Ijtihad Pembaruan Virus dan ‘Manusia Nilai’

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaikiNya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang mampu mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berpikir.” (Q.S. Al-Baqarah : 269)

Belum lama ini, COVID19 ditetapkan sebagai very high risk epidemic oleh WHO untuk seluruh dunia, hanya berselang dua bulan sejak pertama kali penyakit ini dilaporkan dari negeri Tirai Bambu, China. Atmosfir itu, hari ini sudah dirasakan di hampir seluruh belahan dunia.

Penyakit ini tergolong sangat infeksius. Selain karena transmisi antar-manusia yang lebih cocok dengan lingkungan sel-sel tubuh manusia, juga karena bahkan dalam masa inkubasi, yang artinya masa di mana virus sudah masuk ke dalam lingkungan internal tubuh tetapi belum menunjukkan manifestasi klinis atau gejala, sudah bisa menginfeksi orang lain.

Sebenarnya sudah diingatkan oleh pemilik perusahaan Apple inc., Bill Gates. Dalam satu kesempatan berbicara di video yang diunggah di TED, organisasi media dari Amerika khusus untuk daring, tahun 2015 silam, Bill Gates mengatakan “Jika ada sesuatu yang memungkinkan membunuh 10 juta jiwa dalam beberapa dekade ke depan adalah infeksi virus, bukan perang. Mikroba, bukan misil.” (Ini saya kutip dari tulisan di platform daring tirto.id yang berjudul “Bill Gates, Si Kaya yang Tak Pernah Lelah Mengingatkan Wabah.”)

Pada kondisi yang telah terjadi sekarang, semua elemen masyarakat dunia diuji. Mulai dari kemampuan bertahan individu, ketahanan negara dan luaran regulasi yang efektif, sampai kesadaran universal seluruh manusia di muka bumi. Wabah ini tak bisa dihindarkan menjadi pandemik global, mengingat tingkat mobilitas yang tinggi di era hari ini.

Tulisan ini bukan untuk mengulas teori konspirasi yang orang ramai diskusikan, salah satu alasannya sampai hari ini hasil penelitian ilmiah virus penyebab COVID19, atau lebih tepatnya SARS-COV-2, ini merupakan produk mutasi alamiah. Hasilnya menunjukkan di tingkat genetik, memang terjadi evolusi (perubahan) yang tidak ditemukan di virus sebelumnya, yang berarti virus ini ‘didesain’ oleh alam.

Kita, sekali lagi, diperlihatkan kedigdayaan mikroorganisme ciptaan Allah SWT yang mampu memporakporandakan tatanan kehidupan hari ini. Makhluk yang untuk melihatnya saja kita butuh menggunakan alat bernama mikroskop, saking kecilnya. Bagaimanapun, sebagai manusia apalagi mengaku beriman, indikator minimalnya adalah mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menjadi kehendak Tuhannya. (Q.S. 2 : 156)

Evolusi adalah perubahan secara bertahap. Evolusi yang terjadi pada virus ini boleh jadi adalah tuntutan alam sekitarnya untuk mampu bertahan hidup, Ijtihad virus ini dalam berevolusi cukup menjadikan manusia dengan fasilitas keilmuannya kerepotan sehingga butuh waktu untuk beradaptasi melawannnya. 

Ijtihad sendiri berarti bersungguh-sungguh, sepenuh hati, atau lebih gamblang Imam Al-Ghazali mengistilahkan sebagai pencurahan segala daya dan upaya, penumpahan segala kekuatan terhadap sesuatu yang sulit. Virus ini telah berijtihad menembus batas kesulitannya, seolah menegur kita, sudah sampai manakah kita hidup bersungguh-sungguh? Sudah sampai manakah diri kita memaksimalkan potensi sebagai seorang makhluk Allah SWT?

Seperti kata Ahmad Dahlan yang mengadopsi pikiran revolusioner yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah : pintu Ijtihad akan selalu terbuka sepanjang masa. Hanya dengan terbukanya pintu ijtihad inilah yang membuat eksistensi Islam akan terus relevan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Coraknya haruslah membawa kemajuan yang berarti mensyaratkan pembaruan.

Ijtihad harus didasari sense of humanity, untuk keberlangsungan kemanusiaan, sehingga dapat menjadi manusia nilai. Baik itu konsep ‘Intellectual Organic’ dari Barat oleh Antonio Gramsci, konsep ‘Insan Kamil’ oleh Ibn Arabi, hingga ‘Rausyan Fikr’-nya Ali Shariati, semuanya bermuara kepada kesadaran humanis, yang universal (kosmopolit). Gerakan itu minimal harus berangkat dari sekelompok kecil masyarakat (Q.S. 3 : 104), creative minority, guna mewujudkan masyarakat berkeadaban (civil society) atau dengan terma lain, masyarakat madani.

Jangan sampai kita kalah dalam berijtihad dengan virus dan menciptakan kiamat kita sendiri, ketika manusia dengan segala potensinya tidak mampu dioptimalkan sehingga kalah oleh ijtihad ‘mikro’organisme lain. Potensi itu jangan direduksi hanya sebatas rasio saja, tetapi cakupannya nurani, naluri, intuisi, dan imajinasi sehingga mandat intelegensia oleh Allah SWT yakni sebagai perwakilanNya di muka bumi, dapat ditunaikan.

Teriring doa dan harap, semoga badai pandemi ini segera berlalu dengan begitu banyak nilai yang bisa kita petik.

“Inilah dunia tempat kita bermukim sementara untuk kita perlihara bersama, bukan untuk ditaklukkan.” – Buya Ahmad Syafii Maarif