Marsinah: Mawar Hitam yang Sirna

10 April 1969 merupakan hari kelahiran seorang pejuang dari kalangan buruh.Namanya “Marsinah” di kalangan masyarakat Indonesia harum namanya layaknya bagai setangkai mawar harum semerbak yang tak lekang dipupuki oleh kisah kisah heroik sebagai sosok wanita pekerja yang aktif menyuarakan suara kaum tertindas terlebih di kalangan buruh
Marsinah adalah sosok buruh pabrik PT. Catur Putra Surya Porong, Sidoarjo, Jawa Timur serta juga dikenal sebagai sosok penggerak massa dalam aksi kenaikan upah buruh


Kisah ini bermula pada Tahun 1993 Pemerintahan setempat mengeluarkan Surat Edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi imbauan kepada pengusaha agar meningkatkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok.Hal ini kemudian dibahas oleh karyawan perusahaan dengan resah.


Marsinah dan rekan rekannya melakukan aksi massa secara terus menerus.Siang hari tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.
Keesekon harinya kabar Marsinah tidak terdengar lagi. Marsinah ditemukan tanggal 8 Mei 1993.


Dewasa ini menjadi sosok Marsinah bukanlah hal yang keliru bahkan terkadang kita perlu sosok Marsinah baru atau bahkan lebih dari padanya, terlepas dari pandangan konvensional masyarakat mengenai kesetaraan gender. Diperlukan sosok wanita berani yang memperjuangkan haknya dengan gagah berani.


Menjadi wanita modern ini bukanlah sekedar mempercantik tampangnya dengan skincare mahal ataupun pakaian mempesona dan mewah layaknya artis artis ibukota. Tapi juga memperkaya wawasan dan memunculkan kepekaan sosial seperti sosok seorang Marsinah.


Bulan April ini sebagai bulan kelahiran aktivis Marsinah. Ada dua hal yg cukup viral dan menarik untuk dibahas. Pertama, mengenai semakin garangnya wabah pandemi korona atau covid 19. Tapi, penulis tidak akan berpanjang lebar mengenai pandemi ini. Kedua, lagu yg viral dengan judul “Aisyah Istri Rasulullah”. Terlepas dari pro dan kontra mengenai lagu ini. Nampaknya cukup menarik membahas Marsinah jika dikorelasikan dengan sosok Aisyah.


Aisyah RA merupakan sosok istri ketiga Rasulullah SAW dan merupakan putri dari Abu Bakar RA. Penulis tidak akan membahas profil pribadi Aisyah maupun romantismenya dengan Rasul lebih lanjut untuk mencegah pembaca sekalian berhalusinasi apalagi kawan kawan ikhwan pembaca yang sedang jomblo. Penulis juga tidak akan membahas membahas istri istri Rasul yang lain agar tidak memancing kawan kawan ikhwan pembaca yang telah menikah untuk tidak berpoligami, kasian yang jomblo.(Note*: Jomblo diartikan belum menikah)


Lanjut ke pembahasan mengenai Aisyah RA. Sebenarnya banyak hal yang dapat dipelajari dari Aisyah RA, walaupun dalam lirik lagu tersebut hanya menampakkan kesan romantisme terhadap Rasul. Tapi terlepas dari itu semua Aisyah adalah ummul mukminin yang dalam catatan sejarah pernah melakukan konsiladasi perang Jamal.Aisyah juga dikenal sebagai sosok wanita yang cerdas. Beliau dijadikan sebagai tempat bertanya baik itu hukum agama ataupun hukum pribadi secara umum.Hisyam bin Urwah meriwayatkan hadis dari ayahnya. Dia mengatakan: “Sungguh aku telah banyak belajar dari ‘Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih pandai daripada ‘Aisyah tentang ayat-ayat Alqur’an yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta pengobatan.”


Walaupun memiliki 2 kisah yang tidak sama antara Marsinah dan Aisyah. Marsinah sebagai Mawar Hitam yang Sirna karena ia gugur sebagai seorang pejuang hak hak atas dirinya dan orang lain. Sedangkan, Aisyah sebagai Mawar Merah yang Merdu karena namanya agung sebagai wanita hebat istri Rasulullah dan diagungkan melalui sebuah lirik lagu. Tapi kita dapat simpulkan bahwa hari ini kita butuh emansipasi wanita. Wanita saat ini bukan hanya menjadi istri-istri berdaster yang hanya dapat bersembunyi di balik dinding dapur suaminya. Zaman ini menuntut wanita menjadi lebih partisipatif dalam beberapa aspek kehidupan.