Rasa Takut Pilar Taqwa

Tidak Dapat dipungkiri jika semua pernah menjadi seorang yang selalu memiliki rasa takut yang sangat besar. Bahkan, jika dipersentasekan perasaan takut dengan perasaan lainnya, rasa takut pada manusia itu lebih besar dari perasaan yang lain. Mulai dari takut kehilangan, takut miskin, takut setan, sampai bahkan takut terhadap kematian.

Pada dasarnya, rasa takut itu diciptakan agar kita selalu menjadi orang yang waspada terhadap segala hal. Bukan malah menjadi seorang yang parno dan akhirnya tidak berani untuk melakukan apapun.

Salahsatu pilar ketakwaan seorang hamba ialah memiliki rasa takut kepada-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya QS. Ali Imran ayat 175 dan QS. Al Anfal ayat 2. Eitss, saya tidak akan menyebutkan isinyaa, Silahkan kalian cek sendiri dalam Al-Quran Sahabatku ;’) biar percaya sendiri kalian baca dengan mata kepala kalian :D.

Tapi Dapat diketahui Sahabat  di dalam ayat tersebut terdapat perintah wajib untuk memiliki rasa takut kepada  الله semata. Juga terdapat informasi bahwa rasa takut tersebut merupakan konsekuensi iman kepada-Nya. Oleh karenanya, kadar rasa takut seseorang kepada Allah tergantung pada kadar imannya kepada-Nya.

Eksisnya rasa takut kepada الله dalam hati seseorang mengindikasikan wujud dan benarnya keimanannya kepada الله, sedang nihilnya rasa takut tersebut menunjukkan hilangnya keimanan kepada Allah dari dalam hatinya.

Wallahu’alam

Ketika seseorang menjalin sebuah hubungan dengan seseorang. Rasa takut kehilangan, diduakan, atau apapun itu selalu saja menghantuinya pun muncul. Sampai akhirnya akal tidak berjalan dengan baik, dan rela melakukan hal apapun hanya karena rasa takut yang membodohi. Akhirnya, ia menjadi seorang ‘buciners’ abadi. Begitu juga tentang kematian, hal ini adalah hal yang pasti, Namun Tak dapat dipastikan waktunya. Tidak mungkin dipercepat atau juga terlambat datangnya. Tapi, jika kita ditanya siapkah kita untuk hal itu? Silahkan anda menjawabnya sendiri , dan beberapa dari kita mungkin timbul rasa takut mendengarnya. Sampai akhirnya, mencari-cari bagaimana cara untuk menghindarinya.

Seperti mendengar seseorang yang baru saja wafat karena serangan jantung. Karena begitu takutnya, mulailah ia searching tentang bagaimana menghindarinya, apa penyebabnya, dan sampai dokter ahli jantung pun ikut laris di media online dan televisi. Walaupun kita tahu, itu sudah caranya untuk pergi dan kita tidak pernah akan mampu berpaling dari kematian walau cuma satu hentakan napas. Yang harus kita lakukan adalah lebih menyiapkan diri dan waspada seandainya kematian itu hadir menemui kita.

Rasa takut pasti selalu ada dan seolah mengikat di setiap hal yang kita lakukan. Tetapi, cukup jadikan rasa takut itu membuat kita lebih waspada dalam menghadapinya. Bukan menjadikan kita seorang yang ‘lemah’. Sampai akhirnya enggan melakukan apapun karenanya.