Kolera

Kampung Bambang hanyalah sebuah jalanan yang hanya dilalui orang-orang borjuis.hanya menjadi tempat singgahan orang-orang borjuis untuk buang air kecil saja. Begitulah bambang dari kecil dia hanya melihat pemimpin berlalu lalang tanpa peduli bahwa kampung bambang sangat tidak memungkinkan lagi untuk ditempati.


Bambang : inilah hidup kita mengikuti setapak demi setapak jejak para pendahulu kita, pemimpin kita hanya pintar mengeja tapi tak pernah menafsirkan.

Pemimpin 1 : sekuat apapun dirimu melawan.. minoritas akan takluk oleh kaum mayoritas hahaha

Pemimpin 2 : seberani apapun dirimu bambang kau tak akan bisa mengalahkan para borjuis itu


Begitulah bambang menghayalkan dirinya bisa ketemu dengan para pemimpin tetapi pemimpin di kampung bambang seperti mitos mereka sering dibicarakan tapi tak pernah terlihat dkampung bambang.

Bambang :Kita adalah angkatan mubazir yang diperanakkan oleh angkatan gagap. Apakah dunia itu seperti ini ada orang miskin, ada orang yang sederhana ada orang yang begitu kaya raya. Apakah tuhan benar-benar memberikan porsi yang tepat dalam hal keadilan. 


Proletar 1 : saya miskin dari awal.. Apakah ketika saya mati tuhan membuat saya kaya. 

Proletar 2 : saya dulunya kaya tapi saya bangkrut. Apakah ketika saya mati tuhan membantu saya mengembalikan harta saya

Proletar 3 : saya takut mati karena nantinya saya lebih sengsara. Saya tidak percaya tuhan, dia terlalu banyak memberikan iming-iming tetapi tidak pernah menepati janjinya. 

Proletar 4 : apakah ketika saya mati saya boleh memilih tidak di surga dan tidak Di neraka, bukankah tuhan selalu memberikan kita pilihan kan? 

 

seminggu yang lalu ayahnya meninggal akibat wabah penyakit kolera, Bambang tidak sedih akan hal ini karena jauh sebelum ayahnya meninggal dia sudah mengeluarkan kesedihannya. Penyakit kolera sudah menjadi penyakit turun temurun di kampung bambang. Bambang tidak peduli lagi dengan dirinya yang dia pedulikan adalah seorang perempuan yang tidak pernah berhenti dia cintai, yaitu istri pria lain… Ibunya.


Bambang : mencintai hidup adalah ketika kita belajar ikhlas tetapi siapakah didunia ini yang mampu menguasai keikhlasan itu? 

Ibu bambang : suamiku meninggal di waktu yang tepat, saya tidak mau melihat suami saya tertekan oleh penyakitnya. Biarkan suami saya meninggal bersama sakitnya. Agar sakitnya mengerti bahwa tak ada yang lebih berharga dari menghargai pengorbanan yang tulus. 

Kakak bambang : ayah saya meninggal dan saya menjadi tulang punggung keluarga, bagi saya itu hal yang sulit tetapi ini ujian agar kita tetap tabah dalam kemurungan. 

Adik bambang : ayah saya meninggal ketika saya mau masuk sekolah dasar tetapi uang masuk sekolah saya Dipakai untuk pembiayaan pemakaman ayah saya dan terpaksa saya tidak jadi sekolah. 

Bambang : saya dari kecii diajar untuk berjuang maka dari itu saya melamar pekerjaan dan menjadi koki di salah satu restoran pemilik borjuis. 


Ketika kaum borjuis menari-nari menggunakan uang dari hasil panen di kampung bambang. Bambang juga menari-nari setelah membunuh pemimpin setiap malam pada saat dia menjadi koki di salah satu tokoh makanan siap saji yang dimiliki kaum borjuis tersebut.


Bambang : kita bisa mendapatkan sesuatu ketika kita bersungguh-sungguh, maka pada saat itu alam semesta akan mendukung kita.


Permainan bambang tidak diketahui oleh siapapun karena bambang membunuh orang-orang secara perlahan tidak meracuni tapi membuat bumbu masakan yang efeknya bisa membunuh borjuis setelah satu minggu dia ke tokoh makanan itu.


Pemimpin 3 : jika kaum Proletar mempunyai keresahan bersama dan mereka duduk bersama untuk menyatukan presepsi mereka, maka kita perlu berjaga jaga.

Proletar 5 : kita mempunyai keresahan bersama tapi yang menjadi kendala kita terpola.

Bambang : kita mempunyai keresahan bersama tetapi jalan atau alur untuk menyelesaikan masalah berbeda beda.


Bambang belajar membunuh secara otodidak setelah merasakan kesakitan yang teramat dalam setelah adik-adiknya semua terbunuh dalam kasus sengketa. Bambang hanya mempunyai waktu bersedih dalam lima detik saja, setelah itu dia melanjutkan aksinya untuk balas dendam.


Bambang : barangkali Tuhan memberikan saya anugerah menjadi koki agar saya bisa membalaskan dendam adik-adik saya. Saya tidak butuh banyak waktu, penyakit kolera ada dihadapan saya sambil merentangkan tangan melihat garis tangan saya sudah berada diujung garis. Maka kematian sudah ada didepan mata saya bukan dibelakang tengkuk saya lagi.