tuhanku memberi makan anjing dan babi, lalu anda berpikir dia tidak memberi makan seorang Bayazid?”

Beda kisah dengan pemuda

Seorang pemuda pernah ditanya “kenapa kau tidak makan? Negerimu kaya?

Pemuda menjawab “Negara dan segala kapitalismenya telah merampas kekayaan tersebut”