Diri dan Kata

“Aku adalah puisimu yang getir tanpa sukma. Merenta dalam ucapan do’a. Hilang atau ada, namun antara keyakinan dan keraguan telah tertulis pada kitab Takdir oleh-Nya”.

Terlalu banyak puisi! tapi puisi adalah entitas yang berdiri sendiri, aktualisasi juga sesuatu yang lain. namun kedudukan tertinggi dari semua itu adalah puisi yang mengaktual, memahami dan mengenal entitas puisi hanya dapat dilalui dengan banyak membaca buku, lalu melihat diri sendiri, bicara pada “diri” sendiri.

Bakal keluar dan akan membimbingmu; sesuatu yang murni dan sederhana namun dahsyat bagi mereka yang membaca juga mendengar puisi kita. Mengapa anjuran membaca buku terlebih dulu baru kemudian berbisik (membaca) pada diri sendiri? karena puisi itu sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri.

Meng-artikulasi-kan semesta yang ada di dalam diri itu, kita butuh alat yg kita sebut bahasa, jutaan kosa kata yang kita buat sendiri menurut konvensi, adalah hanya cara kita untuk menyebut “ke-tak-terhingga-an” nama-nama yang ada di dalam semesta diri kita. Sedang yang ada di dalam diri kita itu bukan kita yang mencipta; Tuhan-lah yang mencipta, kita hanya butuh membahasakan kembali menuju ke luar diri kita. saat saya gerakkan jari, maka saya tidak sadar. Ia mengalir. sekali lagi, karena bukan diri saya (fisik) yang menulis. di dalam diri Saya-lah yang menulis saya.