MEREFLEKSI TUHAN

Ada banyak hal yang selalu ingin kupertanyakan pada Tuhan. Andai Dia dapat ku sentuh. Walau sebenarnya sangat kuyakini Dia selalu “ada” di dekatku. Sekilas aku terasa seperti penganut Atheis yang meragukan ke-Esa-annya. Entah di sudut hati bagian mana terselip keinginan yang teramat dalam atas keberadaan-Nya. Kupikir semua manusia sama saja tentang hal ini.

Tuhan. Telah kucoba “meraba” kembali ke masa lalu, ke masa yang telah abu-abu di ingatanku tentang kapan pertama kali aku berpikir tentang Tuhan dan keyakinanku terhadap-Nya. Sepanjang perjalanan yang telah kulalui, Ibu dan Ayah tidak begitu menekankan bahwa yang utama dalam hidup ini adalah meyakini Tuhan.

Ibuku. Namanya Nur. Entah dengan pesan apa hingga nama itu disematkan padanya. Menurut pikiran awamku “Nur” adalah cahaya, dan cahaya adalah penerang kehidupan. Tidak demikian dengan ibuku yang menganut dua keyakinan sekaligus. Dia sholat layaknya penganut agama Islam, namun dia “menghamba” pada kepercayaan yang diyakini leluhur kami, semisal membuat sesajen ataukah mandi kembang tujuh rupa dengan tujuan dilancarkannya rejeki, walau kata ibu, “niatkan saja bahwa ini bukanlah syirik”. Di usia yang terbilang dini seperti sekarang, 20 tahun, aku mulai sering menerka-nerka tindakan Ibuku. Apakah Tuhan bisa diperlakukan seperti itu? Tidakkah Dia marah?

Lain lagi dengan ayahku. Ayah akrab dipanggil Ahmad. Sebenarnya ayah orang pendiam, namun belakangan beliau terlihat tidak menyukai perilaku Ibuku yang terlalu cemas berlebihan terhadapnya. Kata Ayah, Ibu baru saja bertemu temannya yang “orang pintar” itu. Namanya Lena. Tante Lena ini, beberapa hari lalu menerawang perihal hubungan Ibu dan Ayah di masa datang. Dia mengatakan bahwa Ayah sedang menyukai perempuan lain namun hanya sekadar suka biasa saja.

Sejak pertemuan Ibu dan Tante Lena di rumah beberapa waktu lalu tersebut membuat ayah tidak nyaman. Ibu tidak membawa Tuhan ke dalam dirinya. Raganya menyembah Tuhan yang satu namun hatinya berada pada Tuhan yang lain. Tuhan yang menurutnya lebih “tampak”. Dengan keaadaan seperti itu, ayah yang sejatinya lebih banyak diam dan pasif, dia tidak pernah menganggap hal tersebut adalah masalah berat. Entahlah, aku bingung. Seperti ingin bicara namun tertahan dengan sikap Ibu yang tidak ingin menerima pendapatku.

Hingga sekarang, Ibu selalu menganggapku anak kecil dan tidak bisa memberi solusi apapun dalam rumah. Termasuk saran atas pilihan warna apa yang cocok untuk dinding rumah agar terlihat bahwa kami Islam. Ku pikir, mungkin Ibu sosok yang mandiri karena bisa mengurus segalanya sendiri. Entah pula mengapa hal itu menggangguku. Sebab masih ada ayah di dalam rumah. “Rumah” butuh sosok ayah yang aktif. Menurutku seperti itu.

Aku mulai mencoba mencari Tuhan dalam diriku, dalam hidupku. Sebab aku terlahir dalam keluarga Islam maka aku mencari-Nya dengan jalan Islam. Sholat, puasa, dan mengaji. Aku seperti sedang “meraba” Tuhan. Pada suatu waktu, aku bertemu teman kecilku yang kini telah berhijrah sebab telah berhijab syar’i. Kami larut dalam percakapan tentang Tuhan.

Namanya Ren. Hingga saat ini dia adalah teman yang benar-benar tulus mencintaiku sebagai sahabatnya. Dia perempuan hebat, sebab ketika Tuhan “memanggil” Ibunya, Ren tidak menangis, dia hanya sedikit tersenyum menunduk mencium kening Ibunya yang dingin dan mengucapkan satu kalimat Allah, “Alhamdulillah”. Ren berkata, “Ibuku selamat. Allah telah mengangkat derajatnya di surga”. Aku yang berada di dekatnya saat itu hanya terpaku dan seperti mencoba mengolah akal sehatku tentangnya. Aku mencoba bertanya padanya.

“Ren. Kamu ini apa? Mengapa ada orang setulus dirimu?”.

“Aku terlalu mencintai Ibuku, dan aku pun lebih mencintai Allah, dengan begitu aku tidak boleh menangisi Ibuku yang sedang menghadap Allah Subhanahu Wata’ala”. Tuturnya

Dalam hidupku, hanya dia satu-satunya manusia yang pernah begitu tegar ketika diberi cobaan seperti itu. Kematian adalah patah hati terberat dalam hidup bagi yang ditinggalkan. Namun tidak menurut Ren.

Ren, perempuan penuh cinta, kelembutan dan ketulusan. Ada Tuhan dalam dirinya.

Begitu banyak hal indah dalam hidup yang tak terhingga jumlahnya. Musik, tawa, Mall, Bioskop, dan semacamnya. Namun Tuhan tak berada di dalamnya. Musik sudah pasti membuat terlena dan lupa. Konon katanya “tawa” dapat mematikan hati, Mall dan Bioskop adalah tempat berbaurnya perempuan dan laki-laki hingga tak ada sekat, juga merupakan hal yang tak disukai Tuhan, Allah.

Pada suatu kondisi aku mencoba merenung. Mengapa Tuhan selalu hadir ketika aku terbangun di pagi hari dengan bugar tanpa sirat lelah di wajah dan tubuhku? Itu karena pada malam sebelum terlelap yang ku ucap adalah Allah Tuhanku dan istighfarku. Mengapa Tuhan selalu hadir ketika bertemu teman dan aku tersenyum padanya? Sebab, dengan begitu aku dihindarkan satu pintu kesombongan. Tuhan, Allah, ketenangan, adalah sama.

Tambuha, Februari 2020