Resensi Buku; Selasa Bersama Morrie

Judul : Selasa Bersama Morrie
Penulis : Mitch Albom
Penerjemah : Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Cetakan ke 10, Oktober 2016
Tebal : 207 Halaman

Dokter itu menemani Morrie dan Charlotte selama hampir dua jam, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sabar. Ketika akan pulang, dokter memberi mereka sejumlah informasi tentang ALS, dalam brosur-brosur kecil, seperti mereka akan membuka rekening bank.

Butuh waktu bagi Morrie untuk bisa berdamai dengan penyakit itu. Ketika saat itu tiba, saat ia sudah siap menghadapi kematian, terlontarlah kalimat ”Setiap orang tahu mereka akan mati, tapi tak seorang pun percaya itu bisa terjadi pada mereka dalam waktu dekat.”

Kemampuan untuk bersikap biasa dan postif ini akhirnya mendatangkan sebuah acara televisi terkenal di Amerika untuk mewawancarainya. Banyak orang terinspirasi, ia memperoleh banyak simpati. Bahkan ada yang menyebutnya nabi.

Mendengar kabar duka dari sang professor Mitch langsung terbang dari Michigan menuju Massachusetts untuk menemui professor.
Bagi Mitch, kesempatan kedua itu ada karena suatu keajaiban telah mempertemukannya kembali dengan Morrie pada bulan-bulan terakhir hidupnya. Keakraban yang segera hidup kembali di antara guru dan murid itu sekaligus menjadi sebuah “kuliah” akhir: kuliah tentang cara menjalani hidup.

Mitch Albom mengabadikan pertemuan demi pertemuan itu dalam novel Selasa Bersama Morrie. Sesungguhnyalah, Selasa selalu menjadi hari kebersamaan kami. Sewaktu aku bersiap untuk pergi, aku mengatakan keunikan ini kepada Morrie. “Kita ini manusia Selasa,”. Manusia selasa, ulangku. Morrie tersenyum.

Selasa Pertama. Tentang Dunia. Yang penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang. Layaknya perkataan sang Levinas, ”Cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional.”

Selasa Kedua. Tentang Mengasihi Diri Sendiri. Berilah kesempatan untuk menangisi diri sendiri. Setelah itu pusatkan perhatian kepada segala hal yang masih baik dalam hidup.

Selasa Ketiga. Tentang Penyesalan Diri. Kita begitu terbelit dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan diri sendiri, karir, keluarga, uang cukup banyak, melunasi hipotek, membeli mobil baru. Maka kita tidak terbiasa berdiam diri sejenak untuk merenungkan hidup. Untuk semua itu, kita memerlukan guru dalam hidup.

Selasa Keempat. Tentang Kematian. Sesungguhnya Mitch,” katanya, “begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus hidup.” Kita akan menjalani hidup secara berbeda dan fantastis.

Selasa Kelima. Tentang Keluarga. Sesungguhnyalah, selain keluarga, tidak ada fondasi, tidak ada landasan kokoh yang memungkinkan manusia bertahan sampai saat ini. Tidak harta. Tidak pula kemasyhuran. Tanpa dukungan, cinta, kasih sayang, dan perhatian, kita seperti tidak memiliki apapun. Seperti kata penyair besar Auden, “Saling mencintai, atau punah dari muka bumi.”

Selasa Keenam. Tentang Emosi. Mematikan perasaan dari semua pengalaman. Biarkanlah diri mengalami semua emosi, sampai sejauh-jauhnya. Rasakanlah secara penuh dan utuh. Kita tahu arti sakit. Kita tahu arti cinta. Kita tahu arti sedih. Dan ketika itu kita mengatakan, “Baiklah. Aku telah mengalami emosi itu. Aku kenal betul emosi itu. Sekarang aku perlu mematikan perasaan dari emosi itu untuk sementara.”

Selasa Ketujuh. Tentang Takut Menjadi Tua. Jika kalian terus bersikeras melawan proses penuaan, kalian akan selalu merasa tidak bahagia, karena bagaimanapun itu akan terjadi.

Selasa Kedelapan. Tentang Uang. Kita mendasarkan nilai-nilai kita pada hal-hal yang keliru. Dan ini mengakibatkan delusi yang sangat parah dalam hidup kita. Harta tidak pernah dapat menggantikan kasih sayang begitu pula kekuasaan.

Selasa Kesembilan. Tentang Cinta yang Tak Padam. Love is how you stay alive. “Pernahkah kau mendengar suaraku setibamu di rumah? Ketika kau sendirian? Mungkin ketika di pesawat? Atau mobil? Ya, jawabku. “Kalau begitu kau tidak akan melupakanku setelah aku pergi. Kenanglah suaraku, maka aku akan berada bersamamu.”

Selasa Kesepuluh. Tentang Perkawinan. Dalam perkawinan kita diuji. Kita mencari tahu siapa kita, siapa orang lain yang menjadi pasangan kita, mana yang harus kita sesuaikan, mana yang tidak.” Nilai-nilai yang kita anut harus sama. “Saling mencintai atau punah.”

Selasa Kesebelas. Tentang Budaya. Orang menjadi beringas ketika mereka merasa terancam. Dan kondisi itulah yang diciptakan oleh budaya kita selama ini. Cara mengatasi situasi ini bukan lari atau menghindar. Kita harus menciptakan budaya sendiri.

Selasa Kedua Belas. Tentang Maaf. “Tidak hanya orang lain yang perlu kita maafkan, Mitch,” akhirnya ia berbisik, “Kita juga harus memaafkan diri sendiri.” “Untuk segala sesuatu yang tidak kita kerjakan. Untuk segala sesuatu yang seharusnya telah kita kerjakan.”

Selasa Ketiga Belas. Tentang Hari yang Paling Baik. Kematian mengakhiri hidup, tetapi tidak mengakhiri suatu hubungan. Tidak ada rumus yang pasti untuk suatu hubungan. Morrie tersenyum. “Bukankah kau pun akhirnya kembali kepadaku?”

Selasa Keempat Belas. Kami Saling Mengucapkan Kata Perpisahan. Mitch meremas jemari Morrie, lalu memeluknya erat, hingga tak sadar air matanya mengalir. Bagi mereka, itulah cara terbaik mengucapkan selamat tinggal.

APABILA ANDA CUKUP BERUNTUNG DAPAT MENEMUKAN JALAN MENUJU GURU SEMACAM ITU, ANDA AKAN SELALU TAHU JALAN PULANG