Jabariyah Not Born Again

Saat ini kita sedang diperhadapkan dengan masalah yang sangat serius (kata media). Seandainya yang menjadi ancaman saat ini adalah sesuatu yang nampak dan bisa dibereskan hanya dengan sekali tebas sebilah pedang, barangkali para jagoan kampung akan diturunkan untuk menuntaskan masalah tersebut, ataukah preman-preman pasar bisa dilibatkan untuk menjadi pahlawan yang akan memberi pertolongan kepada semua orang yang dilanda kepanikan, atau pakek saja paranormal dengan ilmu santetnya yang menakutkan, sekalian libatkan militer untuk memutus mata rantai permasalahan. Namun masalahnya berbeda, cara menganinya rumit, kita semua sedang diperhadapkan dengan wabah penyakit yang mematikan. Pandemi covid 19/ virus corona ini tak kasat mata, dan hanya dapat ditangani serius oleh Ahli Kesehatan (sebut saja dokter dan turunan-turunannya).

China lockdown, Italia lockdown, otoritas pemerintah dipergunakan untuk memberikan himbauan agar menetap di rumah dan mengosongkan semua tempat yang diwanti-wanti bisa menjadi corong tersebarnya virus ini, dan yang paling mengerikan adalah final dari manusia yang terjangkit viurs ini adalah kematian, bilamana ia tidak ditangani serius oleh ahlinya (pihak kesehatan).

Di sisi lain, kita terkadang diperdengarkan celetup-celetup kosong oleh beberapa orang sekitar, “sudahlah tidak usah panik, Allah yang memberi penyakit, Allah jugalah yang akan mencabut penyakit itu, tawakkal saja lah”. Narasi seperti ini memicu rasa jengkel beberapa orang. Tidak hanya tenaga medis yang terpancing dan dibuat marah, bahkan para akademis dan kaum “intelek” pun berupaya melawan statemen ini dengan melahirkan tulisan-tulisan di sosial media. Hal itu dianggap sebagai paradigma lama yang digali dan propagandakan kembali; paradigma kaum Jabariyah seribu tahun lalu (masa Tabi’in).

Kaum Jabariyah beranggapan bahwa, manusia tidak mempunyai kekuatan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam hal ini bergantung dan terikat sepenuhnya pada kehendak mutlak Tuhan. Apakah dengan munculnya kembali paham-paham seperti ini sebagai pertanda bahwa “Jabariyah Reborn?”, ini akan menjadi perbincangan serius dalam menghadapi kondisi saat ini.

Yang pertama, apakah orang-orang yang yang mengangkat narasi/ paham “jabariyah” ini adalah seorang ulama yang diakui? Ataukah seseorang yang punya pengaruh kuat dalam satu lingkup masyarakat? Jawabannya bukan, ustaz kondan siapa di channel youtube yang pernah memprovokasi masyarakat untuk tidak takut pada corona dan cukup takut saja kepada Allah? Tidak ada sama sekali jejak digital yang saya temukan di laman sosial media atau youtube sekalipun. Wallahu a’lam jika itu di luar Indonesia. Berkaitan dengan hal itu, dengan sendirinya, label “Jabariah reborn” terbantahkan, karena narasi tawakkal tanpa ikhtiar hanya celetup atau mungkin hanya sebatas guyonan sekelompok orang yang tidak punya pengetahuan yang mumpuni tentang takdir atau paham Jabariyah.

Yang kedua, pun jika kita mengaggap bahwa paham Jabariah telah lahir kembali, ia adalah hal yang tidak harus dipersalahkan. Toh di masa lalu ia juga ngefek bagi para penganutnya, hanya saja mereka gagal pada apa yang disebut oleh Haidhar Baghir dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia yaitu Hermeunetika (Islam adalah agama otentik, yakni selamanya akan sejalan dengan perkembangan zaman).

Jika saat ini masih ada sekelompok orang yang berpaham “Jabariah”, kita boleh bilang, itu tidak berlaku untuk wilayah kesehatan, karena kita memiliki alat yang sedemikian canggihnya untuk menangani segala bentuk penyakit, termasuk covid 19/ virus corona.

Yang ketiga, saat ini kita seharusnya menjauhi segala bentuk perdebatan dan justifikasi kelompok. Lengah sedikit saja, kita semua akan musnah. Fokus kita saat ini adalah bagi job. Para akademis yang punya konsen pada wilayah agama dan sedikit banyak paham persoalan takdir bertugas saja untuk mencerdaskan paradigma kaum awam. Ini adalah solusi, ketimbang kita hanya menghabiskan waktu untuk berdebat dan saling menyalahkan, buang-buang waktu, narasi dan “daya” pikir saja.

Jika pemerintah memang ingin memutus rantai penyebaran virus, lockdown adalah pilihan tepat. Kerahkan pihak keamanan, “jewer” saja penduduk sipil yang tidak mau ikut aturan, toh dalam hal ini pemerintah punya otoritas untuk bertindak, ketimbang hanya sekadar mengeluarkan surat himbauan yang tidak “berfaedah”. Datangkan pihak kesehatan luar yang memang ahli dan bisa menganani permasalahan ini, toh investor saja bisa didatangkan, masa hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak bisa diperadakan!!

Konklusinya, Jabariyah tidaklah lahir kembali. Paham ini telah direduksi oleh zaman. Tidak ada ulama yang mempropagandakan itu, kalau tidak percaya, deteksi saja orang-orang yang berkata begitu, sedikit banyak kita akan menjumpai orang-orang awam, bukan ulama atau cendekia.

Saat ini kita bertanggung jawab atas diri kita masing. Menyadarkan kembali pola pikir, dan menyerahkan permasalahan ini kepada ahlinya. Kita semua bertawakkal, namun Allah lah yang telah memberikan ilmu pengetahuan untuk menjadi jalan ikhtiar dalam menuntaskan permasalahan, semoga kita semua dalam lindungan Allah Azza wa Jalla.

Wallahu a’lam.

Maret 2020