Renjana

Pikiranku kosong tak bertuan, menjelajah pada lautan jiwa yang mati. Tanpa ragu, kugunting rambutku dan terus kugunting hingga tak berbentuk. Aku mengguntingnya di depan cermin sambil tertawa dan menangis. Potongan rambutku berjatuhan ke dasar lantai yang berdebu. Rambutku terus kupotong hingga botak.

Layaknya patung, tubuh ini seraya membisu, membeku dan tak berkembang seperti luka di hati yang sekarang merekah ini. Kesunyian malam ini seperti hujan yang tak berawan di tengah malam. Aku sendirian dan tak bisa merasa kesepian lagi. Kehampaan ini telah berteman akrab denganku.

Kehilangan dua sosok manusia yang menjadikanku nampak di dunia ini kiranya mereka telah tenang di surga. Duka ini mendatangkanku pada remah mimpi yang terserak. Ingin kukecup keningnya dengan doa pengantar lupa, tapi ini hanya membawaku pada ingatan pahit akan darah kental bercap merah maron di bajunya.

Malam itu dia datang mengetuk pintu kamarku. Terlihat bayangannya dari celah bawah pintu. Hanya diam. Dia tidak melakukan apapun selain menghasilkan suara bising. Kurasa dia sedang memperhatikanku dari lubang kunci. Melihat sampai aku lengah dan ia akan menyerangku sama dengan apa yang ia lakukan pada kedua orang tuaku. Aku hanya meringkuk di atas kasur dan menarik selimut sampai menutup kepala.

Perempuan tua dengan punggung yang telah melengkung terus mengetuk pintuku dengan keras. Kubukanya dengan perlahan, kutatap mata sendunya dengan pandangan kosong. Pergunjingan dengan penuh kedengkian terus berputar di kepalaku. Ketika dia ingin mengucapkan kata, kupegang tangannya dan kuseret di atas tempat tidur. Gunting yang sedari tadi kupegang kugoreskan di rambut putihnya dengan lembut.

“Kau yang membawa orang tuaku pada kegelapan maka akan kubawa pula kau ke tempat yang sama”.

“Nyatanya kita akan sama-sama berada pada tempat gelap”, bisiknya.

Dia tetap tersenyum menatapku, kugunting rambutnya hingga tak ada sehelai pun menempel di kepala. Lalu kupindahkan gunting itu untuk menghilangkan kedua bola matanya, dan menjadikan telinganya serupa robekan kertas. Dan yang terakhir kutancapkan gunting itu di bagian tengah tubuhnya.

Aku tertawa lepas dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Aku tersungkur memeluk tubuh yang tak berjiwa. Gemuruh petir bernyanyi sayu seakan terlalu menyentuh sesuatu yang begitu rapuh. Aku rapuh pada kesunyian, dan begitupula dengan mereka yang pergi. Ku tak akan membuatnya berjalan sendiri, kucukupkan menghidupi masa silam dan memberi makna pada kehidupan yang baru.

Aku beranjak dari tempat yang berlumur darah menuju cermin usang yang telah menua. Tetapi ku tak menemukan wajahku di dalam cermin. Ternyata aku tergiring mengetuk langit pada hempasan malam untuk menemui mereka yang kurindukan.

Makassar, Desember 2018