Butuh Pundak

Jika sekarang aku berada di titik terendah, apakah benar pada saat itu semuanya akan terlihat hancur? Keluarga? Teman? Semua seakan telah berubah.

Satu kata itu terucap beberapa saat yang lalu membuatku teriris. Kutinggalkan semua audiens yang menjadi penonton tetap. Ingin marah? Tentu saja, namun kusadar dia adalah orang yang kuhormati.

Selama perjalanan pulang air mata tak bisa ku bendung, butiran air itu jatuh dengan sendirinya. Bukan maksud ingin pulang begitu cepat tanpa berpamitan secara baik-baik denganmu, sekali lagi pendirianku terkalahkan oleh egoku.

Kusadar ini adalah proses pendewasaan. Perjalanan yang kurasa begitu melelahkan. Boleh jujur, aku butuh pundak agar dapat menenggelamkan wajahku yang sedang menitihkan air mata tanpa bersuara. Tapi untuk saat cukup menjadi pendengar tanpa berkomentar, karena kuhanya butuh itu.