Mendayung Dua Karang


Istilah mendayung di antara dua karang lebih sering dilekatkan pada sosok Bung Hatta lewat pidatonya di hadapan Badan Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) pada 1948 yang memuat gagasan politik internasional Indonesia dengan pilihan tidak mengikuti arus dua blok ideologi besar saat itu, yaitu Komunisme dan Liberalisme. Istilah yang sama juga pernah digaungkan oleh Kuntowijoyo dalam teksnya Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia di mana Islam coba ditempatkan sebagai jalan tengah dalam dua tarikan magnet ideologi bernama sosialisme dan kapitalisme. 

Mandayung di antara dua karang dalam tulisan ini dimaknai sebagai usaha menemukan konstruk ideal demokrasi di antara bisikan dualisme dalam filsafat politik, yaitu liberalisme dan komunitarianisme. Pertentangan dua paham ini oleh Immanuel Kant juga diilustrasikan dalam tulisannya yang berpengaruh bagi diskursus demokrasi hingga saat ini. Tulisan itu diberi judul Zum ewigen Frieden Menuju Perdamaian Abadi antara bangsa setan dan manusia. Bangsa setan dalam tulisan Kant merepresentasikan penganut paham liberalisme yang anti Tuhan, agama, kebudayaan serta moralitas dalam kaitannya dengan publik. Sementara bangsa manusia merepresentasikan panganjur paham komunitarianisme yang merupakan lawan dari sifat bangsa setan.

Kedua bangsa ini berbeda dalam melihat kebutuhan negara. Bangsa setan melihat negara sebagai satu institusi yang hanya boleh digerakkan dengan kemampuan rasio memahami mekanisme alam sebagai sumber hukum tunggal yang berfungsi mengatur hubungan antarindividu. Sehingga konstitusi negara harus netral dari agama, kebudayaan dan moral yang bersifat patrikular, pandangan semacam ini sangat mudah kita dapatkan dalam masyarakat yang menganut sekularisme sebagai ideologi politiknya. Adapun bangsa manusia memandang agama, moral dan kebudayaan sebagai modal strategis yang ajarannya harus terakomodir dalam konstitusi negara serta terejawantahkan dalam struktur politik, pandangan semacam ini juga kita temukan dalam paham radikalisme dan fundamentalisme agama.

PRAGMATISME DAN DUALISME LOYALITAS   

Baik bangsa setan maupun bangsa manusia keduanya terkurung dalam sangkar kebencian. Bangsa manusia menuduh bangsa setan sebagai makhluk paling pragmatis sebab yang diperjuangkan oleh kaum mereka adalah model konstitusi yang dapat menjamin kepentingan mereka masing-masing yang mereka sebut dengan konstitusi kebebasan. Di mana mereka diatur untuk menghormati kebebasan setan lain bukan karena alasan moral dan agama melainkan murni alasan pragmatis, demi melestarikan kebebasan mereka sendiri. 

Begitu juga sebaliknya bangsa setan menuduh manusia sebagai makhluk paling sentimental dan egosentris. Mereka sulit bersepakat untuk sebuah konstitusi yang mengatur kehidupan masyarakat banyak sebab mereka terjebak dalam dualisme loyalitas. Loyalitas sebagai warga agama dan loyalitas sebagai warga negara. Kesalehan agama cenderung ditonjolkan di hadapan publik dengan memaksakan paham agamanya sebagai ajaran yang semestinya dianut secara luas oleh semua warga negara yang heterogen dan majemuk. Akhirnya atas nama absolutisme agama orang-orang saleh saling membenci, menegasikan kelompok agama lain bahkan saling membunuh antara mereka, bangsa setan tertawa sambil membayangkan apa yang akan terjadi dengan masa depan negara. Lalu mengapa bangsa manusia yang bertuhan dan bermoral bisa bertengkar dan membunuh, sementara bangsa setan yang tak beragama dan berbudaya bisa saling berdamai dan bersepakat?

MENUJU PERDAMAIAN ABADI 

Abad 21 muncul menandai gugurnya tesis bangsa setan, di mana negara hanya bisa bertahan jika dikendalikan oleh mekanisme alam lewat rasionalitas strategis yang menghasilkan konstitusi kebebasan. Dengan modal rasionalitas strategis bangsa setan awalnya berhasil membangun industri dan birokrasi yang kuat. Namun, di bawah rezim liberalisme tersebut muncul bangsa setan kapitalis yang menjajah para bangsa setan yang miskin dan lemah, tentu saja mereka tak bermoral sebab mereka tak bertuhan dan membenci agama. Konsep justice tidak dikenal dalam bangsa setan, maka terjadi saling bantai antara si setan kaya berjuis dan si setan miskin proletar, sebuah realitas yang juga dihadapi oleh bangsa manusia hari ini.  

Demi mendirikan negara yang kuat, dua bangsa ini sudah seharusnya saling bertemu untuk berdialog. Filsuf Jerman terkemuka, Jurgen Habermas menyediakan satu forum perjumpaan yang disebutnya Post Sekularisme, dialog dua bangsa ini akan menghasilkan bangunan kesalingpemahaman antar satu dengan yang lain. Bangsa setan akan belajar menerima agama, begitu juga sebaliknya bangsa manusia akan belajar menerima mekanisme alam dan rasionalitas strategis. Kedua bangsa ini akan bertemu pada satu titik yang mereka sebut “moralitas universal” yang dapat digali dari hukum alam maupun kebenaran universal agama, dengan begitu agama tetap bisa berkontribusi bagi politik dan demokrasi setelah diuji terlebih dahulu oleh asas kepublikan bangsa setan untuk menjadi satu kebijakan rasional yang dapat diterima secara universal oleh semua pihak.

Kesalingpemahaman akan nilai-nilai universal yang ditampilkan oleh berbagai agama akan dapat menangani potensi konflik yang dipicu oleh upaya kooptasi terhadap sentimentalitas setiap agama oleh pihak tertent. Di sisi lain kebenaran universal tersebut dapat menjadi aspirasi publik dalam konstruk masyarakat majemuk untuk kemudian menjelma menjadi modal bagi tumbuh kembangnya cita-cita solidaritas multikultural.

Maka konstruk demokrasi yang ideal tidak ditempuh dengan depolitisasi agama, menyingkirkan agama dari publik, tidak juga dengan hiperpolitisasi agama, memaksakan agama untuk menjadi ajaran publik, jalan tengaHnya adalah menemukan kebenaran universal agama yang dapat diterima oleh seluruh warganegara secara sukarela.