Membunuh Kecemasan

DUA KATA yang dibingkai jadi satu dengan artikulasi yang lugas dan tegas. Frasa yang terkesan agresif..! punya energi dan bisa hidup walaupun berasal dari dua kata yang menakutkan, membunuh dan kecemasan.

Membunuh kecemasan terkesan vulgar karena melekatnya kata membunuh, tindakan yang memutuskan mata rantai kehidupan. Membunuh bisa merupakan manifesto dari keputusasaan dan amarah yang berlebihan. Tapi membunuh bisa juga dibenarkan jika tujuannya untuk kemaslahatan.

Membunuh kecemasan merupakan upaya yang bisa dilakukan berulangkali. Setiap kali melakukan akan menimbulkan dampak positif. Tidak banyak orang menjadikan target dari frasa ini untuk membentuk dirinya menjadi lebih baik dan terus lebih baik lagi.

Kini kecemasan tersebut diuji tatkala pandemi covid-19 mendera dunia bahkan telah menjadi momok yang mencemaskan bangsa ini.

Walaupun kecemasan itu sudah lama bersemanyam dalam diri. Cemas akan hilangnya penghasilan, jabatan dan kekuasaan. Sudah saatnya semua elemen bangsa membunuh kecemasan itu.

Membunuh kecemasan berarti meningkatkan semangat hidup dan kepercayaan diri bangsa ini. Tugas besar bagi siapapun, terutama pemerintah dalam situasi saat ini. Bahwa mental dan semangat mengalahkan kecemasan perlu dihadirkan.

Pandemi covid-19 adalah lawan nyata walaupun tidak kasat mata. Sebagai bangsa yang lahir dari seorang pejuang yang patriotisme harusnya bangsa ini bisa bertahan dan menghadapi pandemi ini.

Bangsa ini bisa memulai dari setiap individu, rasa cemas sebagai makhluk sosial yang menginginkan berinteraksi dengan yang lain sudah saatnya kita hilangkan. Sudah saatnya sebagai makhluk sosial diimplementasikan untuk membantu sesama. Sudah saatnya orang kaya atau orang yang berkecukupan mendonasikan penghasilannya untuk pencegahan wabah covid-19 dan membantu kebutuhan pokok orang miskin. Sudah saatnya kekuasaan membunuh kecemasan itu dengan memproporsi kebijakan makan dan minum (dapur) orang miskin.

Elemen bangsa mesti bangkit, bersama-sama membunuh kecemasan satu sama lain menghadapi pandemi ini dengan serius. Bangsa ini boleh berbangga dengan pemuka agama yang dengan rela mengosongkan tempat sucinya demi kemanusiaan. Mereka dengan rela membunuh kecemasan menyangkut kepentingan akhirat. Bukankah dengan rasa kasih terhadap umat/manusia kita telah memakai pakaian Sang Khalik.

Terus bagaimana dengan Pemerintah? Apakah pemerintah sendiri akan larut dengan kecemasan ini. Harusnya Pemerintah memegang kendali penuh instrumen perlawanan terhadap wabah ini. Dorong seluruh sumber daya untuk membunuh kecemasan itu.

Bangsa ini harus bangkit dibawah kendali kepemimpinan yang kuat di semua lini kehidupan berbangsa. Ibarat perang gerilya, masyarakat bertahan di rumah dengan memainkan sosial distancing atau phsycal distancing, tapi Pemerintah harus seperti penyerang yang lebih agresif memerangi wabah ini. Saatnya bangsa ini membunuh kecemasan itu di bawah bayang-bayang pandemi covid 19.

Pemerintah mesti menetapkan SOP pencegahan yang super ketat. Baik itu bandara, pelabuhan, terminal, wilayah perbatasan, hotel, tempat keramaian, kompleks perumahan, tempat peribadatan dan kawasan padat penduduk. Di saat warga di rumah, sumber daya Pemerintah mesti kelihatan di luar rumah.

Sudah saatnya pemerintah dengan seluruh sumber dayanya membunuh kecemasan anak bangsa dengan memberikan kepastian hidup. Kesiapan tenaga, sarana dan prasarana kesehatan, memastikan manajemen logistik yang baik, penggunaan data mutakhir orang miskin dan pendistribusian logistik bahan pokok.

Pemerintah harus memiliki kerangka sistematis dalam menyusun dan mengendalikan perangkat pemerintahan memastikan kebahagiaan rakyatnya dalam situasi apapun. Tidak membiarkan rakyatnya secara individu-individu bergerak bebas diluar kendali dengan kecemasannya masing-masing.

Sementara elemen rakyat senantiasa menghadirkan semangat gotong-royong dengan memberikan uluran tangan terhadap sesama yang berkekurangan. Bergerak teratur dan terkendali sebagai kunci perlawanan menghadapi pandemi Covid-19.

Kondisi ini, akan cepat terkendali jika semua elemen bersatu padu. Dengan catatan pemerintah tampil sebagai leader yang baik. Akhir kata, situasi ini adalah ujian menuju bangsa yang lebih kuat.(*)

Makassar, 26/03/2020