MENGGUGAT HARI KARTINI

Tesis Gabriel Marcel mengatakan bahwa dunia telah rusak (the broken world), manusia tidak lagi dipandang sebagai manusia tetapi dipandang sebagai fungsi. Setiap individu memandang orang lain sebagai akumulasi dari fungsi, nilai dan harga diri manusia ditentukan oleh fungsinya dalam masyarakat. Hari ini tepatnya tanggal 21 April dikenang sebagai momentum hari Kartini, Peringatan Hari Kartini tersebut dirayakan setelah 2 Mei 1964, usai Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964. Dalam keputusan tersebut, Kartini juga ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Kalau kita analisia fenomena momentum hari kartini menggunakan tesis dari Gabriel Marcel, maka hari kartini saat ini hanya dilihat dari aspek fungsional semata tanpa ada refleksi. Sehingga momentum tersebut berubah menjadi momen yang tandus, kering dan gersang. Kalau kita melirik histori Kartini, dia adalah sosok yang memperjuangkan emansipasi antara laki-laki dan perempuan. Hari ini kita telah menikmati hasil jerih payah yang telah diperjuangkan oleh beliau dengan air mata nanah dan berkeringatkan darah. Pertanyaan yang muncul kemudian apakah hanya sebatas hirearki emansipasi, tanpa partisipasi yang kita ingin kerjar?. Sudah tentunya emansipasi disertai partisipasi, tapi sebelumnya harus ada refleksi dan aksi. Kolaborasi antara refleksi dan aksi itulah tranformasi.

Di masa kecil Kartini pernah mencicipi manisnya persekolahan di ELS (Europese Lagere School). Namun ketika usianya beranjak 12 tahun, Kartini harus tinggal di rumah karena dikeluarkan dari sekolah tersebut. Akan tetapi antusiasme belajar kartini tidaklah surut. Kartini yang bisa berbahasa Belanda mulai menelusuri belantara ilmu pengetahuan secara otodidak, sembari mengirim surat kepada rekan sejawatnya dari Belanda. Berawal dari sini, beliau mulai tertarik pada topik emansipasi perempuan. Kartini ingin memajukan perempuan pribumi setelah diilhami kemajuan berpikir para perempuan Eropa.

Sejarah akan menjadi barang yang statis dan gersang ketika kita tidak memiliki upaya aktivisme sejarah. Dari persfektif ini sejarah dilihat bukan hanya sebagai kemegahan masa lalu yang kita puji-puji sehingga kita tenggelam dalam kemegahan masa lampau tanpa ada upaya untuk mengulang masa keemasan tersebut. Akan tetapi kita melihat sejarah sebagai proses dialektika yang terus berlanjut bukan sebatas barang yang statis. Cukup sinis dan miris ketika kita mengamati fenomena kaum perempuan saat ini – walaupun tak semuanya, mereka kebanyakan menghabiskan waktunya bercumbu dengan gadget tapi lupa bercumbu dengan buku. Mereka sibuk mengurusi kecantikan paras, tapi lupa memperindah akalnya. Mereka sibuk mengurusi hal-hal yang sifatnya aksidental tapi lupa hal-hal yang esensial.

Momentum hari Kartini mesti kita maknai sebagai ajang refleksi, bukan sebagai ajang ikut-ikutan semata sekadar meramaikan media sosial. Martin Heidegger pernah menjelaskan dua tipe manusia: manusia das sein, dan manusia das man. Manusia das sein merupakan manusia yang memiliki karakteristik manusia sebagaimana adanya (it’s in beings), sedangkan manusia das man merupakan manusia yang hanya sekadar ikut-ikutan mengikuti trend yang ada, manusia yang terlempar dari fakta-fakta (faktisitas). Lalu modal kita jadi Kartini apa? Hanya sebatas menatap layar hp sampai mata memerah ataukah hanya mengurusi kecantikan wajah? Yakin kalau hanya sebatas itu perempuan akan selamanya jadi jumud (statis).