Fakir ‘Ilm & Moral Crisis

Kita ini hanyalah seorang fakir ‘ilm (Ilmu). Yang namanya fakir itu adalah orang-orang yang serba kekurangan. Karena merasa fakir, tentu ia akan selalu berusaha mencari dan mengisi amunisi untuk bertahan hidup.
Hidupnya seorang fakir ‘ilm itu, menaburkan benih-benih kebaikan dan kebermanfaatan bagi sekitar. Bukan malah menjadi beban, apalagi menjadi boneka bagi para penguasa. Seperti halnya berperang, menjadi sahabat kebajikan perlu amunisi. Amunisi itu adalah khazanah keilmuan. Tanpanya, kita sama saja terjun bebas dari ketinggian tebing tanpa pengaman sekalipun.


Untuk menjadikan dirinya bagian dari kaum rausyan fikr, sebagaimana yang dimaksudkan ali syariati sebagai pemikir yang tercerahkan atau kaum intelektual dalam arti yang sebenarnya, maka fakir ilm haruslah selalu merasa haus akan pengetahuan. 


Seringkali ia harus bertindak sebagai gelas yang kosong untuk mengisi ruang-ruang intelektualnya. 


Baginya, belajar itu unik. Cuitanya menganggap mengembara dalam cakrawala pengetahuan adalah seni perjalanan yang paling menyenangkan.


Tak heran fakir ‘ilm menjadikan ruang diskusi adalah candu. Hematnya, ilmu itu adalah objek yang harus dikaji agar mendatangkan kecakapan berpikir.


Kecongkakan intelektual adalah musuh yang nyata baginya. Makanya ia sangat senang dengan perbedaan dari kawan berpikirnya. 


Kebenaran dalam sistem pemikiran adalah mahkota istemewa fakir ‘ilm. Tak ayal cara berpikirnya mengedapankan asas rasionalitas.


Moralitas adalah bagian dari harga dirinya. Makanya, menidurkan akal dan membangunkan emosi bagian dari pertentangan batin dalam dirinya.
Kemestian identitas haruslah selalu ditonjolkan. fakir ‘ilm harus sadar dan merasa malu kepada pemilik sumber pengatahuan. Karenanya, khazanah keilmuan harus dibarengi dengan keimanan.


Keimanan akan semakian kuat dengan pengetahuan dan pengetahuan akan lebih berguna karena keimanan.


Keduanya dijelaskan di dalam Q.S Al-Mujadalah: 11. Dalam ayat ini kedua kata tersebut menggunakan konjungsi “dan” yang mengharuskan fakir ‘ilm memiliki keduanya. Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa barangsiapa diantara kamu beriman dan berilmu maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan keimanan dan keilmuannya itu.


Seorang fakir ‘ilm mesti paham kedua objek tersebut karena Islam adalah agama dengan ajaran yang bersifat komprehensif. Belajar, berpikir dan bertindak secara islami harus selalu dikedepankan. Hal ini tidak terlepas dari upaya untuk membendung krisis moral yang terjadi di bangsa ini.


Fenomena yang tak lagi asing bagi seluruh lapisan masyarakat seperti korupsi yang sampai detik ini menghantui singgasana pemerintahan, manjadi bukti betapa tidak bergunanya ilmu pengetahuan karena tidak dibarengi dengan keimanan. Belum lagi yang terbaru ketika kaum-kaum elit berusaha memanfaatkan situasi genting bangsa ini untuk berlomba-lomba mencari celah menyelamatkan kawannya, sementara rakyat sedang butuh uluran tangannya.


Semua berjalan rapi, melanggengkan misi ditengah kepanikan rakyat. Seolah menganggap rakyat sedang tertidur dan tak berdaya. Sungguh menyedihkan bukan? Orang-orang yang jelas-jelas menghancurkan negeri ini, mengambil hak yang bukan miliknya, tapi justru dicarikan jalan agar terbebas dari masa tahanan. 


Sungguh mereka sepertinya tidak tertarik mengasihi rakyatnya yang sedang sengsara menghadapi kerumitan bangsa ini. Lucunya lagi, mereka seolah tak pernah malu dengan bocah yang mengais pasir, mengais lumbung sampah hanya untuk menahan laparnya.  


Penulis pun turut prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Krisis moral terjadi dimana-mana, bukan hanya di kalangan para elit tapi juga telah sampai kepada masyarakat hingga lapisan terbawah.


Oleh karenanya, fakir ‘ilm marilah membantu bangsa ini membangun kembali kebobrokan moral. Dekadensi nilai-nilai spiritual dalam diri haruslah kembali diisi amunisinya. 


Kalian dipersiapkan bangsa sebagai garda terdepan untuk melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu. Berpikir dan bertindak secara islami haruslah dimulai dari diri sendiri.