Surfing by The Soul

Beberapa tahun berlalu, tepatnya saya sudah lupa, saya sangat terinspirasi dengan film “SOUL SULFER”. Soul Sulfer adalah film drama dari Amerika Serikat tahun 2011 mengenai masa remaja peselancar Bethany Hamilton. Pada usia 13 tahun, Hamilton kehilangan lengan kirinya karena serangan ikan hiu.


Apa yang dialami Hamilton, tak sedikit di antara kita mengalami hal yang hampir mirip, kehidupan kita penuh dengan keterbatasan dan rintangan. Dalam melihat, mengalami dan merasakan keterbatasan dan rintangan, masing masing di antara kita memiliki sikap dan tindakan yang berbeda. 
Jiwa yang kuat, jiwa yang sehat akan senantiasa melihat keterbatasan dan rintangan dari perspektif positif dan optimisme. Justru itulah lagu kebangsaan kita menyampaikan pesan moral untuk lebih mengutamakan, mendahulukan membangun jiwa kemudian raga. 


Dalam pandangan saya orang orang yang memiliki jiwa yang sehat adalah orang-orang yang telah melakukan inner journey, intrapersonal relation. Telah mampu memahami siapa dirinya, bahkan paham akan potensi dirinya tanpa kecuali memahami posisi dirinya di alam semesta sebagai hasil daripada interpersonal relation dan God relation. 


Orang yang memiliki jiwa yang kuat dan sehat adalah orang orang yang melapisi jiwanya dengan baja yang kokoh yaitu rukun iman, terutama iman kepada Allah. Rukun iman bukan hanya menjadi bahan hapalan semata, memahami secara letterlek tetapi paham implikasi, implementasi dan signifikansinya dalam kehidupan profan, dunia. 


Bagi yang memiliki jiwa yang kuat dan sehat dalam pandangan saya, memiliki dua benteng pertahanan yang saya istilahkan sendiri yaitu benteng psiko-material-pragmatis, jiwanya dilandasi pada pertimbangan dan kerangka berpikir yang serba material, bernilai kebendaan dan bersifat nyata dan keduniawian semata. Ini terkadang bisa jebol. Benteng kedua adalah benteng psiko- religius- spritualistik. Jiwanya dilandasi pada nilai nilai dan spirit yang berasal dari ajaran kebenaran agama dan nilai-nilai spiritual:, keikhlasan, ketulusan, kesabaran, optimisme, keberanian dan tanpa kecuali tekad kuat. Ini adalah benteng diri yang kokoh. 


Kehidupan kita tentunya tidak terlepas dari sebuah problematika, namun jika kita mampu surfing of the soul, berselancar dengan jiwa maka hal itu, problematika akan menjadi peluang, akan menjadi penggemblengan diri, mengasah diri untuk semakin matang dan memiliki mental yang kokoh. Bagaikan bintang yang cemerlang karena ada kegelapan, diri kita semakin cemerlang dan matang dengan persoalan, keterbatasan dan rintangan yang mengitari dan mengiringi kehidupan terutama dalam perjuangan. 
Kita tidak bisa menghentikan ombak, tidak bisa menutup mulut orang lain untuk tidak mencaci, menghina, melemparkan hal pesimis. Namun bagi soul surfer, peselancar jiwa akan surfing by the soul. Mampu berselancar di atas ombak bahkan badai problematika kehidupan sekalipun. Para soul surfer akan mampu menutupi telinga terhadap hal hal yang sifatnya negatif. 


Soul Sulfer, orang orang yang senantiasa surfing by the soul, akan senantiasa menjadikan shalat dan sabar sebagai penolongnya. Senantiasa menyadari dan menghadirkan Allah dalam setiap niatan dan perjuangannya, tidak pernah takut, tetap tenang dalam menghadapi kebencian dan kedengkian. Baginya kebencian dan kedengkian dari orang lain bukanlah rintangan, bukan penyebab yang akan memutuskan rezeki dan merobohkan bangunan kesuksesan karena dalam pandangannya kebencian dan kedengkian orang orang bahkan meskipun dikumpulkan dari seluruh manusia dan makhluk di muka bumi ini itu bagaikan hanya setetes air dalam samudra kasih sayang dan kekuasaan Allah. Jadi bagi soul surfer, akan senantiasa tenang apapun bentuk rintangan yang dihadapi. 


Soul Sulfer sadar betul bahwa apapun yang ada pada dirinya, jangankan harta dan jabatan, nyawa sekalipun, Allah bisa mengambilnya kapan saja Allah menghendakinya. 
Meskipun berkumpul seluruh makhluk di muka bumi ini untuk mencelakai kita, tidak akan jatuh sehelai rambutpun jika Allah tidak mengizinkan. 


Soul Sulfer senantiasa surfing by the soul dan dalam jiwa dan hembusan nafas kehidupannya, Allah senantiasa hadir.