Tentang Waktu

Secara tak sadar, dalam hidup kita ada yang memposisikan waktu dalam dua kategori, yaitu linier dan sirkuler, walau jika ingin diteoritisasikan sebenarnya tidak seteoretis yang bisa dijabarkan. Waktu yang dikategorikan secara linier yaitu oleh mereka yang beranggapan bahwa waktu akan selalu berjalan kedepan dan berkelanjutan, pepatah Arab menyebutnya Lan Tarji’al Ayyamullati Madzot tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.

Mereka yang berpandangan demikian akan mengejawantahkan waktu ke dalam aktivitas-aktivitas yang produktif dengan memegang semboyan, kesempatan tak datang dua kali maka gunakanlah sebaik mungkin, gunakanlah masa muda kita untuk berjuang karena masa tua kita akan menuai hasil. Jika kesadaran ini tersugesti maka kita akan menjadi pribadi yang selalu ingin berkembang dari masa ke masa.

Kedua adalah mereka yang menganut waktu secara sirkuler, yaitu yang beranggapan waktu tidak berjalan ke depan, ia selalu berulang dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Contohnya setelah pagi ini berlalu, masih akan ada pagi esok yang datang kembali, jika dalam suatu situasi merasa gagal, tak perlu khawatir masih akan ada kesempatan berikutnya. Tugas kita hanya perlu berbuat dan menunggu hari esok untuk menyempurnakan hal-hal yang belum sempurna. Implikasi dari corak berpikir seperti ini yaitu lahirnya anggapan bahwa sejarah selalu berulang, contohnya ada qabil ada habil, ada musa ada Firaun, ada Nabi Muhammad ada Abu Lahab, itu sebagai simbol kebaikan dan keburukan yang selalu ada.

Dalam konteks kekuasaan, corak berpikir ini melahirkan anggapan bahwa kekuasaan akan dipergilirkan, ketika kekuasaan lama telah berjaya, maka kelak akan datang suatu masa di mana ia akan runtuh dan digantikan oleh kekuasaan yang baru, dari satu dinasti ke dinasti yang lain, dari raja yang satu ke raja yang lain, begitulah sejarah berbicara dan mendefiniskan dirinya. Ibarat buah apabila telah matang atau membusuk dengan sendirinya akan jatuh dan digantikan oleh buah-buah lain yang bermunculan. Berpikir ala sirkuler menghadirkan anggapan bahwa waktu akan berputar dan kita hanya perlu mengisi perputaran waktu.

Implikasi dari dua corak pandang di atas tercermin dalam tingkah kita sebagai reaksi atas kecenderungan terhadap salah satunya. Mereka yang beranggapan waktu bergerak secara linier maka sedetik pun tak akan dibiarkan lewat tanpa manfaat. Sebaliknya, mereka yang berfikir secara sirkular selalu menggantungkan harapan akan apa yang terjadi di hari esok. Kalau kita mau kritis, hari esok jelas akan datang tetapi bagaimana kualitas kedatangannya itu bergantung bagaimana kedatangan itu kita sambut dengan kesiapan dan segala upaya. 

Jika pun hari esok datang, belum tentu ia hadir untuk kita. Dalam bahasa yang lebih sederhana memposisikan waktu secara linier akan mendorong kita berkembang walaupun ada yang terkesan lambat, sementara memposisikan waktu secara sirkular mendorong kita untuk bergantung, yaitu bergantung kepada hari esok yang belum pasti untuk kita. Tinggal bagaimana sikap kita, dengan kesadaran ini apakah mau kita jadikan alat untuk memilih dan memilah setiap tindakan yang kita ambil agar berkualitas, atau justru melakukan hal yang membuat kita statis atau bahkan mengalami degradasi. Itu pilihan kita semua karena kita adalah makhluk merdeka. 

Tapi ingat ! Orang sukses dan orang gagal sama-sama punya waktu 24 jam. Mengapa hasilnya berbeda? itu bergantung bagaimana cara mereka menjalani 24 jam yang mereka punya.

Baca Juga Tulisan Sebelumnya