Konstruk Kolaborasi-Relasi: Sebuah Dentuman Refleksi Terhadap Alam

Seorang sejarawan Yunal Noah Harari dalam Sapiens menyebutkan bahwa awal mula bencana adalah saat revolusi pertanian mulai dikenal. Manusia ramai-ramai mendomestikasi apa-apa yang ada di alam berupa hewan dan tumbuhan. Dan itu pula menjadi titik awal kerenggangan silaturahim antara alam, hewan dan manusia yang berdampak pada imbalances ekosistem, tentu kita bisa menebak siapa aktor yang terlibat dalam kerusakan ini. Ya, dengan kepongahan dan jiwa superioritas manusia atas mahluk lain.

Sudah menjadi fitrah bagi alam ini sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya mahluk hidup. Tetapi demi kepuasan materialisme kita juga mengembangbiakkan besi dan menaman kedalam tubuh alam, menghasilkan berbagai senyawa kimiawi yang bersifak karziogenik bagi mahluk hidup di atasnya termasuk manusia. Manusia dengan segala bekal kemampuan kognitif mampu menghindari marabahaya tersebut, tetapi bagaimana dengan hewan? bagaimana dengan tumbuhan? Kita mungkin perlu belajar banyak dari refleksi perjalanan Nobita dan kawan-kawannya ke negeri para tumbuhan. Betapa semangat, keluh kesah, kesedihan dan amarah berkecamuk dalam benak tetumbuhan itu melihat kepongahan dan keegoisan manusia (sesekali tengoklah film animasi, di sana banyak pelajaran hidup yang mulai dimarjinalkan orang dewasa). Jika Jengis Khan pernah tercatat memusnahkan perpustakaan terbesar Al-Hikmah di Baghdad kita tentu tidak lupa kepongahan sapiens yang berhasil memusnahkan labotratorium akbar folara fauna di Amerika dan Australia.

Tentu kita sama-sama tahu dan masih ingat betul bahwa beberapa kondisi yang kita ciptakan hari ini  sangat tidak cocok dengan peranti lunak biologis alam ini. Namun seberapa jauh kesadaran itu mengubah cara berpikir dan bertindak kita? Jika mengacu pada taksonomi bloom mungkin level kita hanya mandek pada level dua (understanding), hanya sebatas paham terhadap kondisi sekitar belum mampu berbgerak ke level 3 (applying) untuk melakukan agenda aksi yang berefek signifikan pada upaya dinamisasi ke arah perbaikan lingkungan.

Beberapa mungkin hanya akan menertawakan aksi mogok sekolah remaja seuisa Greta Tunberg karena gelisah melihat situasi global ini dengan yang lantang berbicara Our House was on fire, I want you to panic. Tapi realitas global menunjukkan bahwa pisau analisis yang kita banggakan ketajamannya ternyata menjadi tumpul di hadapan remaja usia 15 tahun. sebab actions speak louder than words.

Segala teoritikal yang kita pahami terkait alam dan kemanusiaan yang menjadi value dari manusia sepertinya menjadi lumpuh di hadapan situasi alam dan sengala lingkungan yang menunjukkan imbalances. Mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor hingga kebakaran hutan yang mencuat di berbagai belahan bumi. Hingga hari ini, kehadiran Coronavirus (CnV) yang berhasil membuat WHO menetapkan efek yang ditimbulkan sebagai pandemi semakin menambah kompleksitas dinamika yang lahir dari kolaborasi akal dan jari manusia.

Tetapi kondisi ini memberikan dampak yang berbeda. Jika ulah kolaborasi akal dan jari manusia beberapa waktu lalu berdampak pada amukan alam dan kerusakan ekosistem, keterpurukan mahluk hidup lain, hari ini dampak CnV  berimbas kepada pemilik akal dan jari itu. Manusia dipaksa melakukan karantina untuk menghindari bahaya pandemi. Berdiam diri di tempat masing-masing, didomestikasi oleh alam. Mungkin ini pertama kalinya dalam sejarah alam bebas dari kejahilan manusia dan berhasil melakukan balas dendam secara global melalui washilah CnV.

Karantina memberikan efek psikososial yang signifikan. Beban pekerjaan dari luar rumah ditarik paksa ke dalam rumah, medium belajar yang berhektar-hektar dipangkas dalam ukuran inci layar komputer, agenda yang tersusun rapi terpaksa dimuseumkan, kerugian tak dinyana mencapai 70%, omset menurun, pengeluaran meningkat, kebangkrutan menanti, krisis ekonomi menampangkan ujung hidungnya.  Stress tidak bisa dihindari, hanya pola koping maisng-masing yang mampu menopang.

Namun hal itu memberikan ruang yang bebas bagi alam untuk berekspresi membersihkan dirinya dibantu oleh komponen mahluk hidup lain tanpa melibatkan manusia. Di antaranya adalah laporan berbagai negara seperti China mengalami penurunan polusi udara mencapai 40%, India 70% dalam sepekan, AS (30%), Italia 47%.

Penampakan citra satelit menunjukkan bumi kita mengalami peningkatan kualitas udara. Tentu ini berdampak baik bagi atmosfer dalam menjaga stabilitas ekosistem bilogis maupun sosial. Hingga mucul sebuat anekdot “ mungkin kitalah sebenar-benar virus, dan CnV adalah antivirus yang dicipta Tuhan untuk menyelamatkan alam”. Kondisi seperti ini harus menjadi dentuman refleksi dalam melihat relasi kita dengan alam dan mahluk hidup lain. Kita dicipta dan disisipi akal yang menjadi pendukung atas kelebihan terhadap mahluk lain, tetapi tentu egosime di antara sesama mahluk harus ditanggalkan. Perlu diingat selain akal dalam tubuh kita juga disisipkan chip yang akan merekam seluruh tindakan kebaikan dan anarkisme yang dilakukan. Ia adalah DNA yang jejaknya tidak akan bisa terhapus. Dan tentu setiap jejak akan menjumpai konsekuensi secara kulutural (cara lingkungan) dan secara spiritual (cara Tuhan).

Jika konsekuensi tersebut hanya ditanggung oleh subjek saja mungkin tidak mengapa sebab tidak merugikan banyak pihak. Namun, pada kenyataannya hampir setiap tindakan yang dilakukan akan selalu berdampak terhadap banyak pihak.   Cukuplah ungkapan “berpikir sebelum bertindak adalah semboyang orang bijak” menjadi alarm terhadap keputusan tindakan sebagai hasil kolaborasi akal dan jari yang akan di ambil apakah ianya berujung mencederai relasi terhadap alam dan mahluk lain atau sebaliknya, mengukuhkan relasi tersebut sebagai sesama mahluk Tuhan yang memiliki kesetaraan dalam hak dan tanggung jawab menjaga amanah pengelolaan alam ini.