Ernest Hemingway, Corona Virus, dan Nyanyian Sepi Rumpun Bambu

Saya sedang menikmati malam, di tengah kebanyakan manusia seperti pekat yang hitam, ketakutan yang mendalam. Ketakutan pada makhluk Tuhan yang berbentuk kecil (untuk tidak membatasi makhluk Tuhan yang lebih kecil hingga yang terkecil), organisme yang disebut virus Corona.

Ernest Hemingway berkata kepada saya tetiba muncul dalam pikiran “Menjadi seorang manusia terhormat tidak ada kaitannya dengan aksen-gaya bicara, warna kulit, atau tentang kita memenangkan sesuatu. Tidak ada artinya mengalahkan atau melampaui orang lain karena menjadi dan hidup terhormat hanya dapat dilalui dengan sepenuh hati mengalahkan dan melampaui diri kita sendiri”.

Saya mau sedikit cerita tentang mesti berimbang-nya kita untuk sibukkan diri pada sesuatu. Dulu saya punya junior perempuan dekat sekali sama saya. Beliau seorang yang aktif berorganisasi, kegiatan, tugas, penelitian kiri-kanan, dan lain sebagainya yang saya pikir berapa waktu istrahat mesti ia alokasikan di tengah jam terbang rutinitas panjang dan melelahkan demikian. Sampai saya pernah bertemu dengannya untuk menyerahkan dokumen yang dia butuhkan waktu itu, di pagi hari tepat saat sedang embun mulai cair perlahan oleh matahari.

Dia sampai sepertinya tidak sempat banyak tidur (begadang), saya tahu dia telah berkegiatan panjang hari sehingga di pertemuan itu beliau belum sempat menyeka tahi mata dan bekas air liurnya yang jelas masih jika diingat.

Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar bahwa beliau masuk Rumah Sakit (R.S.) dengan hasil diagnosa pembekakan bagian gigi tertentu dan derita maag (barangkali akut). Saya tahu itu barangkali karena terlalu sibuknya dia dengan penelitian dan tetek-bengek tugas dan kerja-kerja yang berlebihan, hingga lupa pada pemenuhan kebutuhan dasarnya.

Suatu hari sebelumnya dia masih sempat berkabar chat dengan saya, mengabarkan kondisi dan informasi jika beliau sudah agak kembali sehat dan bakal keluar dari Rumah Sakit (R.S.) segera.

Ternyata Tuhan berkata lain sesuai usaha kita menentukan umur, beliau dinyatakan meninggal.

Pagi harinya saya dan teman melayat menuju kediamannya, kampung halamannya. Tangisan Ibundanya dan dua adik perempuannya. Perih saya rasakan desak-pukulan dada dan getar semesta mereka, seharusnya saya lebih awal menasihati atau bahkan sering berkabar untuk lebih ikut menentukan panjang umur dan takdirnya.

Tapi, memang sy sadar; Kematian bukan perihal hitungan angka, tapi tentang cenderamata aksi nyata dan karsa seorang manusia.

Beliau dikuburkan di liang kubur desanya yang sunyi, di kebun sepoi rimpun bambu yg bernyanyi. Oleh tabuhan hempasan angin di tiap hari.

Al-Fatihah.