MENGEJA CINTA DI BALIK PERANG DUNIA PERTAMA DALAM NOVEL A FAREWELL TO ARMS KARYA ERNEST HAMINGWAY

Berbicara tentang cinta, semua manusia pasti pernah mengalaminya. Cinta tumbuh karena adanya ketertarikan disetiap insan. Cinta tidak butuh penghargaan dan pujian. Sehingga cinta tidak pamrih dan bebas dari segala keinginan balas budi. Kita biasa menyebutnya dengan kata ikhlas. Teringat dengan kutipan seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia yang kerap disapa Buya Hamka mengatakan bahwa cinta adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. Benar yang dikatakannya cinta itu akan selalu ada pada diri manusia, tanpa cinta hidup ini akan bertuan dengan kehampaan.

Cinta akan melukiskan garis lengkungan di balik senyuman, tapi jika sebaliknya maka itu bukanlah cinta, melainkan kesengsaraan. Namun apa jadinya jika cinta itu muncul dalam sebuah peperangan? Sebuah situasi yang tidak pernah diinginkan karena akan selalu memunculkan berbagai konflik dan pertikaian.

Tapi dalam novel A Farewell To Arms, Ernest Hamingway dengan cekatan menjadikan Perang Dunia Pertama sebagai latar belakang dalam ceritanya. Dilihat juga dari latar belakang penulis, ternyata Ernest Hamingway adalah sastrawan yang berkebangsaan Amerika yang lahir pada tahun 1899. Pada waktu Perang Dunia Pertama dia menjadi tenaga sukarelawan sebagai pengemudi ambulans. A Farewell To Arms adalah salah satu karya terbaiknya yang diterbitkan pada tahun 1929. Novel ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Toto Sudarto Bachtiar dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2002. Nama Ernest Hamingway terus melejit setelah memenangkan penghargaan nobel untuk kategori sastra pada tahun 1954. Tulisannya dalam novel ini tidak cukup dibaca sekali, melainkan harus diiringi dengan perenungan. Kata-kata yang cukup rumit diikuti dengan latar yang tidak biasa membuat orang-orang yang membaca harus berfikir ekstra dalam memaknai cerita dalam novel ini.

A Farewell To Arms tidak hanya membawa kita pada hiruk pikuk peperangan tetapi ada sebuah kisah yang setiap orang tidak pernah bosan untuk membahasnya yaitu kisah cinta. Cinta dalam novel ini tumbuh dengan cara yang berbeda dan tidak terduga. Sebelum membaca novel ini dilihat dari judulnya yang ada di benak kita adalah sebuah peperangan tapi ternyata, peperangan itu dijadikan awal munculnya jalinan kasih antara Henry dengan Catherine Barkley.

Bermula dari Letnan yang bernama Henry Frederich yang ditempatkan di garis depan pertempuran Italia. Letnan ini bertugas di bagian medis selama peperangan. Dia turut berperang bersama Italia melawan Austria. Ia bertempur di Gorizia, sebelah utara Plava, perbatasan Italia – Austria. Hemingway menggambarkan tingkah laku prajurit di medan perang pada saat bebas tugas yaitu dengan mencari gadis-gadis cantik.

“Nanti sore kita akan pergi mengunjunginya dan kau bisa melihatnya sendiri. Dan di kota ada gadis-gadis Inggris yang cantik. Sekarang aku sedang jatuh cinta pada Miss Barkley.” (Hamingway, 2002: 14).

Dari kutipan di atas memperkenalkan Rinaldi sebagai teman dekat Henry sebagai sosok yang suka terhadap gadis-gadis cantik dan ternyata gadis yang disukainya adalah Miss Barkley. Namun pada akhirnya ternyata Rinaldi tidak dekat dengan Miss Barkley melainkan Henry yang menjalin kedekatan dengan jururawat tersebut.

Hemingway berusaha membawa kita pada suatu hal yang tidak terduga. Secara tidak sadar membalikkan pandangan kita bahwa Miss Barkley akan bersama dengan Henry. Padahal Henry merupakan sosok yang tidak pernah jatuh cinta.

“Aku tahu aku tidak mencintai Chaterine Barkley dan aku tidak punya niat mencintainya.” (Hamingway, 2002: 39).

Jelas terlihat dari kutipan di atas Henry tidak benar-benar mencintai Barkley. Henry menganggap perkataan cinta kepada Barkley adalah sebuah pertandingan main bridge, di mana kita mengatakan sesuatu dan bukannya main kartu. Cinta dalam konteks ini berawal dari kepura-puraan. Seperti yang dikatakan John Lee, dalam buku klasiknya yang berjudul The Colors Of Love menganalogikan tipe cinta seperti lingkaran warna atau istilahnya color circle. Dalam buku tersebut dijelaskan tiga jenis cinta yaitu Eros, Ludos, dan Storge. Eros merupakan perasaan cinta dan sayang terhadap seseorang yang dianggap ideal, Ludos menganggap cinta hanya sebatas permainan perasaan belaka, sedangkan rasa cinta hanya sebatas persahabatan dikenal dengan istilah Storge. Tampaknya pada tahap ini cinta Henry ke Barkley berada pada tipe Ludos, karena Henry menganggap perasaan yang dimilikinya tidak benar-benar serius terhadap Barkley. Namun suatu hal yang tidak disangka bahwa dari kepura-puraan tersebut jalinan kasih mereka berdua terus berlanjut walaupun Barkley sudah mengetahuinya.

Di tengah kisah cinta antara Henry dan Barkley Perang Dunia Pertama masih saja berkecamuk, dan mengharuskan Henry berangkat karena ada serangan di sebuah hulu sungai Plava. Dan tampak bagaimana Hemingway menggambarkan Barkley sebagai perempuan yang sangat perhatian terhadap Henry. Tampak pada kutipan di bawah ini.

“Ia melepaskan sesuatu dari lehernya dan menyisipkankannya ke dalam tanganku. “Santa Anthonius,” katanya”. (Hamingway, 2002: 59).

Barkley memberikan sebuah kalung Shanta Anthonius kepada Henry yang dipercayai orang Katolik sebagai pelindung dan sangat memberikan manfaat. Sebagai orang yang dicintainya Barkley berharap bahwa Henry dapat pulang dengan selamat dari peperangan.

Jalinan kasih antara Henry dengan Barkley semakin hari makin erat. Tak lama pada saat Henry pergi berperang dan terluka, Barkley datang menjenguk Henry. Dan disitupun Henry benar-benar jatuh cinta pada Barkley. Ternyata benar yang dikatakan Hawking seorang ahli sains modern sekaligus ahli teori cinta bahwa “Anda tak bisa memilih dengan siapa jatuh cinta.” Henry tidak pernah menyangka bahwa dia benar-benar jatuh cinta pada Barkley yang awalnya hanyalah sebuah kepura-puraan tetapi sekarang menjadi keseriusan. Dilihat dari kutipan di bawah ini.

“Dia pergi ke luar. Tuhan tahu, sebenarnya aku tak ingin jatuh cinta padanya. Aku tak pernah punya niat untuk jatuh cinta pada siapa pun. Tetapi Tuhan tahu aku kini telah jatuh cinta dan kini aku terbaring di atas tempat tidur bangsal rumah sakit di Milan, dan segala macam persoalan berkecamuk dalam kepalaku.” (Hamingway, 2002: 122).

Ternyata Henry dan Barkley mengekspresikan cinta dengan cara menjalin hubungan yang tidak halal. Belum ada ikatan pernikahan diantara mereka namun sampai pada akhirnya Barkley mengandung.

“Aku mengandung sayang. Sudah hampir empat bulan…” (Hamingway, 2002: 178).

Dari kutipan di atas, terlihat bagaimana mereka mengartikan sebuah cinta dengan menjalin sebuah hubungan yang menyebabkan kerisauan di antara mereka berdua.

Semakin jauh kita membaca novel A Farewell To Arms, Hemingway terus saja membumbui peperangan tersebut dengan kerumitan kisah cinta antara Henry dengan Barkley. Dilihat dari kisah ini bisa dikatakan bahwa cinta membelenggu kita sehingga kita tidak bisa menjadi manusia yang merdeka. Cinta merupakan bentuk penjajahan melalui kesadaran sehingga memaksa kita untuk melakukan hal-hal yang melanggar norma.

Namun tak lama berselang Henry mendapat panggilan kembali, dia ditugaskan untuk memimpin beberapa tentara medis membawa kembali mobil-mobil ambulans dari daerah konflik. Mereka berduapun kembali dipisahkan. Di perjalanan inilah Henry mulai muak dengan peperangan karena tidak pernah berhenti.

Sampai pada akhirnya Henry dan Barkley melarikan diri ke Swiss menggunakan perahu pada tengah malam. Mereka berdua tinggal bersama dengan melupakan segala hiruk pikuk peperangan. Barkley dan Henry sudah tinggal serumah tetapi belum juga mengikat hubungan mereka dengan ikatan suci. Barkley selalu menolak ajakan Henry untuk menikah. Dilihat pada kutipan di bawah ini.

“Kapan kita kawin?”
“Kapan saja asal aku sudah jadi langsing lagi.” (Hamingway, 2002: 375).

Hingga tiba waktunya Barkley sudah merasakan kontraksi pada kandungannya. Namun, di rumah sakit Barkley mengalami kesulitan pada saat ingin melahirkan. Henry merasakan kerisauan yang begitu dalam. Dia takut kehilangan sosok perempuan yang dicintainya.

“Aku tahu dia akan mati dan aku berdoa agar dia tidak mati. Jangan biarkan dia mati Tuhan.” Hamingway, 2002: 420).

Dari kutipan di atas membawa kita pada peristiwa yang menyayat hati. Ketika seseorang yang kita cintai berada di ujung kematian, tak ada yang bisa dilakukan selain berharap kepada Sang Pencipta. Ketulusan doa menjadi kekuatan dalam menghadapi sebuah masalah.

Pada akhirnya Barkley tidak bisa diselamatkan karena mengalami pendarahan secara terus menerus, tetapi anaknya bisa tertolong.

“Kita seakan-akan sedang mengucapkan selamat berpisah kepada sebuah patung. Setelah sejurus lamanya aku pun pergi keluar meninggalkan rumah sakit dan berjalan pulang ke hotel dalam hujan.” (Hamingway, 2002: 423).

Cinta kiranya mampu menyatukan dua insan yang saling menyayangi, tetapi berbeda dari kisah cinta antara Henry dan Barkley yang diceritakan Ernest Hemingway dalam novel A Farewell To Arms. Pertemuan yang tanpa diduga dan dihiasi dengan beberapa konflik menyatukan Henry dan Barkley. Setelah perjuangan yang mereka tempuh untuk memperoleh hidup yang indah dan terlepas dari perang. Namun pada akhirnya mereka pun juga dipisahkan dengan cara tidak terduga. Kematian menjadi ujung dari cerita keduanya. Alam merenggut nyawa Barkley. Begitulah cara kita mengeja cinta berdasarkan kisah Henry dan Barkley.

Pada akhirnya segala yang kita miliki akan menjadi kenangan. Kenangan yang memberi duka atau duka yang menjadi suka. Di balik kesedihan yang mendalam selalu ada hikmah yang akan menjadi pelajaran untuk hidup kita di hari esok.

Sederhananya, cinta hanya memberi dan menerima. Tetapi, hanya dengan cinta kamu bisa merasakan hidup dan mati.