Jangan Salah Menjadi Shalih

Kata shalihan dalam Quran selalu bergandengan dengan kata ‘amila (perbuatan), perbuatan sifatnya kuantitatif terukur dan dapat dilihat. Seseorang tak dapat mengaku baik jikalau kebaikannya tak dapat dibuktikan, sebagaimana orang tak dapat dinilai jahat bila tak ada tindakan kejahatannya, karena yang terpenting bukanlah pengakuan melainkan tindakan. Orang sekalipun tak memberi pengakuan tapi memiliki tindakan ia dapat dipercaya, sebaliknya orang yang mengaku tapi tak pernah bertindak maka pengakuannya adalah sebuah kebohongan. Lain halnya dengan iIman yang sifatnya kualitatif, yang bisa memahami kedalaman iman seseorang hanyalah orang itu sendiri dengan Tuhannya. Walau pada dasarnya amal sebagai representasi iman tapi seseorang tak dapat menjadikan tindakan (amal) seseorang sebagai parameter mengukur imannya, salah satu konsep Roland Barthes dalam menjelaskan mitologinya bahwa sesuatu yang kualitatif tak bisa dikuantitaskan atau kuantifikasi kualitas karena itu bukanlah ukurannya, kalaupun dipaksakan maka kualitas yang dikuantitaskan akan lahir sebagai mitos, dianggap sebagai kebenaran padahal tak dapat dibuktikan secara proporsional. Karena ada saja orang yang berkamuflase di hadapan banyak orang demi legitimasi sosial, tapi tidak juga dapat dikatakan beriman apabila orang tak mau beramal, kedua-duanya saling membuktikan diri antara satu sama lain.  

Dalam surah Al-Ma’un orang-orang yang shalat diancam fawailullil mushallin celaka orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai beribadah dengan kuantitas ingin dilihat dari banyak dan seringnya tapi mengaburkan kualitas hubungannya kepada Tuhan dan tak pula dibuktikan dengan amal shalih sebagai tindakan sosial. Selanjutnya adalah kata shalihan sebagai value dari tindakan, karena orang tidak terbatas dituntut beramal (berbuat) tapi harus dipastikan perbuatan itu adalah bernilai saleh. Karena tiga kata tersebut dalam Quran identik bergandengan Iman, dan amal shalih.  

Shalih itu seperti apa ? untuk menjawab ini memerlukan uraian panjang. Kalau kita membuka kembali perhelatan dunia islam klasik seputar ilmu kalam, kita akan diperkenalkan dengan islam gaya spekulatif seperti sibuk mendebat Tuhan, siapa yang masuk surga atupun neraka, siapa yang benar-benar islam dan kafir, jika diadopsi ke zaman sekarang ini, ummat akan berhujung pada corak beragama yang sektarian, kehilangan kualitas, menghabiskan energi dengan sibuk melabeli orang lain, lalu nimbrung berdasarkan kecenderungan, kalau demikian adanya agama akan kabur dari makna genetikanya, agama dari Tuhan untuk manusia, tapi oleh manusia ingin mengurusi Tuhan atas nama Agama.


Oleh tokoh-tokoh teolog muslim kontemporer mengkritik gaya berislam klasik, termasuk juga aliran sufisme yang pernah subur dalam dunia islam. Dalam jurnal yang diterbitkan Maarif institute untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah 2020 dengan tema Memperkuat Kembali Moderatisme Muhammadiyah, Nurbani Yusuf mengulas singkat tentang Membangun Tradisi Sufistik. Bahwa Muhammadiyah berjarak dengan tarekat karena memproduksi amalan Takhayul, bid’ah, khurafat sementara perjuangan Kiyai Dahlan adalah purifikasi atau memurnikan ajaran islam, sehingga muhammadiyah dikenal tak ramah dengan tradisi sufistik. Baginya gaya tersebut hanya melawan kemapanan tanpa tawaran model. Tapi bagi penulis disini jarak muhammadiyah dengan tradisi sufistik titik tekannya sekarang bukan lagi pada wilayah TBC, karena ummat sudah cukup dewasa dalam menyikapi itu. Hal ini akan sedikit terarah kalau kita melacak genealogi gagasan Kiyai Dahlan yang banyak dipengaruhi oleh tiga syaikh dengan Pan Islamismenya,


Jamaluddin Al-Afghani dengan Al-Urwah Al-Wustqa, di antara pikirannya ialah menekankan pentingnya melawan kolonialisme juga menolak paham jabariyah tentang ajaran yang fatalistik menganggap maju atau terbelakangnya islam sebagai takdir, Muhammad Abduh dengan Risalah Tauhid mengingatkan islam mahjubun bilmuslimin terbelakangnya islam karena ummatnya sendiri maka perlu pembaharuan dalam bidang pendidikan untuk mengembalikan izzul islam walmuslimin yaitu kehormatan islam dan ummatnya bisa dikembalikan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, dan dari Rasyid Ridha yang ditulisnya yaitu Tafsir Al-Manar sebagai kumpulan dari tulisan-tulisan gurunya Muhammad Abduh dengan yang mengajak ummat dari berfikir Teosentris ke Antroposentris, ia juga mengeritik sebagian paham sufisme yang dianggap menyimpang, seperti pasrah tanpa usaha.

Dari tiga syaikh tersebut, dapat dipahami kenapa gerakan yang dibawa Kiyai Dahlan agak berjarak dengan tradisi sufistik, selain dari adanya unsur TBC yang berhadapan dengan semangat purifikasi yang ditulis Nurbani Yusuf diatas, juga nampak keterkaitan pemikiran dengan adanya kecenderungan sebagian paham sufisme yang apatis terhadap dunia, menganggapnya sebagai ladang dosa dan harus dijauhi. Sehingga seseorang jika ingin menjadi shalih maka mau tidak mau harus menanggalkan dunia dan fokus hanya pada Tuhannya semata. Ini akan membawa kepada kesimpulan, semakin berjarak seseorang dari urusan duniawi maka semakin tinggi tingkat keshalihannya, sebaliknya semakin terpikat seseorang oleh dunia semakin jauh dari predikat hamba yang shalih. Hal ini akan membuat individu terjebak rajin dalam berdoa tapi tidak tekun dalam bekerja, ahirnya terwariskan secara genetik maupun kultur terhadap etos kerja orang indonesia, enggan bekerja-jadi pengangguran juga tidak mau, mau kaya tapi tak sabar menabung, mau hasil maksimal dengan usaha minimal maka koruplah titik finalnya. Wajar bila orang seperti Mayer Friedman mengatakan kita ini orang tipe B mereka Tipe A, mereka hidup untuk bekerja kita hidup untuk menikmatinya, lalu kamu hidup untuk apa ? Kita menjadi masyarakat dengan tingkat konsumtif yang tinggi tapi rendah dalam hal produksi. 

Hal tersebut sebagai dampak tidak langsung dari doktrin pasif tidak kritis dan malas berjuang. Jika pun ditindas oleh sebuah sistem maka akan dipandang sebagai sesuatu yang alami. Toh hidup penuh ujian, yang perlu dilakukan hanyalah sabar atas keadaan, katanya innallah ma’a sabirin Allah bersama orang-orang yang sabar. Bagi kalangan teolog islam kontemporer, doktrin seperti ini perlu dilakukan reinterpertasi pada banyak perbendaharaan kata yang menjadi dogma agama. Seperti kata ‘sabar’ tidak boleh dipahami dalam konteks menerima nasib, dizolimi. Tapi sabar harus dibawa pada ranah yang revolusioner, sabar dalam berjuang jangan gampang menyerah dengan keadaan, jika ada rasa letih sabarlah letih itu akan terbayarkan dengan hasil yang sepadan. ayat “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar” harus dipahami bahwa individulah yang mencegah perbuatan keji dan munkar itu lewat kesadaran shalatnya, bukan shalat yang mencegah dengan sendirinya karena shalat adalah perbuatan (objek) bukan pelaku.

Kalimat Tauhid Lailaha Illallah oleh Bang Imad disebutnya sebagai declaration of independen sebagai kalimat deklarasi kemerdekaan paling tinggi, kenapa bisa ? secara leterlik kalimat itu bermakna Tiada Tuhan Selain Allah, tapi kalau kalimat ini kita hayati maka letaknya tidak terbatas pada pengakuan kepada Allah melainkan ada konsekwensi konfrontatif yang dikandungnya. Sayyid Qutb berpandangan, orang Arab pada dasarnya sangat mengerti bahasa mereka sendiri, mustahil tidak, maka kata lailaha illallah bermakna tiada tuhan selain Tuhan itu sendiri, tak ada Status sosial, tradisi-budaya, kekuatan politik dan segala sesuatu yang layak dipertuhankan, lanjut apa yang dikatakan bang Imad persetan dengan tuhan-tuhan lain karena hanya Allah sebagai Tuhan. Semua makhluk oleh kalimat tauhid menjadi sama rata, yang membedakan mereka adalah ketaqwaan dan yang bisa mengukur itu hanyalah Tuhan, maka tak ada claim paling baik, paling mulia, paling takwa dengan simbol sebagai indikator manusia karena itu hak prerogatif Tuhan, tidak usah manusia sok-sok menjadi tuhan dengan sibuk menghakimi orang lain. 
Tidak terlalu penting kita claim of idea islam sebagai rahmatan lilalamin membawa cinta bagi semesta alam kalau perilaku ummat belum mencerminkan bahkan sering bertentangan dengan itu. Dunia akan menuntut mana buktinya ? Menjadi shalih bukan berhenti pada claim, hafalan teks-teks suci, melantunkan dzikir secara personal. Ketika keshalihan personal mendorong individu melakukan keshalihan sosial itulah keshalihan sejati. Itulah perjuangan para nabi sperti Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad mereka orang-orang shalih secara personal yang tidak lahir dari aristocrat, tapi lahir dan besar dengan rakyat untuk melawan segala bentuk penindasan sebagai wujud keshalihahn sosial. Dan Musuh perjuangan ialah mereka yang mengibarkan Panji Qabil (Dzalim) itulah Firaun, sekarang Firaun itu tidak ada tapi bendera Firaun selalu ada dan dikibarkan oleh penguasa yang korup, penindas, merasa benar, dan bendera Haman sekarang sebagai simbol ilmuan, teknokrat digunakan untuk mendukung tiran dengan melacurkan ilmu. Qarun sImbol hartawan, kapitalis, pemilik modal yang rakus, penghisap kekayaan massa. Bal’am simbol agamawan yg melegitimasi semua praksis ketidak adilan untuk pertahankan status quo semua itu adalah Qabil yang perlu dilawan oleh mereka yang mengaku Habil.

Apa yang terjadi jika semua ummat Bergama berpuas diri dengan keshalihan individual, asyik masyuk sendiri tapi diluar sana para penjarah dan eksploitasi merajalela, sikap seperti ini malah akan membenarkan hinaan Marks terhadap agama, sebagai candu dan mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Sifat dari candu membuat orang ketagihan tapi toh tak ada solusi yang hidup hanyalah angan-angan, dan manusia akan terasing dengan dirinya jika hanya merasa kecil, merasa hina, berlumuran dosa dan penuh penyesalan. Cara pandang demikian perlu didesain ulang, bahwa agama adalah kekuatan revolusioner, dan hal yang sangat wajar apabila orang-orang dengan kesadaran agama yang tinggi akan berhujung pada perjuangan, sensitiv terhadap situasi sosial sebagai bentuk perwujudan keimanan dengan keinginan memberi rasa aman. Karena iman dan aman terdiri dari satu kata, maka keduanya tak boleh bercerai ketika dalam tindakan. 

Wallahu Alam..