Mimpi Lahir dari Pola Tidur Berbeda

Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah memiliki derajat yang sama. Manusia lahir di dunia memiliki kebutuhan biologis, diantaranya adalah tidur karena pada dasarnya manusia adalah makhluk Al-Bazar. Normalnya, manusia tidur pada malam hari selama tujuh sampai delapan jam sehari. Tetapi, hal itu berbeda denganku ketika tidurku berubah waktu, entah karena malas, sakit, atau yang lain.

Dalam dua pekan terakhir, diriku terombang-ambing dengan waktu tidur yang sangat tidak menentu karena tidurku berubah waktu yang mulanya normal sekarang berubah menjadi aneh. Ibuku sebagai makhluk mulia di bumi yang telah melahirkanku mengatakan, “Nak, jangan tidur larut malam, nanti badanmu capek di pagi hari. Oh iya, Nak. Jangan pula tidur di waktu matahari terbit dan matahari tenggelam karena kata nenek moyang tidak baik”.

Tak hanya Ibuku yang berkata demikian, Yatno juga mengatakan, “Bro, jangan tidur sore hari ya, nanti Kamu menjadi pelupa, dan jangan tidur di pagi hari ya, nanti susah dapat rezeki”.

Kata-kata yang diucapkan dari orang tua, saudara, teman, ataupun teman dekatku masih teringat di kepala seperti sebuah data flashdisk yang tidak akan pernah hilang kecuali dihapus. Tetapi, seakan-akan kata-kata itu menjadi terlupakan di awal bulan Januari 2020, mungkin karena mengalir di sungai.

Kebiasaan yang biasanya Kulakukan setiap harinya dengan produktif, kini beda menjadi seseorang yang super mager jika kata millennial. Kata-kata malas yang keluar dari mulutku menjadi kebiasaan dalam dua pekan itu seperti “Ah malas, mager kok, ngapain sih, enak tidur, ndak mau ah”, yang ku ucapkan menjadi kebiasaan buruk dan diriku menyadarinya tetapi enggan menjauhinya.

Dulunya Aku adalah seseorang yang menolak tidur di sore hari, kini terjebak dengan omong kosongku. Oleh karena itu, ada yang pernah mengatakan bahwa mulutmu adalah harimaumu. Berlarut-larut hariku, kini diriku mulai bernafsu untuk tidur di sore hari, entah karena godaan atau memang benar-benar penasaran. Kegiatan pada akhir bulan Desember membuat jasmani dan rohaniku berkorban untuk kesuksesan acara sampai selesai yang hingga akhirnya berimbas buruk kepadaku.

Pernah diriku mengatakan, “Jikalau Aku berjuang sendirian dan yang lain hanya santai, apakah tidak merugikan diriku sendiri. Toh, kan tidak ada subsidi dari siapapun hal yang diriku lakukan, jika sakit pasti akan dibiarkan seperti ikan yang sudah dimakan lalu dibuang”.

Imbas dari kegiatan yang sangat ideal adalah diriku runtuh seperti gunung yang longsor pada waktu hujan. Diriku tak kuat mempertahankan pondasi tubuhku dan akhirnya tumbang dengan ketidak sengajaan. Di suatu hari waktu sakit, diriku mulai sering tidur sore hari dan pagi hari sehingga seperti kelelawar yang di malam harinya tidak tidur dan melaksanakan segala kegiatan tanpa merasa kantuk. Hal itu kulakukan berhari-hari tanpa ada henti entah mungkin bisa dikatakan setiap hari.

Awal Januari telah menyapa, keinginanku untuk sembuh semakin menggebu-gebu dan meronta-ronta, ketika Bapak ingin pergi membeli gorengan, Ku katakana padanya, “Pak, tolong nanti kalau pulang pesenin pijat ya, badanku soalnya capek, Pak”, hingga akhirnya Bapak mengiyakan.

Seusai pulang, Bapak mengatakan bahwa pijatnya besok jam 9 pagi dan Aku mengatakan kesanggupanku untuk memenuhinya. Matahari telah terbit dan diriku enggan untuk bangun seperti ada yang memelukku, entah itu halusinasi atau tidak. Tubuhku sangat susah bergerak dan mataku tidak dapat membuka. Kupaksakan raga untuk bangkit dan akhirnya benar-benar bangun pada pukul 09.30 WIB. Diriku menolak untuk mandi tetapi hanya sikat gigi dan kemudian mendatangi tukang pijat.

Motor kunaiki untuk menuju ke tukang pijat dan hingga akhirnya diriku dikecewakan karena telah ada yang mendahuluiku pijat. Diriku tak menyerah, Kucari tukang pijat yang lain dan akhirnya bertemu.

Pijat kurasa nikmatnya hanya sebentar, yaitu satu setengah jam. Diriku berhusnudzon pada ragaku akan sembuh pada hari itu. Ternyata, sore hari diriku larut tidur lagi dan memimpikan sesuatu yang aneh sebagai bunga tidur.

Diriku mimpi berada di depan rumah yang dikelilingi oleh beberapa pohon besar bersama temanku. Tak lama diriku ngobrol bersama temanku, tiba-tiba diriku melihat pohon terbakar dan diriku mengatakan pada temanku, “Pak, lihat toh ada pohon yang terbakar, kalau dibiarkan pasti akan kebakaran semua ini”, dan temanku tak acuh dengan keadaan itu. Tak lama kemudian, kebakaran yang ku bayangkan tadi menjadi tampak sebagai realita dan benar semua terbakar.

Pohon-pohon dilahap habis oleh si jago merah dan ku melihat langit menjadi hitam serta angin menjadi lebat dan nampak olehku sebuah piring terbang bersinar. Hatiku menyempit dan diriku takut hingga akhirnya diriku memilih untuk memasuki rumah. Setelah masuk rumah, tiba-tiba terbakar juga rumahnya dan menjadi sangat menakutkan.

Melihat hal yang demikian, diriku mengingat orang tuaku yang belum ku mintai maaf dan diriku berkata, “Ya Allah, Jika diriku sampai sini saja, Aku ikhlas menerimanya. Tapi tolong, maafkan diriku, keluargaku, saudaraku, sahabatku, teman-temanku, dan orang yang menyayangiku”.

Sampai akhirnya tubuhku sangat panas dan Aku tengkurap. Disaat tengkurap, diriku berasa sangat panas dan tidak berada di tempat itu. Ternyata, diriku berada di tempat yang indah dan ditemani oleh sosok yang memakai tongkat. Tetapi, setiap diriku menginjakkan kaki ke tanah, panas yang dapat kurasakan, dinginpun tidak. Tempatnya sangat asri dan lautnya sangat indah tetapi hanya panas yang dapat kurasakan.

Berjalan di tempat yang kusebut asri tetapi panas, kumemohon lagi, “Ya Allah, berikanlah diriku air sedikit untuk mendinginkan tubuhku yang sangat panas ini”. Tak lama kemudian, datang sedikit air dari atas yang menetesi tubuhku tetapi hanya sebentar, setelah itu masih panas juga yang kurasakan.

Diriku entah sadar ataupun tidak masih tidak dapat terjawab karena bisa berbicara di alam asli dan masih pula terbawa di alam mimpi. Diriku berfikir, ini adalah balasan dari kenakalanku di dunia dahulu dan banyak mengabaikan kewajiban dari-NYa. Tak lama kemudian, Ibu membangunkanku untuk melaksanakan shalat maghrib dan diriku susah untuk membuka mata dan bangkit dari kasur. Tetapi, dengan paksaan Ibu akhirnya diriku mau bergerak.

Gelap gulita malam telah menunggu dan Aku bertemu pada seorang nenek dan bercerita tentang kisahku, beliau akhirnya menjawab, “Nak, coba periksakan ke dokter. Kemarin tetanggaku sering tidur pagi dan sore sedangkan malamnya jarang tidur, dia terkena diabetes”. Tak puas dengan jawaban nenek yang tidak dilandasi dengan bukti, diriku akhirnya memeriksakan keesokan harinya ke dokter dan menceritakan keluh kesah karena sering tidur sore dan pagi akhir-akhir itu.

Seorang Ibu berpakaian jubah putih mendatangiku dan membawa suntik dan keluarlah darah di jari tengahku. Hingga akhirnya, gulaku ternyata 129 dan menurutnya masih termasuk kategori normal. Sedangkan darahku, ternyata rendah karena memiliki angka 100 dan aku harus mencari cara untuk memulihkannya kembali.

Obat-obat Kutelan bersama air putih agar segera cepat larut ke perut dan meminimalisir kesakitan yang kuderita. Untuk mengatasi segala hal yang kualami selama sakit, tak lepas dari peran orang tuaku yang senantiasa melindungi dan menjagaku, terutama Ibu.

Kasih sayang beliau sangat kuat dan hanya diriku yang sangat malu mengungkapkan rasa cinta kepada orang tuaku. Tetapi, intinya diriku sayang mereka dengan jasmani dan rohaniku. Mimpi tadi, mengingatkanku pada kesalahan-kesalahanku dan memaksakan diriku untuk segera bertaubat agar senantiasa mendapatkan kenikmatan ketika sudah tercabut nyawaku.

Diriku yakin, Allah selalu menerima maafku karena Tuhan adalah maha pemaaf. Diriku hanyalah sekecil semut di dunia yang hanya mampu memohon dan mendekatkan diri kepada Allah agar senantiasa menjadi orang yang bertakwa karena semua orang di dunia adalah sama dan yang membedakan adalah tingkat ketakwaannya