Kesadaran Seremonial ke Kesadaran Kritis

Gaya, ekspresi, nilai, dan segala hal yang menjadi kebiasaan bahkan menjadi cara pandang individu atas hidup oleh Bordieu menyebutnya sebagai habitus yang berangkat dari proses Internalisasi Eksterior menyerap realitas eksternal menuju eksternalisasi interior lalu diwujudkan kembali dalam tindakan. Di balik tindakan manusia selalu berangkat dari dominasi yang dikuasai oleh kepentingan tertentu, apakah itu kepentingan kelompok maupun ideologi. Akibatnya pandangan suatu institusi yang berkuasa dinggap sebagai kebenaran yang harus diterima oleh yang dikuasai tanpa terjadinya pertukaran gagasan. Secara sadar atau tidak sadar itu adalah praktik penindasan dengan menggunakan simbol, bahasa, maupun institus. Namun tidak dirasakan sebagai penindasan melainkan sebagai sesuatu yang normal dan perlu dilakukan karena penindasan tersebut telah mendapat persetujuan dari pihak yang ditindas, maka jadilah mereka sebagai manusia kerumunan, tak apa hanyut asalkan ramai.


Tradisi terebut jelas bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk yang berkehendak. gagasan yang menganggap kenyataan sebagai takdir yang harus diterima adalah sama dengan tak ada gagasan apa-apa. lalu buat apa ada fikiran jika harus mematikan kreativitas. Selalu ada pertarungan antara lingkungan dan ego, oleh Muhammad Iqbal menyebutnya sebagai ketegangan yang selalu berdialektika. Apakah lingkungan yang menggempur ego hingga individu hilang terbawa arus, atauakah ego yang menaklukan lingkungan hingga ia dapat mendesain makna atas diri dan lingkungannya, untuk itu individu perlu menegaskan diri.


Satu-satunya kelompok yang memungkinkan melawan status quo adalah kaum muda, para mahasiswa, dan golongan cendekiawan yang selalu kritis melihat kondisi sosial budaya. Mereka adalah kaum yang terus melawan segala bentuk establishment, merekalah yang mampu melakukan the great refusal, penolakan besar-besaran. Golongan tua sulit mengemban tugas ini. Mereka yang telah mendedikasikan dirinya hanya untuk mencari biaya hidup tak akan mampu hidup eksis sebagai manusia, karena pikirannya tertelan oleh kebutuhan hingga tak ada kesempatan untuk mendesain living a human existence yaitu hidup dengan eksistensi humanitas. Sementara kelompok yang bekerja untuk humanitas dan equality, tak akan ragu mengorbankan materi demi perjuangan.


Namun kesadaran ini menjadi anomali, ketika kaum intelektual kehilangan daya di hadapan individualisme, apatisme, pragmatisme, dan feodalisme yang kini menjadi racun gerakan. Mereka yang diharapkan menjadi corong peradaban dari masa ke masa semakin kehilangan taring, lemah analisis dan cenderung manut. Akibatnya seolah tak ada perbedaan antara tim sukses parpol dengan aktivis idealis, kedua-duanya hampir melebur menjadi satu. Bukan berarti hal demikian harus dikutuk, itu juga adalah kebutuhan, entah demi self actualization seperti kata Maslow. ! Ada guyonan yang terkadang secara tidak langsung menjadi dewa yang sering terdengar “ Logika tanpa logistik itu anarkis”, idiom ini menanamkan mitos seolah orientasi gerakan bermuara kepada pemenuhan logistik, tak ada logistik tak ada gerakan. Namun ada hal yang harus diingat bahwa kolaborasi bukan berarti harus kehilangan independensi.


Lalu independensi seperti seperti apa yang perlu ditegaskan oleh kaum intelektual ? untuk menjawab ini, mari kita ambil pelajaran dari peristiwa isra’ mi’raj Nabi Muhammad Saw. Terjadi proses perjumpaan Liqa antara Ia dengan Tuhannya, itulah puncak kenikmatan. Untuk mengomentari ini, gaya pragmatis kita akan mengatakan “harusnya ia bisa memilih tinggal dan tak perlu kembali lagi ke bumi, toh ia merdeka bebas memilih” Walasaufa Yu’tika rabbuka fatarda apa yang engkau inginkan Tuhanmu akan berikan hingga hatimu senang Qs : 93 : 5, buat apa lagi ke dunia toh akan sengsara dalam berkonfrontasi terhadap masyarakat yang menolaknya, sementara puncak bagi semua pengharapan sudah ada didepan mata ? Tapi itu tidak Muhammad lakukan karena ia sadar tugasnya adalah diutus untuk menegakkan kemanusiaan.  


Pada hari ini para nabi telah tiada, namun tugas kenabian selalu ada pada pundak kaum intelektual (alim ulama). Al-Ulama Warasatul Anbiya’, yaitu orang-orang yang memiliki pengetahuan disebut sebagai pewaris misi kenabian yang dituntut untuk merealisasikan ilmu pengetahuannya. Maka independensi kaum intelektual adalah independensi para nabi, keluar dari status quo, tak luntur dengan godaan materi dan mau berjuang menegakkan kemanusiaan. walau pada dasarnya kita bukan nabi tapi kita diperintahkan untuk mencontohnya, karena memang ia diutus sebagai pemberi contoh Uswatun Hasanah.


Dalam praksisnya, kaum intelektual ini telah mengelompokkan diri dalam berbagai slogan, ada yang berhimpun atas nama independensi, entah apa karena. Ianya Independen yang bermakna merdeka dari segala kepentingan, tidak dipayungi secara struktural, atauk indpenden sebagai kebebasan berafiliasi dengan siapa saja asalkan lo kasi gue beri, wallahu Alam. Ada juga kelompok yang bergerak dan selalu berteriak atas nasionalisme harga mati, seolah yang tidak berteriak demikian tidak nasionalis, yang ini terasa aneh. Dan ada yang mengikat diri atas semangat menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan corak pembaharuan yang modernis, namun pembaharuan itu masih pada slogan. Lebih dari seratus tahun ke belakang gagasan itu memang sangatlah modern, tapi kalau sampai pada hari ini gagasan-gagasan pembaharuan itu kurang terperbaharui atau diperbaharui secara gagasan namun dalam prakteknya minus realisasi, itu malah nampak lebih tradisional dari pada mereka yang berslogan tradisional.


Modern pada dasarnya bermakna baru dan kekinian, Setelah abad ke 15 mulai terhitung sebagai peralihan klasik menuju modern sebagai jawaban terhadap Dark Age. Ditandai dengan hidupnya kesadaran kritis sebagai perlawanan atas dogmatisme agama, jika hari ini tradisi kritis itu hilang dan dogma itu berkuasa dengan cara yang lebih variatif, sama halnya kita kembali pada masa kegelapan.


Penegasan pertama, kaum intelektual perlu membangun kesadaran kritis tanpa kehilangan independensi, kedua, bahwa independensi intelektual adalah independensi para nabi yang berjuang demi kemanusiaan. Namun tugas kemanusiaan jika dibenturkan dengan realitas masih sangat jauh berjarak dengan peradaban hari ini, pada kenyataannya terjadi tragedi dehumanisasi, pembantaian besar-besaran di berbagai belahan dunia dengan dalil melawan terorisme dan radikalisme namun dengan tindakan teror yang lebih radikal, yang justeru terjadi inkonsistensi dalam pencegahannya. Tak ada dalil yang patut membenarkan itu. Moralitas ataupun humanisme bagi sebahagian populasi dunia masih terhenti pada sebatas ceramah, belum dapat mereka rasakan secara aktual.


Kesadaran kaum intelektual yang notabenenya terkonstruk atas doktrin religious kini dituntut untuk menunaikan misinya, menegakkan cinta kemanusiaan yang mulai redup demi terciptanya tatanan yang lebih baik. Yang membuat dunia ini bertahan adalah cinta. orang tua cinta pada anaknya, atasan cinta pada bawahannya, pemimpin cinta pada rakyatnya, Tuhan cinta pada makhluknya, seandainya seluruh cinta ini dibuang dari hati manusia maka punahlah peradaban semesta.